6 Perbedaan Soto dan Coto

Ragam kuliner di Indonesia begitu beragam, mulai dari hidangan nasi, daging, hidangan berkuah, sayur-sayuran, sambal, hingga kue tradisional. Berbagai macam kuliner Indonesia sangatlah menggugah selera, dan menjadi daya tarik bagi masyarakat luas bahkan wisatawan asing. Dari banyaknya kuliner yang tersebar luas di Indonesia, ada satu hal yang pasti; yaitu penggunaan rempah-rempah.

Rempah-rempah memberikan cita rasa yang lezat dan melengkapi setiap khazanah kuliner, begitu pula dengan hidangan berkuah seperti soto dan coto. Meski dari penamaan dan jenis, keduanya hampir mirip, yaitu sama-sama berupa hidangan berkuah, namun keduanya adalah hidangan yang berbeda jika ditelusuri lebih detail. Apa saja perbedaan soto dan coto? Simak selengkapnya di bawah ini.

Mengenal Soto

Soto merupakan makanan berkuah khas Indonesia yang terdiri dari kaldu daging dan sayuran. Hidangan khas ini tersebar luas di seluruh daerah di Indonesia dengan ragam tampilan, bahan, dan cara penyajian yang berbeda. Ragam varian soto di Indonesia termasuk soto Betawi, soto ayam, soto Semarang, soto Bandung, soto Madura, soto Kediri, soto babat, soto sekengkel, dan masih banyak lagi.

Apapun Bumbunya Tidak Pakai Pewarna

Daging yang digunakan bisa berupa apa pun, yang meliputi daging ayam dan sapi, ada pula yang menggunakan daging kambing, daging kuda, atau daging babi. Di setiap daerah di Indonesia juga menyajikan soto dengan cara yang berbeda, baik itu dinikmati dengan nasi, lontong, ketupat, mie, dan bihun, serta disajikan pula dengan pelengkap yaitu emping, kerupuk, perkedel, dan sambal. Soto biasanya dihias dengan taburan bawang goreng dan seledri, ada pula yang menambahkan koya.

Mengenal Coto

Coto mengacu pada hidangan berkuah, tepatnya hidangan tradisional Suku Makassar, Sulawesi Selatan. Disebut juga dengan coto Makassar atau Pallu coto mangkasarak, ini adalah hidangan yang terbuat dari daging sapi beserta bagian lainnya termasuk jeroan, lidah, otak, babat, jantung, paru, hati, limpa, dan lainnya.

Sajian coto Makassar konon menggunakan 40 macam rempah, yang disebut juga dengan Rampa patang pulo. Rempah-rempah tersebut terdiri dari rempah umbi-umbian, rempah dedaunan, rempah batang, rerimpangan, serta bahan lainnya termasuk asam, garam, gula, dan tauco. Coto Makassar biasanya disajikan dengan ketupat dari daun kelapa dan burasa, serta diberi tambahan kacang tanah, taburan bawang goreng, serta perasan jeruk nipis.

Perbedaan Soto dan Coto

Dari Segi Asal usul

Mengenai perbedaan pertama dari soto dan coto, kedua hidangan tersebut memiliki asal-usul yang berbeda. Untuk hidangan soto, banyak teori mengenai asal-usul soto. Konon, soto adalah makanan berkuah khas Indonesia yang mendapat pengaruh peranakan Tionghoa. Soto telah ada sejak awal abad ke-19. Kata soto sendiri merupakan serapan kata dari bahasa peranakan Tionghoa, yaitu Jao To atau Cau To, yang artinya makanan berkuah.

Makanan Jao To atau Cau To memiliki arti rerumputan jeroan atau jeroan berempah. Pada saat awal diperkenalkan kepada masyarakat luas, soto mulanya berbahan dasar jeroan. Namun, seiring berjalannya waktu dan dengan menyesuaikan selera masyarakat lokal, maka dibuatlah variasi bahan utama soto, mulai dari aneka daging, mi, bihun, dan tauge.

Berbeda dengan coto, yang merupakan hidangan khas Makassar, Sulawesi Selatan. Coto Makassar diperkirakan telah ada sejak abad ke-16, yang pada saat itu, terdapat Kerajaan Gowa, yang terletak di Sombaopu, wilayah selatan Makassar. Pada awalnya, coto Makassar dihidangkan oleh keluarga kerajaan beserta bangsawan dalam istana, yang menggunakan bagian daging sapi yaitu tenderloin dan sirloin sebagai isiannya.

Di sisi lain, masyarakat kelas bawah atau abdi dalem pengikut kerajaan, hanya menyantap jeroan sapi sebagai isian coto Makassar. Meski demikian, sajian coto Makassar saat ini bisa dinikmati oleh siapa pun tanpa memandang kasta, dan dengan beragam isian yang berbeda, mulai dari potongan daging sapi, jantung, paru, babat, lidah, dan sebagainya.

Dari Segi Warna Kuah

Perbedaan mencolok dari soto dan coto yang bisa langsung dilihat adalah warna kuah. Secara umum, kuah soto berwarna agak kekuningan atau bening. Kuah soto yang berwarna bening terbuat dari rebusan kaldu tulang sapi atau ayam dan dimasak dengan rempah-rempah. Namun, warna kuah soto Betawi memiliki warna yang dominan putih kecokelatan berkat penggunaan santan dan susu. Ada pula Tauto Pekalongan yang merupakan varian soto khas Pekalongan yang berwarna kemerahan karena menggunakan kuah tauco.

Sementara itu, warna kuah coto menampilkan perbedaan mencolok, yaitu berwarna cenderung gelap karena biasanya ditambahkan kacang tanah, tauco, dan rempah-rempah, sehingga tampilannya lebih mirip dengan rawon. Dengan demikian, ini merupakan perbedaan yang paling jelas terlihat dalam membedakan soto dan coto.

Dari Segi Penggunaan Rempah

Penggunaan rempah juga bisa menjadi perbedaan dari kedua jenis hidangan tersebut. Pertama, kuah soto dimasak dengan tulang sapi atau ayam, sehingga menghasilkan kuah kaldu dengan rasa yang lezat. Soto juga menggunakan rempah-rempah seperti bawang putih, daun salam, daun jeruk, jahe, kemiri, dan kunyit.

Sementara itu, kuah coto dibuat dengan banyak jenis rempah-rempah, yang konon terdiri dari 40 macam rempah. Rempah yang digunakan termasuk asam, bawang putih, bawang merah, cabai, cengkeh, daun bawang, daun bawang prei, daun jeruk purut, daun kunyit, daun salam, daun serai, daun seledri, fuli, garam, gula, jintan, jahe, ketumbar, kemiri, kayu manis, lada, lengkuas, pala, kacang tanah, dan tauco. Seluruh bumbu tersebut menciptakan rasa yang gurih pada hidangan coto Makassar, dan dengan kacang tanah serta tauco yang memberikan warna gelap pada hidangan.

Dari Segi Isian

Perbedaan soto dan coto selanjutnya adalah berdasarkan isian yang digunakan. Umumnya, isian soto terdiri dari ayam suwir, potongan daging sapi, tauge, mi, bihun, kubis, serta perasan jeruk nipis. Beberapa soto juga kerap menggunakan koya sebagai isian soto. Hidangan khas ini juga biasanya menggunakan telur rebus sebagai isiannya.

Berbeda dengan coto, isiannya bisa berupa apa pun. Dengan kata lain, berbagai potongan daging, jeroan jantung, limpa, babat, hati, dan paru juga umum disertakan. Selain itu, coto Makassar juga biasanya ditambahkan dengan kuning telur mentah sesuai permintaan konsumen. Berbeda dengan soto yang menggunakan telur rebus. Telur kuning mentah juga menjadikan rasa coto menjadi lebih legit.

Dari Segi Aroma Kuah

Perbedaan dari segi aroma kuah mungkin bukan sesuatu yang langsung disadari ketika menyantap soto atau coto, karena keduanya sama-sama memiliki aroma yang begitu menggugah selera, yang membuat setiap orang ingin langsung menyantapnya. Namun, aroma kuah dari soto dan coto juga membuat perbedaan di antara kedua hidangan tersebut.

Masak Enak Jadi Mudah

Pada dasarnya, soto seringkali disajikan dengan perasan jeruk nipis, sehingga aroma kuahnya menjadi lebih segar. Di samping itu, coto memiliki aroma yang lebih gurih dan tajam. Hal ini dikarenakan penggunaan bumbu dan rempah yang begitu banyak dalam pembuatan kuahnya.

Dari Segi Jenis

Soto merupakan hidangan berkuah yang tersebar luas hingga ke seluruh Nusantara, yang dibuat berdasarkan ciri khas dari daerah asalnya, dan hampir setiap daerah memiliki sajian sotonya sendiri, sehingga di mana pun Anda berada, hidangan berkuah yang khas ini sangat mudah ditemukan. Di antara jenis-jenis soto termasuk soto Betawi, soto Madura, soto Banjar, soto Medan, soto bening Solo, soto Semarang, soto Kudus, soto Padang, soto Jepara, soto ayam, soto babat, soto kambing, dan masih banyak lagi. Namun, jenis coto hanya ada satu, yaitu Coto Makassar, yang bisa ditemukan di daerah asalnya.

Cara Penyajian

Cara penyajian soto dan coto juga berbeda, dan keduanya melengkapi hidangan tersebut. Pasalnya, soto lebih umum disajikan dengan nasi putih hangat, baik itu secara terpisah maupun dicampur ke dalam mangkuk soto. Sementara coto Makassar biasanya dinikmati dengan ketupat dari daun kelapa atau buras, yakni sejenis ketupat dalam balutan daun pisang khas Sulawesi Selatan.

Soto dan coto merupakan dua jenis hidangan yang berbeda, meskipun keduanya adalah makanan berkuah khas Indonesia. Perbedaan keduanya dapat ditelusuri melalui asal-usul, tampilan warna kuah, bumbu, isian, hingga cara penyajian. Akan tetapi, masing-masing hidangan tersebut memiliki daya tarik dan kelezatan tersendiri yang unik bagi masyarakat dan bahkan wisatawan asing. Itulah perbedaan soto dan coto, apakah Anda menyukai hidangan berkuah nan lezat tersebut? Dapatkan Bumbu Soto Ayam dan Bumbu Soto Betawi di Cairo Food untuk memudahkan Anda dalam membuat sajian ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *