Biji Chia vs Biji Selasih, Ini 5 Perbedaannya

Biji chia sering kali disamakan dengan biji selasih. Dua rempah yang identik ini memang memiliki bentuk yang mirip dan sama-sama juga akan mengembang jika direndam dalam air. Kedua jenis biji-bijian ini juga menawarkan manfaat kesehatan yang melimpah. Faktanya, biji chia dan biji selasih cukup berbeda. Di Indonesia sendiri, biji selasih lebih umum digunakan sebagai campuran minuman, takjil, atau minuman es. Sementara biji chia lebih sering digunakan sebagai campuran makanan barat.

Biji Chia

Biji chia atau chia seed adalah jenis biji-bijian kecil yang berasal dari tanaman Salvia hispanica L. Tanaman ini umumnya tumbuh di Meksiko dan negara Amerika Selatan lainnya. Akan tetapi liberalisasi perdagangan sudah membuat biji chia masuk ke berbagai negara di dunia termasuk di Indonesia. Biji chia adalah salah satu bahan makanan organik yang banyak disukai karena memberi sensasi lezat dan sehat dalam makanan maupun minuman.

Meskipun rasa dari biji chia cenderung hambar, namun jika biji chia dicampur ke dalam makanan dan minuman seperti sup, salad, oatmeal, jus buah, smoothies dan yoghurt, maka rasanya akan menyatu dengan rasa  makanan.

Biji chia bersifat kering namun jika dikunyah langsung maka akan terasa renyah. Beberapa orang juga menggunakannya tanpa perlu terlebih dahulu merendam bijinya di dalam cairan selama beberapa menit.

Kandungan nutrisi dari biji chia membuat biji-bijian kecil ini menawarkan sejumlah manfaat bagi kesehatan. Kandungan antioksidan di dalam biji chia termasuk asam klorogenik, asam caffeic, quercetin dan kaempferol dapat membantu meminimalisir penyakit kanker dan penyakit jantung.

Lebih lanjut, biji chia juga diyakini memiliki dampak positif untuk membantu menurunkan berat badan. Alasannya, biji chia akan mengembang ketika di dalam perut sehingga membuatnya bertahan lebih lama sebelum diproses dalam pencernaan.

Tak hanya itu, biji chia juga kaya akan serat tak larut yang membuat seseorang akan merasakan kenyang yang lebih lama. Banyak juga yang meyakini bahwa kandungan protein dan mineral pada biji chia yang dikonsumsi sehari-hari berdampak baik untuk menjaga kesehatan tulang dan mencegah osteoporosis.

Sementara dalam sistem pencernaan, biji chia juga baik untuk penderita sembelit akut. Hal ini dikarenakan biji chia mengandung serat yang tinggi sehingga melancarkan gerakan usus dan mencegah seseorang mengalami sembelit.

Biji chia memiliki warna yang bervariasi dengan ukuran sekitar 1-2 mm. Biji chia bisa didapatkan di supermarket maupun toko online yang menjual bahan makanan sehat dan rempah-rempah. Biji chia yang dikonsumsi sehari-hari dianjurkan sebanyak 28 gram atau 2 sendok makan saja, khususnya untuk seseorang yang belum pernah mencobanya.

Meskipun biji ini bebas gluten dan pengawet, namun biji chia harus digunakan dalam takaran yang pas untuk memastikan tubuh bisa menolerirnya. Sama seperti biji-bijian lain, biji chia juga mungkin menyebabkan alergi seperti layaknya alergi terhadap makanan lain. Selain itu, usahakan anda tetap terhidrasi ketika mengonsumsi biji chia. Alasannya, biji ini dapat meningkatkan rasa haus terutama pasca direndam selama 5-10 menit.

Biji Selasih

Biji selasih berasal dari tanaman selasih. Biji selasih memiliki tekstur yang kenyal dan sekilas terlihat seperti telur katak bila dicampurkan pada air. Biji selasih terlihat mirip dengan biji wijen namun warnanya lebih hitam. Ini sering disebut juga dengan biji sabja atau tukmaria.

Selasih dalam bahasa Inggris dikenal sebagai basil yang menjadi tanaman herbal, tanaman penghasil pestisida nabati, penghasil minyak atsiri, sayuran, maupun sebagai bahan dari minuman penyegar. Meskipun biji selasih memiliki tanaman yang mirip dengan kemangi karena berasal dari keluarga yang sama, namun dua tanaman ini berbeda spesies.

Tanaman selasih berasal dari wilayah Asia seperti India maupun negara-negara Asia Tenggara. Saat ini tanaman selasih juga tumbuh di wilayah Eropa. Biji selasih sering kali dijadikan sebagai campuran minuman dingin. Namun, biji selasih bukan hanya pelengkap atau hiasan dari minuman, karena sebenarnya biji ini sudah lama digunakan dalam pengobatan tradisional Cina dan Ayurveda.

Beberapa manfaat yang dihasilkan berasal dari kandungan antioksidan seperti polifenol dan flavonoid yang dapat mencegah kerusakan sel dari radikal bebas. Secara khusus flavonoid bisa dimanfaatkan untuk mencegah berbagai jenis kanker. Antioksidan yang signifikan dalam biji selasih juga dikaitkan sebagai bahan yang baik untuk meningkatkan mood atau meredakan rasa cemas.

Manfaat tersebut didapatkan jika mengonsumsi biji selasih secara rutin. Uniknya kandungan biji selasih yang kaya akan zat besi juga diyakini dapat menyuburkan rambut. Oleh sebab itu mengonsumsi biji selasih ampuh untuk merangsang pertumbuhan rambut. Hal ini dilakukan dengan meningkatkan sirkulasi darah ke kulit kepala.

Perbedaan Biji Chia Dan Biji Selasih

Setelah memahami apa itu biji chia dan biji selasih maka untuk lebih memudahkan, berikut 5 poin yang membedakan kedua jenis biji ini.

Bentuk Dan Warna

Jika dilihat secara saksama, biji chia dan biji selasih memiliki warna dan bentuk yang berbeda. Warna biji chia adalah campuran dari abu-abu, coklat, putih, dan hitam. Bentuk bijinya juga oval dan sedikit lebih besar dibandingkan biji selasih. Sementara biji selasih hanya memiliki satu warna yaitu warna hitam. Bentuknya bulat dengan ukuran yang lebih kecil dibandingkan biji chia. Biji selasih sering disebut sangat mirip dengan bentuk biji beras.

Cara Mengonsumsi

Biji chia dan biji selasih adalah dua jenis biji-bijian yang mirip namun cara mengonsumsi dan kegunaannya di dalam makanan atau minuman cukup berbeda. Biji chia biasanya langsung dimakan mentah layaknya biji wijen yang dicampurkan dalam makanan.

Biji chia sangat umum digunakan dalam smoothie bowl, salad, yoghurt, dan pudding. Meski begitu tidak menutup kemungkinan bahwa biji chia dapat direndam terlebih dahulu untuk menambah kelezatan. Biasanya biji ini direndam dalam air atau susu hingga mengembang seperti chia pudding.

Di lain sisi, biji selasih tidak dapat dikonsumsi dalam keadaan mentah. Biji ini harus direndam terlebih dahulu di dalam air bersih untuk membuatnya mengembang dan berselaput. Biji ini cukup cepat menyerap air sehingga proses perendamannya tidak terlalu lama. Jika biji chia memerlukan waktu sekitar 30-40 menit untuk direndam, biji selasih dapat direndam hanya selama 15 menit hingga lapisan seperti gel abu-abu disekitar bijinya akan keluar.

Kandungan Nutrisi

Dalam 100 gram biji chia mengandung:

  • Air: 6.96 gram
  • Energi: 534 kcal
  • Protein: 18.29 gram
  • Lemak: 42.16 gram
  • Serat: 27.3 gram
  • Kalsium 255 miligram (mg)
  • Zat besi: 5.73 mg
  • Magnesium: 392 mg
  • Fosfor: 642 mg
  • Kalium: 813 mg
  • Natrium: 30 mg
  • Seng: 4.34 mg
  • Tembaga: 1.22 mg
  • Selenium: 25.4 mikrogram
  • Asam askorbat (Vitamin C): 0.6 mg
  • Riboflavin (Vitamin B2): 0.161 mg
  • Niasin (Vitamin B3): 3.08 mg
  • Vitamin B6: 0.473
  • Folat: 87 mikrogram

Sementara untuk takaran yang sama, biji selasih mengandung:

  • Protein: 4 g
  • Lemak: 0,5 g
  • Karbohidrat: 10,5 g
  • Serat: 5,3 g
  • Kalsium: 122 mg
  • Fosfor: 16 mg
  • Besi: 13,9 mg
  • Natrium: 3 mg
  • Kalium: 259 mg
  • Tembaga: 0,4 mg
  • Seng: 0,7 mg
  • Beta-karoten: 4,112 mcg
  • Tiamin (Vitamin B1): 0,5 mg
  • Riboflavin (vitamin B2): 0,1 mg
  • Niasin: 0,2 mg
  • Vitamin C: 24 mg.

Asal Tanaman

Meskipun sama-sama tergolong sebagai biji dari keluarga yang sama, namun secara lebih spesifik keduanya berasal dari tanaman yang berbeda. Biji chia berasal dari tanaman mint Salvia hispanica di wilayah Amerika Selatan.

Sementara biji selasih diperoleh dari tanaman basil yang memiliki nama ilmiah Ocimum basillicum. Lebih tepatnya biji selasih didapatkan dari bagian bunganya.  Berikutnya, tanaman selasih juga tidak tumbuh di wilayah Amerika Selatan, melainkan tumbuh subur di wilayah India dan sekitar Mediterania. Tanaman selasih juga bila diperhatikan justru lebih mirip dengan tanaman kemangi dibandingkan tanaman biji chia.

Rasa

Biji chia memiliki rasa yang lebih ringan, hanya sedikit rasa kacang atau umumnya justru terasa hambar. Hal ini membuat biji chia cocok digunakan dalam masakan manis maupun yang gurih. Rasa dari biji chia menyatu dengan baik di dalam masakan karena rasanya yang tidak menonjol.

Sedangkan biji selasih memiliki rasa yang lebih kuat meskipun tidak seintens rempah-rempah lainnya. Rasa biji selasih mirip seperti rasa kemangi namun lebih lembut. Oleh sebab itu, biji selasih lebih umum dicampurkan pada makanan dan minuman untuk memberikan efek menyegarkan.

Mana Yang Lebih Baik?

Dari kandungan nutrisi di atas, maka diketahui bahwa keduanya memiliki kandungan gizi yang melimpah. Dengan demikian biji chia dan biji selasih sama-sama baik untuk dikonsumsi. Biji chia mungkin mengandung antioksidan, serat, kalsium, protein yang dapat menjaga kesehatan.

Kandungan ini terutama dapat membantu mengontrol tekanan darah dan gula darah. Sementara biji selasih lebih rendah omega-3, namun lebih kaya serat dan zat besi. Biji selasih juga secara khusus memiliki fungsi sebagai diuretik bagi pencernaan. Lebih lanjut, kandungan zat besi dalam biji selasih sangat berguna untuk meningkatkan hemoglobin darah.

Dengan demikian, kedua jenis biji-bijian ini sama-sama memiliki manfaat yang baik untuk kesehatan, tergantung bagaimana masing-masing orang mengolahnya. Keduanya juga baik dikonsumsi bagi orang yang sedang melakukan diet, karena kedua biji-bijian ini mengandung serat yang tinggi sehingga membantu menghindari kebiasaan ngemil sepanjang hari.

Promo Diskon Cairo Food

Dalam rangka mendapatkan manfaat maksimal dari biji chia atau biji selasih, seseorang harus juga memperhatikan pola makan dan gizi yang seimbang. Ingat pula, mengonsumsi biji-bijian tersebut mungkin menimbulkan efek samping bagi pencernaan seperti kembung, diare, refluks asam, kehilangan nafsu makan, dan gangguan pencernaan lain. Mengonsumsi biji selasih yang berlebihan bahkan bisa menyebabkan jerawat dan sakit kepala. Sementara mengonsumsi terlalu banyak biji chia justru akan memicu tekanan darah rendah dan alergi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *