Kopi Robusta vs Arabica vs Liberica, Apa Bedanya?

Robusta, arabica, dan liberica adalah jenis kopi yang sudah populer di dunia. Tiga jenis kopi tersebut memiliki ciri khas dan karakteristik yang berbeda-beda. Hal ini dipengaruhi oleh daerah asal dan lingkungan perkebunannya. Perbedaan kopi robusta, arabica dan liberica dapat diamati dari bentuk, rasa, aroma, dan beberapa karakter lain yang menarik untuk dibahas. Ini juga termasuk menjabarkan keunikan tersendiri dari masing-masing kopi yang menjadi dasar untuk memilih kopi favorit.

Kopi Robusta

Kopi robusta berasal dari Afrika Barat yang merupakan keturunan beberapa spesies kopi terutama Coffea Canephora. Jenis kopi ini banyak tumbuh di bagian Afrika Tengah dan Afrika Barat yang terbentang dari Liberia hingga Tanzania serta bagian selatan dari Angola. Tumbuhan ini tidak dikenali sebagai kopi hingga 1897, satu abad setelah penemuan kopi arabica. Di Indonesia perkebunan kopi robusta dihasilkan di beberapa daerah seperti provinsi Bengkulu, Sumatera Selatan dan Lampung. Luas perkebunan di daerah ini menghasilkan 67 persen dari total lahan perkebunan kopi robusta di Indonesia. Luas ini setara dengan 777,037 hektar.

Tanaman Coffea Canephora tumbuh subur di ketinggian 400-700 mdpl. Temperatur yang cocok untuk pohon kopi robusta adalah 21-24 derajat Celcius. Tumbuhan ini memiliki sistem akar yang dangkal dan tumbuh menjadi pohon perdu yang tingginya mencapai 10 meter. Kopi robusta memiliki pohon yang pertumbuhannya menyerupai payung. Daunnya tipis dengan tepi daun seperti bergerigi. Bunga kopinya berwarna putih dengan kelopak berjumlah 5-6.

Buah kopi ini akan bergerombol ketika sudah matang dan berwarna merah. Umumnya tanaman ini menghasilkan buah sejak 4 tahun masa tanam. Produktivitas dari tanaman ini cukup baik karena satu hektar lahan dari kopi robusta dapat menghasilkan sekitar 1,2 ton per tahun. Ini juga disebut-sebut sebagai tanaman kopi yang lebih tahan hama dan penyakit. Namun meskipun memiliki produktivitas yang baik, kopi robusta tidak memiliki aroma dan kualitas rasa seperti kopi arabica yang banyak disukai. Tetapi penilaian ini subjektif karena beberapa orang memiliki selera tersendiri.

Kopi robusta mengandung kadar kafein yang lebih banyak dibandingkan kopi arabica. Hal ini membuat rasanya pun menjadi lebih kuat. Rasa kopinya pahit, sedikit menyerupai kacang-kacangan serta terasa lebih kasar. Aromanya juga bahkan lebih mirip dengan kacang-kacangan. Beberapa orang yang menyukai kopi pahit cenderung akan memiliki jenis kopi ini. Secara harga, kopi robusta lebih murah dibandingkan dengan kopi arabica. Misalnya jika 1 kg kopi robusta seharga 180-190 ribu rupiah, maka kopi arabica harganya akan berkisar di angka 230-250 ribu rupiah per kg.

Kopi Arabica

Kopi arabica adalah jenis kopi yang paling populer di dunia. Mayoritas kopi yang dijual di toko, supermarket, kafe, maupun warung berjenis kopi arabica. Namun rasanya tidak selalu sama karena tergantung berbagai fakor yang mempengaruhinya. Termasuk dari asal biji, kesegaran biji dan intensitas proses menyangrai. Kopi arabica berasal dari biji tanaman Coffea Arabica. Tanaman ini mayoritas berasal dari Amerika Selatan, khususnya Brazil sebagai produsen utama dari biji kopi arabica ini. Meski demikian, asal muasal kopi arabica sebenarnya berasal dari Afrika, tepatnya di negara Ethiopia.

Dikarenakan sebagai komoditi internasional, tak heran apabila kopi arabica menjadi kopi yang paling banyak dikonsumsi. Hampir 60 persen perdagangan kopi global dikuasai oleh jenis kopi ini dan pernah mencapai rekor perdagangan tertinggi tahun 2018-2019 yaitu mencapai 55 juta kantong ton per tahun. Perlu diketahui bahwa kopi arabica dicirikan dengan aroma yang intens dan rumit yang dapat disamakan dengan aroma bunga, buah, madu, cokelat, karamel dan roti panggang. Akan tetapi untuk jenis kopi yang dijual eceran di warung atau kafe biasanya jarang menemukan kopi asli arabica dengan kualitas tinggi sehingga aroma dan rasanya kurang khas.

Secara habitat biji kopi dari tumbuhan arabica hidup di dataran tinggi sekitar 3000-7000 mdpl dengan suhu lingkungan 16-20 derajat Celcius. Tanaman kopi ini tumbuh subuh di daerah subtropis yang memiliki curah hujan merata. Sayangnya tanaman ini tidak mudah untuk tumbuh dan dirawat karena sering terserang hama dan penyakit tanaman. Biasanya tanaman kopi akan menghasilkan buah setelah dua tahun masa tanam. Sekali panen pada lahan 1 hektar yang dikelola dengan baik akan menghasilkan sekitar 1 ton buah kopi gelondongan.

Secara morfologi bentuk buahnya lonjong. Sementara di dalam buah terdapat biji kopi arabica dengan bentuk oval dengan ukuran sedikit lebih besar dibandingkan dengan kopi robusta. Selain itu bentuknya juga pipih dengan struktur garis lipatan pada biji tidak lurus atau melengkung. Biji kopi ini juga memiliki tekstur yang lebih halus sehingga melahirkan jenis kopi yang sangat kental di mulut. Lebih lanjut, pohon dari kopi arabica biasanya memiliki tinggi 2-4 meter. Daunnya berwarna hijau tua dengan aroma yang juga harum. Pertumbuhan cabangnya berlawanan arah dan saling berpasangan.

Di Indonesia ada juga perkebunan kopi arabica yang dapat ditemui di pegunungan Toraja, Sumatera Utara. Beberapa daerah lain yang juga memiliki lahan pembudidayaan tanaman kopi ini berada di Aceh dan beberapa daerah di pulau Jawa dengan beragam varietasnnya. Varietas kopi arabica yang dikembangkan di Indonesia diantaranya kopi Arabica Pasumah, Marago, Typica, dan Congensis. Perlu diketahui varietas kopi Typica merupakan jenis kopi arabica yang pertama kali dibudidayakan di Indonesia yang dulunya dibawa oleh kolonial Belanda. Kini perkebunan kopi tersebut dapat ditemukan di wilayah Sumatera, Sulawesi dan Flores.

Kopi Arabica memiliki tingkat keasaman yang cukup rendah sehingga rasanya lebih lembut dan tidak pekat. Oleh sebab itu kadar kafein dalam jenis kopi ini cukup rendah sehingga aman dikonsumsi untuk seseorang yang memiliki masalah dengan lambung. Meski dengan kadar kafein yang rendah, jenis kopi ini memiliki rasa yang kaya yakni rasa manis, kecut, sedikit asam, sedikit pahit dengan paduan rasa yang seimbang. Dengan kata lain jenis kopi ini cenderung lebih manis dan halus.

Kopi Liberica

Berasal dari Liberia di Afrika Barat, tanaman kopi liberica menghasilkan buah kopi yang lebih besar dan bentuknya tidak beraturan dibandingkan dengan tanaman arabica. Banyak berpendapat bahwa jenis kopi ini memiliki aroma bunga dan buah, tetapi ketika dibuat menjadi kopi, memiliki rasa kayu yang utuh.

Disebut sebagai salah satu jenis kopi yang jarang ditemukan, kopi liberica memiliki keunikan tersendiri dibandingkan jenis kopi lain. Orang yang pernah mencoba kopi liberica mengatakan rasanya tidak seperti kopi yang mereka miliki sebelumnya. Berkat profil rasa yang kompleks, biji liberica sering ditambahkan ke campuran kopi untuk memberikan lebih banyak dimensi.

Pada tahun 1890-an, tanaman kopi liberica diangkut dan dibudidayakan di bagian lain dunia, termasuk Filipina dan Indonesia. Ketika pembudidayaan kopi liberica mulai mendunia disusul dengan berita kematian massal dari tanaman kopi arabica di seluruh dunia akibat penyakit Coffee Rust. Penyakit ini disebabkan oleh jamur Hemileia vastatrix yang terlihat seperti karat besi. Setelah terinfeksi jamur, tanaman arabica akhirnya kehilangan semua daunnya, serta kemampuannya untuk menghasilkan buah dan biji.

Pohon Coffea Liberica tumbuh setinggi 9 meter dengan buah yang lebih besar dibandingkan biji kopi arabica. Namun sebenarnya buahnya sendiri tidak memiliki kualitas dan bentuk yang seragam. Biasanya tanaman kopi ini tumbuh di daerah dataran rendah. Di Indonesia, pohon ini tumbuh di perkebunan di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Kalimantan Barat. Secara umum kelangkaan dan pasokan terbatas dari kopi liberica di tingkat global membuat kopi ini cukup mahal dan jarang ditemukan.

Dibandingkan dengan tanaman kopi arabica, tanaman liberica lebih mampu beradaptasi. Tanaman ini lebih tahan terhadap hama, mudah beradaptasi di iklim panas, bahkan dapat tumbuh di dataran rendah. Akan tetapi ketika wabah Coffe Rust sudah pulih di abad ke 19, kopi liberica kehilangan pamor lagi termasuk di Indonesia. Hal ini yang menjadikan kopi arabica kembali populer dan menjadi kopi paling disukai oleh masyarakat dunia. Saat ini tanaman kopi liberica mulai terancam punah karena tingkat budidayanya sangat rendah.

Terlepas dari hal tersebut, perlu diketahui bahwa kandungan kafein dari kopi liberica cukup tinggi yakni sekitar 1,12-1,26 persen. Aroma kopinya menyengat. Rasa kopi liberica cenderung pahit dan sangat kental. Meskipun kadar kafeinnya tinggi namun rasanya tidak sepahit kopi robusta. Secara garis besar karakteristik dari kopi liberica lebih mirip dengan kopi robusta dibandingkan kopi arabica. Saat kopi liberica diseduh maka mengeluarkan aroma buah dan bunga. Sebagian orang berpendapat bahwa sensasi rasanya mirip tembakau. Kopi liberica di Indonesia dijual secara lokal oleh petani kecil, tetapi anda juga dapat menemukannya melalui toko eceran online.

Kopi Robusta vs Arabica vs Liberica: Pilih Mana?

Setelah mengetahui penjelasan tentang masing-masing kopi dan karakteristiknya, maka menentukan mana kopi yang lebih enak sebenarnya sangat subjektif. Apabila anda menyukai rasa kopi yang kaya, lebih fruity dengan aroma yang disertai buah-buahan, bunga dan kacang-kacangan maka kopi arabica adalah pilihan terbaik. Kopi ini juga menawarkan rasa yang sedikit manis dan rasa kopinya cenderung ringan.

Di Indonesia kopi arabica banyak dijual dengan berbagai merk seperti Arabica Gold By Excelso, Mandailing Washed, dan Bali Kintamani Kopi Arabika. Sementara itu, untuk jenis-jenis kopi arabica yang juga populer di Indonesia adalah kopi Gayo, kopi Toraja, Kopi Wamena, Kopi Bali dan Kopi Flores. Jenis kopi ini mudah ditemukan di warung, kafe, restoran maupun dalam bentuk bubuk sachet.

Sementara itu, kopi robusta mungkin akan cocok menemani hari-hari anda hanya jika anda penyuka rasa kopi pahit dengan kandungan kafein yang tinggi. Karakteristik dari rasanya adalah chocolaty yang mirip dengan kacang-kacangan, namun lebih kasar dan pahit. Beberapa merk kopi robusta yang bisa anda coba adalah Nescafe Gold, Ottten Coffee, Fine Robusta dan Lampung Robusta.

Berikutnya untuk anda yang suka dengan keseimbangan rasa pahit dan manis bersamaan, maka kopi liberica bisa menjadi pertimbangan anda. Kopi liberica juga tetap menawarkan aroma kacang-kacangan meskipun tidak seharum kopi arabica. Banyak orang juga yang lebih setuju bahwa kopi liberica biasanya justru beraroma nangka. Jika anda penasaran dengan rasa kopi liberica ini dapat mencoba beragam merk lokal yang tersedia di Indonesia seperti Banyuwangi Liberika, Liberika Sumber Jaya, Admiral Drip Liberika dan sebagainya.

Tips Memilih Kopi Yang Terbaik

Meskipun secara umum masing-masing jenis kopi memberikan rasa khas tersendiri, namun tidak semua jenis kopi menawarkan hasil yang seragam. Dengan kata lain jika satu jenis kopi bisa menghasilkan beberapa varian rasa yang sedikit berbeda tergantung dengan proses pasca panen, pemanggangan, penggilingan hingga penyeduhan. Sebagai contoh, ketika biji kopi digiling maka minyak akan keluar dari biji kopi yang mengeluarkan rasa khas dari masing-masing kopi.

Menggiling kopi sesaat sebelum diseduh langsung akan menghasilkan rasa segar dan aroma yang maksimal. Tentu saja ini akan berbeda dengan kopi bubuk atau kopi sachet yang sudah melewati proses produksi yang cukup panjang. Akan tetapi, jelas bahwa tidak semua orang memiliki alat penggiling biji kopi sehingga alternatif yang dapat digunakan adalah membeli versi bubuk. Agar aroma dan rasa kopi tetap terjaga pilihlah kopi yang diproses secara alami, asli tanpa campuran bahan lain serta dalam kemasan kecil sehingga tidak perlu disimpan terlalu lama. Kopi bubuk memang praktis namun semakin lama disimpan maka kesegaran dan aromanya pun semakin berkurang.

Selanjutnya, jika anda ingin menikmati kopi dengan rasa yang lebih berbeda dan modern mungkin dapat menikmati kopi campuran arabica dan robusta. Rasa kopi Arabica yang lebih kompleks dipadukan dengan tekstur dari kopi robusta yang lebih creamy menjadi seduhan kopi dengan rasa modern. Campuran ini disebut coffee blend, yang biasa dijual dengan tambahan gula, susu maupun alternatif pengganti gula lainnya. Perlu diingat bahwa rentang rasa yang dihasilkan dari berbagai jenis kopi sangat luas, bisa terasa flowery, nutty ataupun herby. Oleh sebabnya perhatikan label kemasan ketika membeli produk kopi untuk memastikan rasanya cocok dengan selera anda.

Tetap ingat bahwa kopi yang disebut enak adalah hasil kombinasi dari kerja keras petani, proses pasca panen, proses pemanggangan dan cara barista menggiling dan menyeduh kopi itu sendiri. Sebagai kesimpulan, pilihan rasa kopi itu sifatnya sangat individual, sehingga tidak ada pedoman baku untuk memilih mana yang lebih disukai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *