Sejarah dan Fakta dari Masjid Istiqlal Jakarta

Masjid Istiqlal merupakan masjid nasional bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Arti kata Istiqlal adalah “merdeka” yang berasal dari bahasa Arab. Penamaan ini didasarkan pada rencana para tokoh nasionalis setelah merdeka, untuk mendirikan lambang keagaamaan negara sebagai penduduk muslim terbesar di dunia. Masjid ini dibangun sebagai rasa syukur dari bangsa Indonesia yang berhasil memperjuangkan kemerdekaannya berkat rahmat Allah SWT, sehingga dapat menjadi negara merdeka tanpa titah dari penjajah.

Masjid kebanggaan masyarakat Indonesia ini memiliki lahan seluas 9,5 hektar sehingga menjadi masjid terbesar di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara. Masjid Istiqlal didirikan di bekas Taman Wilhelmia, yang saat ini berada di sekitaran Monumen Nasional (Monas) di pusat ibukota Jakarta. Bagian seberang timur dari masjid adalah gereja Katedral Jakarta yang telah berdiri lama sebelum masjid dibangun. Karena letak kedua bangunan yang berdekatan, maka masjid ini menjadi salah satu simbol keberagaman dan toleransi beragama di Indonesia. Imam besar masjid Istiqlal saat ini adalah Prof. Dr. Nasaruddin Umar, M.A.

Sejarah Berdirinya Masjid Istiqlal

Setelah melewati tahap-tahap perjuangan diplomatik di tahun 1945–1949, maka Pemerintah Indonesia berniat membangun sebuah bangunan yang melambangkan bagaimana budaya, karakteristik dan kondisi bangsa Indonesia. Pasca pengakuan kemerdekaan Indonesia dari Belanda pada tahun 1949, timbul ide untuk membangun masjid nasional sebagai cerminan bangsa Indonesia yang memiliki jumlah muslim terbanyak di dunia. Ide pembangunan masjid Istiqlal pertama kali dicetuskan oleh Wahid Hasyim, Menteri Agama pertama Indonesia dan Anwar Cokroaminoto, yang kemudian diangkat sebagai ketua Yayasan Masjid Istiqlal. Yayasan ini dibentuk untuk mempermudah koordinasi pada saat proses pembangunan masjid.

Panitia pembangunan Masjid Istiqlal, yang dipimpin oleh Cokroaminoto berdiri pada tahun 1953. Ia mengusulkan gagasan masjid nasional kepada Presiden Indonesia Soekarno. Presiden pun menyambut baik gagasan itu dan kemudian membantu mengawasi pembangunan masjid. Pada tahun 1954 panitia mengangkat Soekarno sebagai kepala teknis pengawas sehingga dapat memberikan kontribusi langsung. Beberapa lokasi dalam pembangunan masjid sempat menjadi bahan pertimbangan tersendiri. Mohammad Hatta yang saat itu menjabat sebagai wakil presiden Indonesia, menyarankan agar masjid dibangun di dekat kawasan pemukiman di jalan Thamrin, di atas sebidang tanah yang menjadi tempat Hotel Indonesia berdiri saat ini.

Sementara Presiden Soekarno bersikeras bahwa masjid nasional harus terletak di dekat alun-alun terpenting bangsa, yaitu berada di dekat Istana Merdeka. Hal ini sesuai dengan tradisi Jawa bahwa Kraton (merujuk pada istana Raja) dan masjid agung (masjid nasional) harus terletak di sekitar alun-alun ibukota, yang berarti harus dibangun di dekat Lapangan Merdeka. Sementara itu, Soekarno juga menegaskan bahwa masjid nasional seharusnya memang dibangun di dekat gereja Katedral Jakarta dan gereja Immanuel, sebagai lambang kerukunan dan toleransi umat beragama sebagaimana dijunjung tinggi dalam Pancasila.

Pancasila adalah falsafah hidup bangsa Indonesia yang terdiri dari lima prinsip sebagai landasan filosofis kebangsaan Indonesia. Paham ini mengharuskan kita untuk memegang teguh nilai-nilai pancasila. Dengan berbagai usulan dan diskusi yang intens, keputusan akhir menyatakan bahwa masjid nasional, yang akan disebut masjib Istiqlal ini akan dibangun di Taman Wilhemina, yang saat ini menjadi taman Widjaja Kusuma. Lokasinya berada tepat di depan gereja Katedral Jakarta.

Taman Wilhelmina pada saat itu masih menjadi gudang mesiu dan pusat penyimpanan kendaraan militer Belanda sehingga terdapat kesulitan dari aspek sejarah dan teknis pembongkarannya. Pada akhirnya untuk membuka jalan bagi masjid, Benteng Prins Frederick, yang dibangun pada tahun 1837 di taman Wilhemina dihancurkan. Ini menandakan titik terang pembangunan Masjid Istiqlal. Presiden Soekarno terus terlibat langsung dalam perencanaan dan pembangunan masjid, termasuk bertindak sebagai ketua juri kompetisi desain masjid yang diadakan pada tahun 1955 dan menjadi gambaran besar bagaimana arsitektur masjid ini akan dibuat.

Pada 5 Juli 1955 Friederich Silaban diumumkan sebagai pemenang lomba desain masjid Istiqlal dan pemerintah menggunakan desainnya dalam proses pembangunan yang bertema “Ketuhanan”. Setahun kemudian pada 24 Agustus 1961, peletakan batu pertama oleh Presiden Soekarno resmi dilakukan. Pada hari itu bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sehingga menjadi hari yang penuh khidmat. Akan tetapi ditahun-tahun berikutnya tepatnya 1961 hingga 1965 sempat terjadi pergolakan politik domestik di Indonesia. Proyek pembangunan masjid pun terhambat karena banyaknya partai politik yang berkonflik, terjadinya peristiwa G30S/PKI dan kemunculan demokrasi parlementer yang kurang sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia.

Pada tahun 1966, Menteri Agama Indonesia, KH M Dahlan memproses ulang perencanaan dan memulai kembali pembangunan. Hingga di tahun 1978 atau 17 tahun berlalu sejak pemancangan batu pertama, akhirnya masjid Istiqlal pun selesai. Pembangunan masjid Istiqlal menggunakan dana APBN sebesar 7 miliar dan 12 juta dolar yang menunjukkan bagaimana megahnya masjid di pusat ibu kota. Masjid ini diresmikan oleh Presiden Soeharto dengan simbol prasasti yang dipasang pada area tangga pintu As-salam.

Baru-baru ini tepatnya di tahun 2019 masjid Istiqlal direnovasi oleh pemerintah Indonesia untuk melengkapi fasilitasnya. Beberapa perubahan yang ada setelah renovasi tersebut adalah gedung parkir khusus, tata letak kawasan yang lebih teratur, perubahan sedikit desain interior, memperbaiki sistem mesin dan listrik serta hal-hal bersifat teknis lainnya. Setelah dua tahun melakukan renovasi, pada 7 Januari 2021 masjid Istiqlal diresmikan kembali oleh Presiden Joko Widodo di tengah pandemi yang mengguncang dunia. Total biaya yang digunakan dalam merenovasi masjid ini sekitar 511 miliar yang berasal dari APBN.

Fakta Menarik dari Masjid Istiqlal

Setelah memahami sejarah ringkas yang mendasari pembangunan masjid Istiqlal, maka perlu mengetahui fakta-fakta menarik dari masjid ini yang akan membuat anda penasaran dan ingin segera berkunjung.

Arsitek Masjid Istiqlal adalah Non-muslim

Dengan arsitektur modern, masjid Istiqlal tidak bisa lepas dari karya Friedrich Silaban seorang arsitek dari Tapanuli Utara. Friedrich Silaban adalah seorang nasrani yang bersekolah di Koningen Wilhemina School, sebuah sekolah ternama untuk orang berkebangsaan Belanda dan pribumi pilihan. Pada tahun 1955, panitia pembangunan masjid Istiqlal mengadakan kompetisi desain masjid. Pada kompetisi tersebut Friedrich terpilih menjadi pemenang dengan tema “Ketuhanan”, meskipun ia seorang nasrani. Dalam kisahnya, Friedrich menyatakan bahwa sebelum mengikuti kompetisi tersebut ia mempelajari tata cara dan aturan umat Islam dalam beribadah serta mempelajari desain-desain masjid dari beberapa negara selama 3 bulan.

Termasuk Sepuluh Masjid Terbesar di Dunia

Proses pembangunan belasan tahun dan keterlibatan dari berbagai pihak telah menghasilkan bangunan masjid Istiqlal yang super mewah dan bersejarah. Masjid ini adalah masjid terbesar di Asia Tenggara dan berada pada urutan ke-6 dari daftar masjid terbesar di dunia. Masjid Istiqlal memiliki daya tampung 200.000 jemaah. Sementara pada posisi pertama di isi oleh Masjidil Haram di Mekkah yang dapat memuat jamaah sebanyak 1,5 juta orang.

Dengan kapasitas orang yang besar, ruangan dalam masjid Istiqlal pun dibagi dalam beberapa bagian. Ruang shalat utama, termasuk balkon dan sayap bangunan dapat menampung sebanyak 61.000 jamaah. Sementara pada bagian depan bangunan yang disebut sisi pendahuluan memuat 8.000 orang. Pada bagian ketiga yaitu teras terbuka di lantai kedua memuat 50.000 orang. Sedangkan pada semua koridor dan tempat lainnya jika digabung maka dapat menampung 81.000 orang.

Digunakan untuk Kebutuhan Universal

Ukuran masjid Istiqlal yang besar dan luas, sesuai dengan fungsinya yang cukup banyak. Masjid ini tidak hanya digunakan sebagai tempat ibadah umat muslim namun juga menjadi kantor bagi beberapa organisasi Islam di Indonesia. Selain itu masjid ini juga berlaku sebagai tempat pertemuan dari organisasi kegiatan sosial dan kegiatan umum yang bersifat positif. Masjid ini juga secara tidak langsung menjadi tempat wisata di Jakarta. Meskipun jelas bahwa tujuan pembangunan masjid awalnya bukan untuk mengundang wisatawan, namun tidak dapat dipungkiri bahwa wisatawan domestik maupun wisatawan asing menganggap masjid ini memiliki daya tarik tersendiri untuk dikunjungi.

Bahkan masyarakat yang beragama non-muslim pun dapat berkunjung ke masjid Istiqlal dengan bantuan dari pemandu. Wisawatan yang datang akan mendapatkan informasi seputar Islam dan sejarah masjid Istiqlal, yang akan melengkapi kunjungan wisata. Uniknya lagi kegunaan masjid ini juga sebagai masjid nasional dari para pemerintah. Disebut demikian karena setiap ada perayaan hari besar agama Islam seperti Idul Fitri, Idul Adha, Maulid Nabi Muhammad dan Isra Mi’raj maka Presiden dan para Menteri akan melaksanakan shalat di masjid ini dengan disiarkan secara langsung pada stasiun televisi.

Simbol Toleransi Beragama

Masjid Istiqlal, sejak tahap perencanaan oleh tim panitia, sudah menanamkan keinginan menjadi simbol toleransi agama. Letak masjid Istiqlal yang dengan sengaja dibangun berdekatan dengan gereja Katedral bertujuan untuk mengingatkan bahwa dua agama yang berbeda dapat hidup rukun dan berdampingan. Harapannya, kedua bangunan tersebut tidak hanya menjadi simbol, namun juga menjadi motivasi bagi masyarakat untuk melaksanakan toleransi dan menjaga kedamaian.

Dalam keseharian, jamaah dan pengurus masjid Istiqlal dan gereja Katedral saling membantu satu sama lain. Misalnya, jika lebaran jatuh pada hari minggu maka pihak gereja akan meniadakan ibadah pagi untuk membantu perayaan sholat Idul Fitri secara khusyuk. Sebaliknya jika tiba saat Natal, maka Jemaah Istiqlal akan meluangkan lahan parkir untuk ditempati jamaah gereja Katedral. Aksi toleransi ini terus dilakukan hingga saat ini dengan harapan dapat mengundang keinginan orang lain untuk melakukan hal yang sama, yaitu toleransi dan saling bahu membahu.

Terdapat Makna Khusus dari Setiap Sisi Bangunan

Desain masjid Istiqlal sangat detail dan penuh makna. Kubah utama tersususn dari rangka baja dengan diameter 45 meter. Angka 45 melambangkan tahun kemerdekaan Indonesia yaitu tahun 1945. Kubah tersebut kemudian ditopang oleh 12 pilang besar yang melingkari kuba. Angka 12 bermakna tanggal kelahiran Nabi Muhammad SAW pada 12 Rabiul Awwal. Sementara itu jumlah lantai pada masjid ini melambangkan jumlah rukun Islam, yang berjumlah 5. Kemudian menara yang berdiri tegak pada bangunan ini hanya satu dan tunggal yang bermakna kepercayaan akan Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa.

Pada bagian marmer yang melapisi menara masjid Istiqlal memiliki diameter 5 meter, dengan tinggi 66,66 meter (6.666 cm) yang melambangkan jumlah ayat dalam Al-Quran. Mahkota pada menara masjid Istiqlal juga memiliki makna khusus yakni terbuat dari kerangka baja berukuran 30 meter sebagai lambang dari 30 juz pada kitab suci Al-Quran. Sementara itu, terdapat tujuh pintu gerbang masuk ke dalam Masjid Istiqlal yang dinamai sesuai Asmaul Husna. Tiga pintu pertama yakni Al Fattah, As Salam dan Ar Rozzaq yang disebut pintu utama. Selanjutnya adalah Al Quddus, Al Malik, Al Ghaffar, dan Ar Rahman sebagai pintu tambahan. Selain nama, angka tujuh pada jumlah pintu gerbang juga melambangkan alam semesta Islam yang sering menyebut tujuh tingkatan langit serta tujuh hari dalam seminggu.

Demikian artikel tentang sejarah dan fakta masjid Istiqlal Jakarta. Semoga artikel ini bermanfaat dan menambah semangat kita dalam mempelajari sejarah Islam maupun sejarah bangsa Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *