Sejarah Dan Fakta Bubble Tea Atau Boba

Bubble tea merujuk pada minuman milk tea yang diberi bubble, boba, atau disebut juga pearl. Kehadiran boba menjadi kehebohan tersendiri bagi masyarakat dunia, termasuk di Indonesia. Tak heran minuman ini memiliki banyak “penggemar” setianya. Dibalik kepopuleran bubble tea, ternyata minuman ini memiliki sejarah yang cukup menarik yang wajib diketahui bagi penikmat boba yang manis dan kenyal ini.

Berasal Dari Taiwan

Kehadiran boba sudah ada sejak 1987. Hal ini terungkap dalam sebuah artikel berjudul History of Bubble Tea: How Boba, Born of Staff Competition in Taiwan, Became A Global Phenomenon. Budaya minum bubble tea ini paling populer di kota Taipei. Di kota tersebut teh yang di campur susu atau milk tea telah menjadi minuman yang banyak disukai.

Pada saat itu, milk tea disajikan dalam keadaan dingin yakni dilapisi es serut. Hal ini semacam revolusi dalam sejarah teh China, karena disajikan dalam keadaan dingin sehingga dianggap out of teh box dari penyajian teh tradisional yang hangat.

Namun ternyata minuman dingin ini disukai kalangan anak muda dan menjadi favorit bagi beberapa orang. Konon, tea house bernama Chen Shui Tang adalah tempat pertama yang memperkenalkan minuman bubble tea. Ini menjadi awalan di mana orang-orang mulai menikmati teh dengan cara yang berbeda (disajikan dengan es).

Hasil Kompetisi Para Staff

Awalnya milk tea yang dibuat oleh tea house Chen Shui Tang berfokus pada milk tea dingin yang menggunakan teh oolong berkualitas. Namun pendirinya yang bernama Liu Hanchien mengadakan kompetisi di antara para staffnya. Kompetisi tersebut “memaksa” karyawan Liu untuk menciptakan penemuan kreatif.

Hasilnya manager tea house yang bernama Lin Hsiu-hui menambahkan dessert favoritnya yaitu fen yuan (bola tapioka). Lin bahkan langsung menguji coba pemberian bola tapioka ini ke dalam milk tea untuk disajikan pada pelanggan. Setelah seminggu, menjual  milk tea yang ditambahkan fen yuan, barulah Lin memberitahukan penemuan ini kepada pemiliknya, Liu.

Setelah Liu setuju dengan ide kreatif ini, akhirnya mereka sama-sama mencari ide untuk mengganti nama fen yuan dengan kata yang lebih baik. Hingga terciptalah istilah black pearl atau mutiara hitam, yang merujuk pada boba yang kita kenal sekarang.

Produksi Bubble Tea

Sejak penemuan boba pada bubble tea pada tahun 1987, produksi boba mulai dijadikan bahan utama bagi tea house milik Liu. Boba yang awalnya hanya dibuat sedikit dan disajikan untuk pelanggan-pelanggan tertentu, namun sejak dinamakan black pearl peminatnya semakin banyak.

Alhasil Liu kemudian memikirkan bagaimana caranya memproduksi boba yang bagus dan tidak lengket satu sama lain. Boba harus dibuat dengan kekenyalan yang pas agar tidak lengket satu sama lain saat ditaruh dalam cup milk tea. Boba juga tidak boleh terlalu keras karena akan menyulitkan untuk dikunyah.

Untuk boba dengan tekstur yang sempurna disebut dengan QQ, yang artinya kenyal dari bahasa China. Sejak saat itu, boba dari bola-bola tapioka mulai disiapkan juga dalam keadaan kering lalu cukup direbus selama 30 menit, sebelum dicampurkan pada milk tea.

Boba Pertama Di Indonesia

Bubble tea pertama kali di Indonesia muncul di Plaza Indonesia, Jakarta. Di bawah naungan brand Quickly, bubble tea menjadi populer dan disukai masyarakat Indonesia. Sejak pembukaan pertama pada tahun 2000 hingga saat ini, bubble tea menjadi minuman manis yang menyegarkan dan cocok dengan lidah orang Indonesia.

Menariknya, owner Quickly Indonesia terinspirasi dari minuman (boba) yang populer di Singapura hingga nomor antriannya mencapai 1000-an per harinya. Sudah 21 tahun yang lalu sejak Quickly Indonesia merilis menu bubble tea dan kini sudah puluhan gerai Quickly yang tetap mempopulerkan minuman ini.

Meskipun bukan jenis minuman boba yang paling favorit bagi masyarakat Indonesia, namun Quickly masih terus ada hingga sekarang. Perlu diketahui juga Quickly adalah brand yang berasal dari Taiwan, sehingga bahan yang digunakan seluruhnya diimpor 100% dari Taiwan.

Berkembang Menjadi Banyak Rasa

Dikarenakan popularitasnya sebagai minuman yang laris manis, kreasi boba mulai banyak ditemukan hingga saat ini. Boba bisa disajikan dalam minuman selain milk tea, mulai dari rasa brown sugar, black sesame, mangga, taro, dan ada yang menggunakan campuran bubuk maupun sirup buah.

Hasilnya rasa boba menjadi lebih kaya dan menjangkau lebih banyak selera masyarakat. Meski demikian, minuman boba tetap memiliki karakteristik rasa yang manis dan creamy, serta selalu disajikan dalam keadaan dingin.

Menyebar Ke Banyak Negara

Tren bubble tampaknya telah melanda seluruh dunia. Alhasil banyak brand bubble tea yang menciptakan menu ini dan berekspansi di beberapa negara. Meskipun awalnya dimulai dari Taiwan, namun kini bubble tea sudah dinikmati oleh seluruh masyarakat Asia hingga di beberapa negara benua Amerika. Minuman dengan topping berwarna coklat kenyal ini, memiliki beberapa brand terkenal seperti Gong Cha, KOI, Chatime, CoCo Fresh, dan Share Tea.

Gong Cha adalah brand Taiwan yang memiliki ribuan cabang yang tersebar di Hongkong, Korea Selatan, New Zealand, Australia, Singapura, Malaysia, Cina, Kanada, Amerika, Filipina, Myanmar, Vietnam, Jepang, dan Brunei Darussalam.

Sementara KOI dan Chatime juga merupakan brand bubble tea yang berasal dari Taiwan dan telah menyebar di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Secara khusus Chatime menjadi waralaba tea house terbesar di dunia yang sudah memiliki sedikitnya 2500 gerai di 30 negara di dunia.

Sementara CoCo dan Share Tea adalah brand bubble tea asal Taiwan yang juga menjual produknya di Indonesia. Namun, dua brand ini lebih populer di negara-negara seperti Hongkong, Filipina, Malaysia, Singapura, Australia, Amerika, dan Dubai. Share Tea didirikan sejak tahun 1992, sementara Coco ada sejak tahun 1997.

Di Indonesia sendiri kolaborasi dari Mitra Boga Fentura dan Kulo Grup berhasil mengembangkan bisnis bubble tea lokal sejak tahun 2019. Ini disebut Xi Bo Ba yang hadir untuk menjawab permintaan pasar boba yang lagi nge-hits.

Prinsip bisnisnya, Xi Bo Ba ingin menciptakan rasa boba yang enak namun dengan harga yang lebih terjangkau. Saat ini Xi Bo Ba sudah mempunyai lebih dari 500 gerai di seluruh Indonesia dengan varian brown sugar boba fresh milk yang paling diminati.

Sempat Meredup Sebelum Hits Kembali

Minuman bubble tea yang sudah ada sejak tahun 1980-an, ternyata hanya populer hingga tahun 2000-an. Pada awal tahun 2000-an, boba hanya sebagai minuman biasa yang belum terlalu banyak yang mengetahuinya. Minuman boba hanya umum dikonsumsi oleh masyarakat lokal Taiwan dan di kota-kota besar negara lain.

Namun, di awal tahun 2019 bubble tea justru kembali nge-hits dan menjadi minuman yang banyak antriannya. Bahkan saking hebohnya, banyak kreasi makanan yang juga menjadikan boba sebagai topping di atasnya, misalnya indomie boba dan ropang boba. Sampai saat ini boba masih digandrungi oleh anak muda, baik dengan membeli pada gerai boba bermerek maupun gerai-gerai lokal yang dijalankan oleh masyarakat setempat.

Nah, itulah dia sejarah dan fakta dari bubble tea atau boba. Bagi kamu pecinta minuman ini, ingat bahwa meskipun minum bubble tea sangat menyegarkan dan menyenangkan, namun perlu diingat bahwa boba tergolong tinggi kandungan gula. Sehingga bijaklah dalam mengonsumsinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *