17 Makanan Khas Bali

Bali merupakan destinasi wisata yang begitu populer di Indonesia. The Island of Paradise, begitulah salah satu julukan Pulau Bali yang kita kenal selama ini. Julukan tersebut pantas dinobatkan pada Pulau Bali, sebab Pulau ini menawarkan keindahan alam yang berpadu dengan kearifan lokal budayanya. Bali juga memiliki paket liburan yang lengkap lantaran banyaknya tempat indah dan eksotis di sana, seperti pantai, laut, gunung, air terjun, dan masih banyak lagi.

Hal yang lebih menakjubkan lagi jika membicarakan Bali sebagai destinasi yang populer adalah bahkan wisatawan asing lebih mengenal Bali daripada Indonesia sendiri. Itulah yang menjadi bukti mengapa Bali sangat pantas dijadikan destinasi utama bagi para wisatawan lokal dan turis asing. Di samping itu, kuliner khas Bali juga tak kalah menarik. Terdapat begitu banyak makanan khas Bali yang menjadi daya tarik bagi para wisatawan. Simak selengkapnya di bawah ini.

Sate Lilit

Sajian sate umumnya berupa potongan daging yang ditusuk dengan tusukan sate, namun, beda halnya dengan sate lilit khas Bali. Sate ini dibuat dengan cara dillit, bukan ditusuk seperti sate pada umumnya. Sate lilit khas Bali dulunya menggunakan daging babi sebagai bahan utamanya, tetapi karena peminat sate lilit sangatlah banyak, sehingga daging babi pun bisa digantikan dengan daging lainnya, seperti daging ayam, ikan, sapi, dan bahkan kura-kura yang dicincang.

Apapun Bumbunya, Tidak Pakai MSG

Daging yang digunakan pada sate lilit dibumbui oleh berbagai macam bumbu, seperti bawang merah, merica, jeruk nipis, dan parutan kelapa. Daging yang telah dibumbui tersebut dililitkan pada batang serai yang berbentuk datar dan lebar, kemudian dipanggang di atas arang. Sate lilit berbumbu ini memiliki rasa yang bervariasi, mulai dari manis, gurih, hingga sedikit pedas.

Keistimewaan sate lilit khas Bali lainnya adalah terletak pada cara penyajiannya. Jika biasanya sate ditemukan dengan bumbu kacang, namun sate lilit justru bisa dinikmati langsung tanpa apa pun, karena dagingnya sendiri pun sudah dibumbui. Untuk sajian sate lilit yang lebih nikmat, Anda juga bisa menyantapnya dengan sambal matah khas Bali, atau pun sate dan pepes tuna. Lebih lanjut, Anda juga bisa menikmatinya dengan nasi putih hangat dan sambal matah.

Kuliner khas ini adalah salah satu makanan yang biasanya disajikan pada upacara adat di Bali. Ini disebabkan oleh sate lilit memiliki makna filosofis, yaitu daging sate yang dililitkan pada batang serai menggambarkan masyarakat Bali, lalu tusuk satenya diartikan sebagai pemersatu masyarakat Bali. Jadi, makna filosofi sate lilit yaitu menggambarkan masyarakat Bali akan selalu bersatu dan tidak akan bercerai-berai.

Di Bali, sate lilit juga menjadi simbol kejantanan pria. Ini dikarenakan dalam upacara adat Bali, sate lilit biasanya disajikan dalam jumlah besar, sehingga pembuatan sate lilit membutuhkan tenaga laki-laki. Inilah yang menjadi sate lilit digunakan untuk melambangkan kejantanan pria, karena pembuatan sate lilit dalam jumlah besar membutuhkan tenaga yang besar pula.

Ayam Betutu

Ayam betutu merupakan makanan khas Bali yang berupa ayam atau bebek utuh yang berisi bumbu. Istilah betutu diambil dari kata “be” yang artinya “daging”, dan “tunu” yang bermakna “bakar”, sehingga istilah betutu bisa diartikan sebagai daging yang dibakar, dan ayam betutu adalah ayam yang dibakar. Makanan tradisional ini biasanya dipanggang dalam api sekam.

Ayam betutu dibuat dengan melumurkan bumbu khas Bali, atau yang lebih dikenal dengan “base genep” ke seluruh bagian daging ayam, dan sebagian lagi dimasukkan ke dalam rongga abdomennya. Daging ayam betutu yang dibumbui dan dibakar ini menghadirkan aroma yang begitu menggugah selera. Ini dikarenakan air dan lemak dari daging ayam ikut menguap. Semakin banyak uap yang dihasilkan, semakin menggugah selera pula aromanya.

Ayam betutu seringkali tersaji pada saat upacara adat misalnya otonan, odalan, dan bahkan pernikahan, serta tersaji pada saat upacara keagamaan. Makanan tradisional ini juga banyak dijual di tempat-tempat tertentu, misalnya rumah makan, hotel, dan restoran. Ayam betutu tak hanya dinikmati oleh masyarakat Bali, tetapi juga dinikmati oleh para wisatawan lokal dan asing.

Sate Plecing

Selain sate lilit, Bali juga memiliki varian sate lainnya, yaitu sate plecing. Sate khas Bali ini hampir serupa dengan sate yang biasa kita temukan, yaitu sate yang terdiri dari beberapa potongan daging yang ditusuk dengan tusukan sate. Daging babi adalah bahan utama pada sate plecing, namun daging lainnya pun dapat digunakan, seperti daging ayam, daging sapi, dan daging kambing agar dapat disantap oleh siapa saja.

Sate plecing ini meskipun serupa dengan sate lainnya, namun sate plecing ini berbeda. Pasalnya, sate plecing menggunakan bumbu khas Bali, bukan menggunakan bumbu kacang seperti sate lainnya. Hal itulah yang menjadi ciri khas dari sate plecing. Bumbu plecing pada sate plecing ini terdiri atas beberapa bumbu, yaitu bawang putih, kemiri, terasi, dan tomat. Bumbu-bumbu tersebut dicampurkan dengan diulek. Sate plecing memiliki rasa yang pedas, serta aroma yang wangi dari bumbu yang digunakan.

Nasi Campur Khas Bali

Nasi campur khas Bali ini merupakan sajian nasi putih yang terdiri atas aneka lauk-pauk, akan tetapi, nasi campur khas Bali menggunakan lauk khas masakan Bali. Lauk-pauk yang digunakan antara lain jukut urap (sayur urap khas Bali), tum (sejenis pepes), sate lilit, teri kacang, ayam suwir, telur pindang, sayuran, dan juga sambal khas Bali, yaitu sambal matah.

Selain itu, nasi campur ini juga terdiri atas lauk-pauk non-halal, yaitu terdapat irisan babi guling yang dipanggang. Nasi campur khas Bali ini dapat disantap kapan pun, mulai dari menu sarapan, makan siang, hingga makan malam. Sajian ini memiliki rasa yang pedas dan gurih, yang akan semakin lezat jika dinikmati dengan kerupuk kulit dan segelas es teh manis.

Nasi Jinggo

Nasi jinggo atau jenggo merupakan makanan khas Bali yang satu porsinya sedikit. Nasi jinggo dibungkus dengan cara tradisional, yaitu dengan daun pisang. Porsi nasi jinggo berukuran kepalan tangan, dengan beragam lauk dan sambal. Lauk-pauk yang tersedia yakni ayam suwir, sambal goreng tempe, dan serundeng.

Penjual nasi jinggo biasanya menjual sajian ini dengan nasi kuning, dan variasi lauk-pauknya bisa terdiri dari mi goreng, daging sapi, dan telur, serta terdapat pula lauk-pauk non-halal, yaitu daging babi. Nasi jenggo tak hanya dijual di warung makan saja, tetapi juga banyak disajikan pada upacara keagamaan seperti ngaben, acara tertentu seperti rapat atau perayaan ulang tahun.

Karena porsinya yang sedikit, nasi ini dibanderol dengan harga yang sangat murah, bahkan sebelum terjadi krisis moneter di tahun 1997, harga nasi jinggo per porsi adalah Rp. 1500,-. Seiring waktu, nasi jinggo dijual dengan harga sekitar Rp. 2000,- sampai Rp. 4000,-. Masyarakat luas biasanya membeli nasi jinggo lebih dari satu bungkus, karena nasi jinggo ini hanya sebesar kepalan tangan.

Nasi Tepeng

Nasi tepeng merupakan makanan khas Bali khususnya daerah Gianyar. Nasi tepeng terdiri atas nasi dan beberapa lauk-pauk, misalnya nangka muda, kacang merah, kacang panjang, daun kelor, terong, ayam suwir, hingga telur, dan tak lupa diberikan parutan kelapa di bagian atasnya. Ini juga ditambahkan siraman bumbu khas Bali, yang membuatnya semakin istimewa.

Sajian nasi tepeng memiliki tekstur yang lembek seperti bubur, namun, sebenarnya makanan khas Bali ini terlihat seperti nasi uduk. Keduanya sama-sama dibuat dengan santan, sehingga nasi tepeng terasa begitu gurih. Ini juga dimasak dengan bumbu yang meliputi daun salam, garam, dan juga kunyit.

Dari cara penyajian, nasi tepeng disajikan dengan daun pisang sebagai pembungkus. Meski tampilannya sederhana, namun nasi tepeng menyajikan lauk yang bervariasi yang menjadikannya terasa lezat. Masyarakat Bali umumnya menyantap nasi tepeng untuk menu sarapan pagi. Nasi tepeng menawarkan rasa gurih dan pedas, yang berpadu dengan nikmatnya bumbu racikan khas Bali yang khas, serta ditambah dengan lauk pauk yang beragam. Nasi tepeng yang disiram dengan bumbu khas serta parutan kelapa menjadi daya tarik bagi para wisatawan maupun warga setempat.

Sate Kakul

Sate kakul merupakan sajian sate yang menjadi ciri khas dari kawasan Ubud. Sate kakul tidak menggunakan daging ayam, daging sapi, atau pun daging babi, melainkan daging siput atau keong sawah. Daging ini dipilih lantaran di masa lalu, siput atau keong sawah termasuk hewan yang mudah ditemukan di area persawahan, maka dari itu, mereka membuat sajian sate berdasarkan apa yang mereka temukan. Lambat laun, sate kakul yang awalnya hanya dikenal di Kawasan Ubud, namun popularitasnya kian meningkat seiring dengan peminatnya.

Pembuatan sate kakul dimulai dengan membersihkan siput atau keong sawah, lalu ditusuk menggunakan tusukan sate. Lalu, sate kakul dibakar di atas bara api. Sate khas Ubud ini tak luput dari bumbu yang digunakan. Biasanya, mereka menggunakan bumbu ikan bakar untuk mengoleskan ke atas daging siput saat proses pembakaran.

Bumbu ikan bakar tersebut terdiri dari bawang merah, gula merah, dan kecap. Sebagai tambahan bumbu yang memperkaya cita rasa, bahan-bahan lain seperti kemiri, saus tiram, serai, dan tomat juga bisa digunakan sebagai bahan oles daging. Sate kakul bisa dinikmati dengan menu yang sederhana, terutama dengan masakan khas Bali. Anda bisa menyantapnya dengan nasi putih hangat, atau dinikmati dengan ares atau sop batang pisang khas Bali.

Sambal Matah

Sambal hampir selalu tersedia di setiap daerah di Indonesia. Setiap jenis sambal yang ada memiliki keunikan dan ciri khasnya masing-masing yang banyak digemari oleh masyarakat luas, seperti sambal matah. Sambal matah adalah sambal tradisional Bali yang dapat ditemukan di seluruh daerah di Provinsi Bali.

Istilah matah yaitu mentah, sehingga sambal matah diartikan sebagai sambal mentah. Pada dasarnya, sambal matah adalah sambal yang dibuat dengan bahan mentah tanpa diulek atau digerus. Ini terbuat dari beberapa bahan yang termasuk bawang putih, bawang merah, cabai merah, garam, jeruk lemo, minyak kelapa, sereh, dan terasi.

Sambal mentah ini dibuat dengan cara merajang bumbu-bumbu tersebut, dengan terasi yang direndam dan dihancurkan dalam minyak kelapa. Terasi yang sudah dihancurkan sebelumnya disiramkan di atas bahan yang sudah dirajang. Sambal matah memiliki tampilan cantik dengan warna yang beragam karena bahan-bahannya tidak diulek. Sambal khas Bali ini juga terkadang dihias dengan irisan jeruk nipis yang semakin menambah keindahannya.

Selain itu, sambal matah juga memiliki ciri khas, yaitu dengan rasa pedas yang nikmat. Sambal ini digunakan sebagai pelengkap makanan tradisional bali seperti ayam betutu, bebek betutu, ayam bakar, ikan bakar, dan lain sebagainya. Sambal matah juga merupakan salah satu bumbu untuk ayam sisit dan ikan bakar.

Sambal matah kini tak hanya digemari oleh masyarakat di Bali saja, tetapi juga digemari oleh masyarakat luas di berbagai daerah di Indonesia. Saat ini, sambal matah banyak ditemukan di beberapa rumah makan, mulai dari restoran lokal, hingga internasional. Sajian khas ini juga menjadi menu andalan bagi rumah makan atau restoran yang secara khusus menyediakan makanan khas Bali.

Namun sayangnya, sambal matah tidak bisa disimpan lebih dari satu hari, sebab bahan-bahan tersebut dapat mengeluarkan bau yang tak sedap jika dibiarkan lebih dari satu hari. Selain itu, sambal matah juga tidak bisa dipanaskan kembali, maka yang paling tepat adalah langsung menghabiskan pada hari yang sama saat dibuat.

Bebek Timbungan

Bebek timbungan termasuk dalam makanan khas Bali yang paling terkenal dan tertua. Kata ‘Timbungan’ berasal dari kata ‘embung’ atau ‘timbung’, yang diartikan sebagai bambu. Dari definisi tersebut, bebek timbungan berarti adalah makanan khas Bali dengan bebek sebagai bahan utamanya yang dimasak dengan bambu.

Bebek timbungan adalah daging bebek yang dibumbui dengan bumbu racikan khas Bali, yaitu bumbu base genep. Proses memasaknya melibakan proses yang tidak sebentar. Pasalnya, daging bebek yang telah dibumbui ini dimasukkan ke dalam bilah bambu, lalu bilah bambu tersebut ditutup dengan daun pisang dan dikukus hingga matang. Proses ini memakan waktu sekitar dua hingga tiga jam sehingga daging bebek benar-benar empuk.

Proses yang memakan waktu yang lama tersebut juga membuat lemak dari daging bebek lebih keluar, sehingga dapat menjadi penyedap rasa alami yang membuat daging bebek terasa semakin lezat dan gurih. Bebek timbungan memiliki tekstur daging yang empuk dan tidak alot, karena proses memasaknya tersebut.

Dahulu, bebek timbungan hanya disajikan dalam ritual upacara adat Bali saja, namun karena banyak yang menyukai bebek timbungan, maka semakin banyak restoran dan rumah makan di Bali yang menyediakan menu bebek timbungan. Selain sebagai sesaji dalam upacara adat Bali, bebek timbungan dulunya termasuk makanan kesukaan para raja di Bali. Ini juga umum disajikan saat perayaan kemenangan setelah perang, dan menjadi menu makanan untuk menjamu tamu raja.

Bebek timbungan menghadirkan rasa yang lezat dan gurih, dengan sedikit rasa pedas, sehingga cocok disantap oleh siapa pun. Proses pembakaran daging bebek dalam bambu juga mengeluarkan aroma pembakaran yang begitu khas. Daging bebek yang empuk dengan rasa yang menggugah selera ini sangat nikmat disantap dengan nasi putih hangat.

Laklak

Di Bali, terdapat kue khas tradisional yang terbuat dari tepung beras, ini dinamakan laklak. Kue tradisional ini dibuat dengan berbagai bahan seperti tepung beras, santan, air daun suji, baking powder, garam, kelapa parut, dan air panas. Kue laklak juga disiram dengan saus gula merah yang dibuat dengan gula merah, gula pasir, serta air mineral.

Kue laklak khas Bali tampak seperti serabi, namun dengan ukuran yang lebih kecil. Proses pembuatan kue tradisional ini dicetak dalam cetakan yang terbuat dari tanah liat, yang terlihat seperti cetakan kue cubit. Kue laklak dipanggang di atas tungku kayu bakar, sehingga aroma yang keluar sangatlah khas.

Kue laklak berbentuk bulat dan berwarna hijau yang berasal dari perasan daun suji. Cara penyajian kue laklak adalah dengan disiram dengan gula merah serta diberi parutan kelapa. Ini menghadirkan rasa yang manis dan gurih. Anda bisa menjadikan kue laklak sebagai teman untuk minum secangkir kopi atau teh.

Sajian kue tradisional ini bias anya dijual di pasar tradisional di Bali saat pagi hari, sehingga Anda bisa menyantapnya sebagai sarapan pagi. Selain itu, kue laklak juga sering ditemukan dalam upacara adat Bali, Kuningan dan Galungan. Dalam upacara adat, kue khas ini umum disajikan dengan aneka kue tradisional khas Bali lainnya.

Rujak Bulung

Rujak bulung adalah sajian rujak khas Bali yang menggunakan rumput laut sebagai bahan utamanya, bukan menggunakan buah. Rumput laut yang digunakan adalah hasil laut Bali, yaitu rumput laut jenis boni. Rumput laut ini memiliki ranting dengan warna hijau menyala, dan ketika dimasak, rumput laut ini akan terasa lebih kenyal.

Rujak bulung khas Bali diberikan bumbu yang sangat sederhana, antara lain seperti cabai, garam, gula, dan terasi. Cara penyajiannya adalah dengan disiram dengan kuah pindang, diberi parutan kelapa, parutan lengkuas, dan dibumbui oleh bumbu rujak yang telah dihaluskan. Rujak bulung bisa disajikan sebagai camilan di siang hari, atau disantap dengan hidangan lainnya, seperti ketupat atau tipat.

Rujak khas Bali ini memberikan sensasi kenyal dari tekstur rumput laut, yang berpadu dengan kuah pindang yang gurih dan pedas, demikianlah rasa rujak bulung yang juga segar. Rasa rujak bulung yang lezat ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan lokal, atau pun turis dari berbagai negara.

Bubur Mengguh

Bubur menjadi pilihan yang tepat untuk disantap ketika sarapan. Jika Anda biasanya menemukan bubur ayam yang bisa ditambah dengan berbagai macam pilihan topping, Anda mungkin tidak menemukan hal yang serupa dengan bubur mengguh khas Buleleng, Bali. Bubur ini terbuat dari, yaitu beras dan santan kental, lalu tak lupa ditambah dengan bumbu yang mudah ditemukan di pasar tradisional, seperti daun salam, bawang merah, bawang putih, cabai merah, kemiri, kunyit bakar, lada, dan garam.

Bubur mengguh disajikan dengan cara yang sedikit berbeda dengan bubur ayam, yaitu disiram dengan kuah ayam kental, diberi tambahan ayam suwir, kacang panjang dan kacang tanah goreng di atasnya, lalu diberikan taburan bawang goreng sebagai pelengkap. Yang menjadi keunikan dari bubur mengguh ini adalah ia juga dihidangkan dengan urap sayur, namun urap sayur ini tidak dicampur dengan sajian bubur, melainkan disajikan dengan piring terpisah.

Sehingga, meski berbahan dasar serupa dengan bubur ayam, namun penyajian bubur mengguh ini cukup unik, dan Anda tidak akan menemukan daun seledri, kerupuk, atau topping lainnya seperti sate usus ayam dan sate ampela. Ini menjadikannya berbeda dan tak mungkin ditemukan di daerah lain. Bubur mengguh banyak digemari oleh masyarakat Bali lantaran rasanya yang lezat. Bubur mengguh menawarkan perpaduan rasa yang gurih dan pedas berdasarkan bumbu serta cara penyajiannya.

Bubur mengguh adalah bagian dari tradisi dalam upacara adat Bali yang wajib tersedia. Namun, saat ini Anda bisa menjumpai hidangan ini di berbagai tempat di Bali, misalnya di beberapa rumah makan dan restoran di Bali. Anda bisa menikmati bubur mengguh sebagai menu sarapan pagi, atau dimakan sebagai menu makan malam saat masih hangat.

Tipat Cantok

Tipat cantok mengacu pada makanan khas Bali tepatnya Desa Ungasan. Tipat dalam bahasa Bali yaitu “ketupat”, sementara cantok yaitu “diulek atau dihaluskan dengan cobek”. Ini adalah makanan khas yang berupa ketupat dan sayuran rebus, dan yang paling umum adalah kangkung, kacang panjang, serta tauge.

Tipat cantok dibumbui dengan campuran bahan seperti bawang putih goreng, garam, gula merah, jeruk limau, kacang tanah goreng, dan kencur, namun terkadang beberapa penjual tipat cantok juga menambahkan petis ke dalam bumbu cantok tersebut. Bumbu-bumbu diulek atau dihaluskan dengan cobek, dan disajikan dengan tipat (ketupat), irisan tahu goreng, kangkung rebus, kacang panjang rebus, serta tauge rebus. Sajian khas ketupat dan sayur ini berperan penting dalam mengembangkan pariwisata dan perekonomian di Bali.

Rujak Buleleng

Rujak buleleng merupakan kuliner khas Bali yang berbahan dasar beragam buah-buahan. Rujak ini berisi buah-buahan yang serupa dengan rujak buah pada umumnya, yaitu bengkoang, kedondong, mangga, mentimun, nanas, papaya, serta ubi merah. Ini dibumbui dengan bumbu khas Bali, yang terdiri dari cabai rawit, cuka, gula aren buleleng, terasi, dan pisang batu. Peran pisang batu dalam bumbu rujak buleleng adalah agar memberikan rasa yang sepat pada hasil akhirnya ketika seluruh bumbu telah diulek.

Yang membuat rujak buleleng ini berbeda dari rujak buah kebanyakan terletak pada cara penyajian. Kuliner ini disajikan dengan beberapa potongan buah, dan diberikan bumbu rujak buleleng di atasnya, hingga antara buah dan bumbu tercampur rata. Inilah yang membuat rujak buleleng berbeda, karena kebanyakan rujak buah disajikan dengan cara bumbu dan buah yang dipisah untuk nantinya buah-buahan dicocol dengan bumbu rujak.

Rujak buleleng memiliki konsistensi yang encer lantaran cara penyajian tersebut. Air dari buah-buahan pada rujak buleleng akan keluar dan menyatu dengan bumbu rujak, maka itulah yang membuatnya menjadi encer. Saat dinikmati, rujak buleleng menghadirkan rasa pedas, segar, dan sepat yang menyatu sempurna di dalam mulut. Dengan rasanya yang segar, Anda bisa menyantapnya di siang hari saat matahari sedang terik.

Jukut Ares

Jukut ares, mengacu pada makanan sejenis sayuran khas Bali. Jukut memiliki arti “sayur”, dan ares adalah anak batang pisang. Jukut ares secara harfiah diartikan sebagai sayur – lebih tepatnya sayuran berkuah, dengan anak batang pisang sebagai bahan dasarnya. Batang pisang yang digunakan hanya berukuran sebesar lengan orang dewasa.

Sementara jenis pohon pisangnya, biasanya menggunakan batang pisang klutuk atau pisang batu agar rasanya lebih lezat. Alternatif batang pohon pisang yang digunakan lainnya yakni batang pisang raja. Namun secara keseluruhan, jika Anda tak menemukan batang pohon pisang yang dimaksud, Anda bisa menggunakan batang pohon pisang yang tersedia.

Jukut ares menggunakan bumbu khas Bali, atau yang lebih populer disebut dengan base genep atau base gede, yang merupakan racikan bumbu lengkap khas Bali, yang terdiri dari bawang merah, bawang putih, cabai rawit, jahe, ketumbar, kunyit, lada hitam, dan lengkuas. Seluruh bumbu tersebut dihaluskan terlebih dahulu.

Jukut ares tak hanya berupa sayuran dengan bahan utama anak batang pisang saja, tetapi juga diisi dengan balung (tulang), yang secara umum menggunakan tulang babi, namun tulang sapi, tulang ayam, dan tulang bebek juga dapat digunakan. Cara penyajian jukut ares yaitu disantap dengan nasi putih hangat saja, atau Anda bisa menyantapnya dengan berbagai hidangan khas Bali lainnya, seperti sate plecing, sate kakul, hingga ayam atau bebek betutu.

Santapan ini merupakan salah satu menu sayuran andalan bagi masyarakat Bali, yang secara keseluruhan bercita rasa gurih, nikmat, serta menawarkan kandungan nutrisi yang tinggi. Lebih lanjut, jukut ares juga merupakan kuliner yang sangat penting untuk disajikan dalam berbagai acara penting masyarakat Bali, misalnya seperti upacara keagamaan. Ini juga bisa diperuntukkan bagi setiap orang yang ikut serta membantu dalam upacara keagamaan tersebut.

Serombotan

Serombotan adalah kuliner khas Klungkung, Bali yang terdiri dari beberapa jenis sayuran. Sayur-sayurannya termasuk bayam, terong bulat, kubis, kacang panjang, kangkung, kecambah, serta buah kecipir. Bisa juga menambahkan kacang-kacangan seperti kacang tanah, kacang merah, kacang gude, dan kacang hijau “kencai”. Serombotan pada dasarnya adalah makanan yang menyerupai gado-gado, itu sebabnya aneka sayur mayur tersebut dimasak setengah matang terlebih dahulu.

Serombotan disajikan dengan tiga jenis bumbu yang berbeda, misalnya sambal nyuh, yaitu sambal dengan parutan kelapa tua sebagai bahan utamanya, dan dibumbui dengan bawang putih, cabai, garam, terasi, serta gula Bali halus. Ada pula bumbu lainnya yaitu bumbu kacang, dan yang terakhir adalah unyah sere limo, yaitu bumbu yang dibuat dengan cabai, garam, terasi, dan perasan jeruk purut. Kuliner ini dimasak hingga kental dan dengan bumbu yang dibuat hingga kalas.

Pada sajian ini, Anda tak akan menemukan daging babi seperti masakan khas Bali lainnya, karena serombotan hanya terdiri dari sayuran saja. Penyajian serombotan adalah disiram dengan sambal, sambal tersebut terdiri dari dua jenis, yakni sambal kelapa dan sambal koples yang sangat pedas. Sayuran khas ini harus dihidangkan dengan kacang goreng, dan dinikmati dengan nasi putih hangat, nasi yang dicampur dengan ubi jalar (nasi oran sele), dinikmati dengan ketupat, hingga disantap dengan sate languan khas Klungkung.

Nasi Sela

cek ratusan koleksi lainnya

Nasi sela mengacu pada makanan yang berasal dari daerah Karangasem, yang juga banyak ditemukan di wilayah Bali. Ini merupakan kuliner yang begitu unik, yang terdiri dari nasi yang dicampur dengan sela, yaitu ketela atau ubi. Nasi putih dengan ubi ini dapat membuat kenyang lebih cepat serta mengandung gizi yang lebih baik dibandingkan dengan nasi putih biasa, itu sebabnya nasi sela awalnya adalah makanan andalan di masa krisis, namun saat ini telah menjadi santapan yang banyak diincar oleh wisatawan asing.

Untuk melengkapi kuliner ini, nasi sela juga terdiri dari beragam lauk, seperti jukut bejek (sayur bejek), grago (udang kecil kecil), jukut kacang panjang, kacang tanah, urap sayur dengan mentimun dan kacang merah, pesan celengis, pindang tongkol, sate kulit ayam, serta suwiran ayam betutu. Varian sambal juga tersedia untuk menyantap nasi sela, di antaranya adalah sambal matah, sambal teri, hingga sambal bongkot.

Nasi sela biasa dinikmati bersama-sama oleh masyarakat Bali, atau yang juga merupakan salah satu tradisi di Bali, yaitu megibung. Tradisi ini melibatkan banyak orang di mana mereka duduk melingkar dan mengelilingi aneka makanan yang tersedia di tengah-tengah mereka, termasuk nasi sela.

Itulah Bali, pulau dengan ragam kekayaan yang sangat memikat bagi siapa pun. Bali tak hanya melulu soal objek wisatanya saja, namun juga ragam makanan khasnya yang menarik bagi masyarakat luas, termasuk turis asing. Apakah Anda tertarik mencicipi salah satu makanan khas Bali? Simak artikel lainnya mengenai makanan khas Lampung dengan klik link berikut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *