Perbedaan Ayam Kampung Dengan Ayam Negeri Atau Broiler

Selain daging kambing dan daging sapi, daging ayam juga telah menjadi sumber protein hewani yang banyak disukai oleh masyarakat Indonesia. Biasanya jenis ayam yang digunakan adalah ayam kampung dan ayam broiler. Ayam broiler mungkin memiliki jumlah peternakan yang lebih banyak dibandingkan ayam kampung. Namun hal ini bukan disebabkan oleh minat masyarakat terhadap rasa daging ayam broiler yang lebih enak. Ada faktor-faktor lain maupun perbedaan khusus yang membuat dua ayam ini digunakan secara berbeda.

Ayam Kampung

Ayam kampung adalah sebutan untuk jenis ayam yang dipelihara dengan cara tradisional dan tidak menggunakan budidaya massal komersial seperti pabrik atau peternakan besar. Selain itu ayam kampung juga tidak mementingkan asal usul dari ras yang dihasilkan untuk kepentingan komersial. Ini adalah jenis ternak unggas yang cukup merakyat dan tersebar hingga pelosok nusantara. Sebutan ayam kampung menggambarkan perilaku hewan ternak yang ditemukan berkeliaran bebas di sekitar rumah maupun perkebunan.

Ayam kampung pertama kali dikembangkan mulai dari generasi pertama yaitu ayam hutan merah (Gallus gallus). Ayam kampung jenis ini sudah dikenal sejak zaman kerajaan Kutai yang berdiri sejak abad ke-4. Ayam kampung di masa kerajaan dijadikan salah satu persembahan untuk kerajaan yang disebut sebagai upeti dari rakyat biasa. Dikarenakan ayam kampung sering menjadi upeti, maka masyarakat tetap memelihara dan menjaga kelestarian hewan ternak ini.

Tak hanya itu, ayam kampung juga memiliki rasa yang sesuai dengan selera masyarakat setempat. Kebiasaan untuk berternak ayam kampung ini berlangsung secara turun temurun sehingga menyebabkan ayam ini mudah ditemukan di Indonesia hingga sekarang. Sampai saat ini, konsep pemberian upeti dengan menggunakan ayam kampung juga masih ada. Akan tetapi ini lebih mirip seperti pemberian ayam kampung untuk menandakan penghormatan, rasa terima kasih, atau perayaan hari besar.

Dalam buku Sarwono tahun 1995 tentang berternak ayam, menyebutkan bahwa program pengembangan, pemurnian, dan pemuliaan dari beberapa ayam lokal unggul sudah dilakukan puluhan tahun silam. Ini menghasilkan ayam lokal unggul yang dikenal sebagai ras unggul ayam kampung. Terkadang jenis ayam kampung ini disingkat sebagai ayam buras untuk menyebut ayam kampung yang telah diseleksi dan dipelihara sehingga tidak sekedar dibiarkan mencari makan sendiri.

Peternakan ayam buras mulai banyak berkembang di Indonesia dan telah mempunyai peran yang sangat besar dalam mendukung perekonomian masyarakat desa. Ayam buras memiliki daya adaptasi yang sangat baik yang secara alamiah membuat ketahanan tubuh terhadap lingkungan serta prosedur pemeliharaannya lebih mudah. Oleh sebabnya banyak peternakan yang lebih memilih ayam buras dibandingkan ayam kampung asli.

Jenis-jenis Ayam Kampung

Ayam kampung mengalami proses pemeliharaan dan perkembangbiakkan untuk menghasilkan beragam varietas. Selain itu, jenis-jenis dari ayam kampung berikut juga didukung oleh perbedaan wilayah atau daerah perkembangbiakkan.

Ayam Kedu

Ayam kedu adalah ayam kampung yang paling banyak berkembang di kabupaten Magelang, Temanggung, dan beberapa daerah di Jawa Tengah. Ayam kedu dapat dibagi lagi menjadi 4 jenis berdasarkan penampilan dan warnanya. Pertama terdapat ayam kedu hitam yang sekilas memiliki warna hampir hitam semua dengan kulit pantat dan jengger yang masih kemerah-merahan. Kedua, ayam kedu cemani juga memiliki warna hitam namun memiliki bulu yang lebih mulus dengan hampir seluruh detail pada tubuhnya berwarna hitam.

Bobot ayam ini lebih berat dibandingkan ayam kedu hitam. Misalnya jantan dewasa akan memiliki bobot rata-rata 3-3,5 kg, sementara ayam kedu hitam hanya 2-2,5 kg. Selanjutnya ayam kedu putih yang memiliki warna putih mulus dengan jengger, kulit mukanya berwarna merah. Jenggernya biasanya tegak berbentuk wilah. Terakhir ayam kedu merah yang ditandai dengan warna bulu hitam mulus dengan kulit muka dan jengger berwarna merah dan kulit badan berwarna putih.

Ayam Nunukan

Ayam nunukan dikenal juga sebagai ayam kampung tawao. Ayam ini adalah jenis ayam lokal yang biasa ditemukan di pulau Tarakan di Kalimantan Timur. Karakteristik ayam nunukan ialah warna bulunya merah cerah atau merah kekuningan, dengan bulu sayap dan ekor yang tidak berkembang sempurna. Jenggernya berwarna merah dengan bentuk wilah dan bergerigi delapan.

Ayam Pelung

Ayam pelung adalah jenis ayam kampung yang ditemukan di kabupaten Cianjur dan Sukabumi. Ayam pelung memiliki tubuh besar dan tegak dengan tembolok yang menonjol. Kakinya panjang, kuat, dan pahanya memiliki daging yang tebal. Ayam pelung jantan memiliki jengger yang berwarna merah cerah dan tumbuh dengan kokoh. Sementara ayam betina memiliki jengger yang tidak berkembang dengan baik.

Ayam Sumatera

Ayam ini berasal dari Sumatera Barat dengan perawakannya yang gagah namun ukuran tubuhnya kecil. Pipinya penuh dan padat, keningnya tebal dengan kulit muka berwarna merah atau hitam. Karena tubuhnya yang kecil biasanya bobot ayam ini tidak lebih dari 2 kg.

Ayam Gaok

Ayam gaok berasal dari Madura dengan keunikan pada suaranya yang panjang dan lantang. Ayam gaok jantan memiliki tampilan tubuh besar, tegap, dan gagah dengan jengger dan wilah berwarna merah dan kaki berwarna kuning. Bulunya mayoritas berwarna kuning kehijau-hijauan.

Ayam Garut

Ayam garut bisa dikatakan sebagai ayam yang memiliki perawakan tubuh yang lebih besar dibandingkan jenis ayam kampung lainnya. Kulitnya yang berwarna kekuning-kuningan membuat jenis ayam ini menjadi produk ayam kampung unggulan di daerah kabupaten Garut. Karakteristik fisiknya memiliki paruh dan kaki berwarna kuning dengan warna bulu hitam putih acak. Keberadaan ayam Garut saat ini sudah langka untuk versi aslinya, sehingga praktisi ayam kampung di Garut berusaha mengembangkan dan memurnikan kembali ayam ras lokal ini agar dapat terus dilestarikan.

Ayam Broiler

Ayam broiler dikenal juga sebagai ayam negeri atau ayam ras pedaging. Ayam ini merupakan jenis ayam yang paling banyak diternakkan di Indonesia. Ayam broiler berasal dari hasil persilangan diantara jenis ras ayam unggulan, sehingga memiliki daya produktivitas yang tinggi terutama untuk memproduksi daging ayam. Ayam broiler memiliki kualitas yang berkelanjutan, mudah diternakkan di berbagai lingkungan serta bermutu genetik yang baik. Akan tetapi hal ini juga harus didukung oleh lingkungan, pakan berkualitas tinggi, sistem peternakan, dan perawatan kesehatan hewan ternak.

Di Indonesia perkembangan produksi ayam broiler sempat mengalami dinamika sebelum jenis ayam ini memiliki popularitas seperti sekarang. Pada tahun 1950-an, ayam broiler pertama kali diimpor dengan jenis White Leghorn, Island Red, New Hampshire dan Australop oleh komunitas Gabungan Penggemar Unggas Indonesia (GAPUSI). Saat itu impor ditujukan untuk menyilangkan ayam kampung dengan ayam impor sebagai sebuah hobi semata.

Berlanjut di tahun 1961-1970, ayam impor mulai dijadikan ternak komersil yang digalakkan untuk meningkatkan konsumsi protein hewani pada masyarakat Indonesia. Lebih lanjut, di tahun 1978 ayam broiler sudah dikenal dan dikonsumsi masyarakat luas, terutama karena adanya penurunan populasi sapi. Akan tetapi penjualan ayam broiler juga sempat berdampak besar hingga mengalami penurunan 50 persen di era krisis ekonomi 1998. Pasca krisis, peternakan ayam broiler mulai mengalami kebangkitan dan hingga kini menjadi ayam yang paling umum dikonsumsi masyarakat Indonesia.

Ayam broiler adalah jenis ternak yang hemat secara ekonomi, karena proses perkembangbiakkan yang mudah dan cepat. Produktivitasnya yang sangat baik dibuktikan dengan hasil ternak sudah bisa dipanen ketika berumur satu bulan atau 4-5 minggu. Dengan waktu yang relatif pendek, ayam broiler juga didukung dengan kebutuhan pakan yang kecil, serta bagian daging yang tebal. Ini menjadi sumber protein yang melimpah, murah dan mudah ditemukan di Indonesia.

Dikarenakan kemudahan dalam prosedur pemeliharaannya, ayam broiler juga banyak diternakkan secara mandiri maupun sebagai kemitraan. Meskipun disebut usaha ternak mandiri dan dilakukan oleh individu, namun biasanya peternakannya cukup luas dan produksinya juga sudah mapan. Akan tetapi resiko terhadap kerugian harus ditanggung sendiri. Sementara itu, peternakan ayam dengan kemitraan biasanya akan berkolaborasi dengan perusahaan peternakan besar. Sehingga jumlah populasi ayam juga melimpah, lebih mudah untuk mendapat kepercayaan masyarakat dalam proses penjualan hingga dapat meminimalisir kerugian.

Jenis-jenis Ayam Broiler

Ayam broiler di Indonesia memang memiliki variasi yang tidak sebanyak ayam kampung. Akan tetapi ayam broiler dalam skala internasional memiliki lebih dari 25 jenis. Di Indonesia sendiri jenis strain ayam broiler yang berkembang ada 3 yaitu Strain Cobb, Strain Ross dan Strai Hybro.

Strain Cobb

Strain Cobb adalah jenis ayam broiler yang paling banyak dibudidayakan. Lebih dari 60 negara memiliki jenis ayam broiler ini. Strain ini memiliki fokus pada pengembangan rasio pakan untuk menghasilkan daging sesuai yang diinginkan. Secara genetik, jenis ayam broiler ini dikembangkan sebagai ayam yang menghasilkan daging dada yang besar.

Ciri-ciri fisik lebih lanjut dari ayam Cobb adalah berbulu hitam dan beberapa jenis mungkin bisa ditemukan berwarna kuning. Ini dihasilkan dari persilangan bangsa ayam Plymouth Rock USA. Secara bobot, ayam Cobb rata-rata memiliki berat 1,8-2 kg. Biasanya ayam ini akan memiliki perawakan yang sedang namun daging pada bagian dada besar dan empuk. Ayam jenis ini mudah beradaptasi di iklim tropis dan panas.

Strain Ross

Strain Ross adalah jenis ayam yang dikembangkan untuk fokus daging yang berbeda. Pertumbuhan ayam ini cepat dan daya tahan terhadap lingkungan juga sangat baik. Fokus pengembangan Strain Ross adalah memiliki kaki yang kuat karena biasanya ukuran ayam ini kokoh dan berbadan besar. Ayam Ross dihasilkan dari bangsa ayam Cornish dan ayam yang berasal dari Inggris. Mayoritas warna bulu dari ayam broiler ini berwarna kuning dengan laju pertumbuhan yang sangat cepat.

Strain Hybro

Ayam ini dihasilkan dari ayam jenis ayam Euribrid di Belanda. Strain Hydro tidak berfokus pada daging atau bentuk kaki, melainkan daya tahan tubuh dan kekuatan untuk melawan penyakit unggas. Oleh sebabnya ayam Hybro juga tahan terhadap berbagai iklim tropis dan mampu melawan penyakit ascites. Selain itu, ayam ini juga ditujukan untuk menjaga keseimbangan sifat antara ayam broiler dan ayam breeder (ayam peternak). Biasanya fokus pengembangan juga menghasilkan produk karkas ayam yang maksimal.

Perbedaan Ayam Kampung Dan Ayam Broiler

Setelah mengetahui apa itu ayam kampung dan ayam broiler, maka untuk menentukan mana ayam yang terbaik perlu untuk mengetahui perbedaan dari kedua jenis ayam ini secara spesifik.

Cara Pemeliharaan

Bisa dikatakan bahwa untuk memelihara ayam kampung tidak sulit, karena biasanya ayam ini akan makan apapun yang tersedia di halaman dan bisa mencari makanan sendiri. Berbeda dengan ayam broiler memerlukan perawatan intensif dan pakan khusus. Selain itu ayam kampung biasanya memiliki Food Convertion Ratio (FCR) yang tinggi. Artinya ayam kampung membutuhkan lebih banyak makanan untuk bisa diubah menjadi daging. Hal ini terjadi karena mereka banyak berjalan, sehingga makanan diubah menjadi energi untuk melakukan aktivitas tersebut ketimbang menjadi lemak.

Di sisi lain, ayam broiler biasanya diternakkan memang untuk mendapatkan bahan pangan, baik itu untuk dagingnya maupun telurnya. Ayam broiler juga memerlukan makanan yang mengandung campuran bahan kimia (vitamin dan protein) dan pakan ayam khusus. Ini ditujukan agar mendapat kualitas daging yang sangat bagus. Hal baiknya dari ayam broiler ialah hewan ini tidak suka berjalan sehingga membutuhkan makanan yang lebih sedikit dan mudah menjadi gemuk. Dengan kata lain FCR dari ayam broiler juga rendah.

Hal lain yang membedakan cara pemeliharaan ayam kampung dan ayam broiler yaitu lingkungan atau tempat untuk memeliharanya. Ayam kampung membutuhkan ruangan yang lebih luas karena suka berkelana. Sementara ayam broiler hanya membutuhkan ruangan ukuran sedang dan sudah bisa menampung ayam broiler dalam jumlah banyak. Tak heran ketika berkunjung ke peternakan ayam broiler maka ditemukan ratusan ayam broiler yang saling berkerumun.

Harga

Harga ayam kampung jelas lebih mahal dibandingkan ayam negeri atau ayam broiler. Ini dikarenakan cara pemeliharaan ayam kampung yang kurang efektif, antara lain susah gemuk, butuh makanan lebih banyak, dan ruang atau halaman yang luas. Harga yang mahal juga digadang-gadang disebabkan oleh ayam kampung lebih organik dan lebih kaya akan gizi.

Sebaliknya ayam broiler memiliki harga yang lebih murah dari ayam kampung karena pemeliharaanya efektif, produksinya cepat, dan kebutuhan makannya sedikit. Sebagai perbandingan, harga ayam broiler per kilo di bulan Juli 2021 adalah 34.000 rupiah. Sementara ayam kampung yang sudah dipotong harga per kilonya mulai dari 58.000-70.000 rupiah.

Bentuk Tubuh Ayam

Perbedaan selanjutnya terletak pada bentuk tubuh dari masing-masing ayam yang sangat berbeda. Kebanyakan ayam kampung memiliki bentuk tubuh yang gagah, lebih kenyal, dan tidak terlalu gemuk. Pada bagian dada ayam kampung biasanya terlihat beberapa tulang yang muncul ke permukaan. Ini dikarenakan ayam kampung tidak memiliki banyak lemak di tubuhnya. Sedangkan ayam broiler biasanya memiliki bentuk tubuh yang bervariasi namun biasanya berukuran lebih kecil, lebih gemuk, dan tidak gagah. Bagian ekornya juga tidak terlalu menjulang tinggi dibandingkan ayam kampung.

Tekstur Dan Kulit Pada Daging

Bisa dikatakan bahwa ukuran daging ayam kampung lebih kecil dibandingkan ayam broiler yang dagingnya tebal dan gemuk. Ayam broiler memiliki daging yang lebih banyak karena memang diberikan vitamin dan nutrisi khusus untuk memaksimalkan perkembangan daging. Di sisi lain tekstur dari dua jenis ayam ini juga berbeda. Tekstur daging pada ayam kampung lebih alot sementara broiler lebih empuk. Begitu juga dengan kulit ayam kampung yang lebih keras, tidak mudah sobek, dan rendah lemak.

Sedangkan ayam broiler kulitnya mengandung banyak lemak dan mudah sobek. Hal ini membuat proses mengolah ayam kampung juga menjadi lama dibandingkan dengan ayam broiler.

Warna Dan Rasa Daging

Daging ayam kampung berwarna lebih gelap dibandingkan dengan ayam broiler. Akan tetapi rasa dagingnya lebih gurih. Warna pekat dari daging ayam kampung disebabkan kandungan hemoglobin pada hewan ini sangat tinggi sehingga menjadi sumber zat besi yang baik untuk kesehataan. Sementara daging ayam broiler cenderung berwarna pucat atau putih kemerahan. Meskipun rasanya kurang gurih dibandingkan ayam kampung, namun karena dagingnya mudah diolah biasanya lebih banyak variasi makanan yang menggunakan ayam broiler.

Kandungan Gizi

Sebenarnya kandungan gizi pada kedua jenis ayam ini tidak terlalu berbeda, terutama kalori dan proteinnya. Oleh sebabnya baik ayam kampung maupun ayam broiler sama-sama menjadi sumber protein yang baik. Akan tetapi perbedaan gizi terletak pada kandungan lemaknya. Sebagai gambaran dalam 100 gram daging ayam kampung mengandung 246 kkal energi, 37,9 gram protein, dan 9 gram lemak. Sementara dalam setiap 100 gram daging ayam broiler terdiri 295 kkal energi, 37 gram protein, dan 14,7 gram lemak.

Dari profil nutrisi tersebut dapat dilihat bahwa ayam broiler menghasilkan lebih banyak energi namun sekaligus tinggi lemak. Sementara ayam kampung lebih sedikit energi namun lebih kaya akan zat besi dan rendah lemak. Perlu diketahui bahwa sebelum BPOM melarang penggunaan suntik hormon pada daging, ayam broiler bisa menjadi daging yang tidak sehat karena suntikan hormon dapat meningkatkan resiko kanker. Namun saat ini larangan untuk menggunakan suntik hormon sudah banyak dipatuhi, sehingga dapat meminimalisir resiko dari konsumsi ayam broiler.

Penggunaan Bahan Kimia

Sudah bukan rahasia lagi bahwa ayam broiler sering dianggap sebagai ayam yang kurang sehat, dibandingkan ayam kampung yang jauh lebih organik. Hal ini dikarenakan ayam boiler mengalami kondisi tertentu yang seolah memaksa peternak untuk menyutikkan dan menggunakan antibiotik dosis tinggi, suntik hormon, vaksin serta penggunaan zat kimia berbahaya.

Misalnya, ayam broiler cenderung mudah terserang penyakit sehingga diberi antibiotik sintetis dan arsenik, yang jika dikonsumsi mungkin menyebabkan resisten antibiotik. Selain itu, ayam broiler diharapkan menghasilkan telur yang lebih cepat sehingga peternak biasa menggunakan suntik hormon agar telur yang dihasilkan lebih banyak dan efisien secara waktu. Akan tetapi apabila manusia mengonsumsi ayam jenis ini maka akan meningkatkan resiko gangguan kesuburan dan hormonal.

Penggunaan bahan-bahan berbahaya tersebut dapat menyebabkan gangguan kesehatan, seperti pusing, mual, gangguan saraf, kanker, menurunnya sistem imun dan penyakit kronis lainnya. Hal ini yang mendorong BPOM melarang penggunaan suntik hormon maupun penggunaan zat kimia pada daging. Ini juga menjadi salah satu alasan mengapa saat ini mulai banyak peternak ayam broiler yang mengedepankan konsep organik, yaitu ayam broiler yang hanya diberikan pakar organik tanpa obat, antibiotik, hormon, dan lain-lain.

Sebagai alternatif, biasanya untuk menguatkan daya tahan tubuh ayam organik menggunakan minuman berupa jamu alami dari campuran jintan hitam dan bawang putih. Oleh sebab itu, selama memilih ayam yang tidak menggunakan suntikan bahan kimia, maka baik ayam kampung maupun ayam broiler sama-sama baik dikonsumsi.

Jadi, Pilih Mana?

Setiap jenis ayam memiliki karakterisitik dan kelebihannya masing-masing. Bagi para produsen atau peternak ayam mayoritas mungkin memilih ayam broiler untuk diternakkan karena efesiensi pada pemeliharaannya. Sementara bagi para konsumen, hal ini sangat bergantung pada berbagai pertimbangan. Jika ingin mengolah daging ayam dengan durasi memasak yang ringkas, maka lebih baik menggunakan ayam broiler. Namun apabila ingin memasak dalam durasi yang lama dengan rasa daging yang lebih gurih serta rendah lemak, maka memilih ayam kampung adalah pilihan yang lebih baik.

Ayam kampung bisa diolah menjadi ayam kukus, gulai ayam, tongseng ayam, maupun opor ayam. Sementara ayam broiler mungkin lebih cocok dimasak menjadi ayam panggang, ayam goreng, sate ayam, dan sebagainya. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa kedua jenis ayam ini dapat saling menggantikan sesuai kebutuhan dan ketersediaan. Perlu diingat juga bahwa ayam broiler memiliki kandungan lemak yang lebih banyak terutama di bawah kulitnya. Oleh sebab itu untuk mengurangi kadar lemak, lebih baik untuk mengonsumsi ayam broiler bagian dada yang tanpa lemak.

Lebih lanjut, untuk memilih mana yang lebih baik juga penting unuk melihat kesegaran dan asal produksi ayam. Beberapa ayam yang sudah dipotong dan dijual di pasar tradisional biasanya memiliki kesegaran yang berbeda-beda. Oleh sebabnya pastikan memilih ayam segar yang dicirikan dengan warna merah muda bukan abu-abu atau gelap, bau segar bukan bau anyir menyengat, tekstur kenyal bukan lembek berair dan darah ayam yang keluar dalam jumlah wajar. Pemilihan daging ini bertujuan untuk memastikan nutrisi ayam tetap terjaga, memimalisir gangguan kesehatan serta memberikan rasa ayam yang lebih enak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *