8 Rempah yang Banyak Diekspor

Indonesia telah lama dikenal sebagai negara dengan penghasil rempah terbesar di dunia. Hal ini dapat dibuktikan bahwa banyaknya negara-negara yang ingin menguasai rempah Indonesia. Rempah-rempah yang terdapat di Indonesia bernilai tinggi, yang memiliki banyak kegunaan dalam masakan dan juga pengobatan.

Rempah-rempah di Indonesia dulunya pun bernilai sangat tinggi, yang harganya melebihi harga emas. Sebagai negara dengan penghasil rempah terbesar di dunia, tentunya Indonesia juga banyak mengekspor rempah ke beberapa negara. Cari tahu selengkapnya di bawah ini mengenai rempah yang banyak diekspor.

Cengkeh

Cengkeh dengan nama latin Syzygium aromaticum adalah rempah yang berasal dari kuncup bunga kering dari keluarga Myrtaceae. Tanaman rempah ini berasal dari daerah Maluku Utara, tepatnya di Ternate dan Tidore. Selain ditanam di Indonesia, cengkeh juga terdapat di Madagaskar, India, Sri Lanka, dan Zanzibar.

Apapun Bumbunya, Tidak Pakai MSG

Rempah beraroma ini merupakan salah satu rempah yang banyak diburu oleh bangsa Eropa, dan bahkan hingga kini, cengkeh menjadi salah satu rempah yang paling banyak diekspor. Ini bukanlah hal yang mengejutkan sebab cengkeh memiliki banyak kegunaan. Cengkeh paling banyak digunakan sebagai bumbu di beberapa negara termasuk wilayah Asia, Afrika, dan Mediterania.

Sebagai bumbu, cengkeh memberikan rasa yang kuat pada hidangan daging dan kari. Di Indonesia, cengkeh banyak digunakan sebagai bahan rokok kretek. Cengkeh juga merupakan komponen penting sebagai bumbu pai labu dan roti rempah speculaas. Cengkeh juga memiliki khasiat pengobatan yang bisa membantu tubuh untuk mengobati diare, meredakan sakit perut, dan meredakan rasa mual.

Tak hanya itu, kandungan utama cengkeh, yaitu eugenol, juga secara menakjubkan dapat menjadi obat untuk sakit gigi, meredakan iritasi saraf gigi yang bermasalah, menjadi anestetik untuk gigi berlubang, serta membantu mengatasi pembengkakan gusi akibat infeksi. Cengkeh juga dapat menjadi bahan dari disinfektan alami. Untuk beberapa alasan ini. Tak heran jika cengkeh adalah rempah yang dulunya diperebutkan.

Daerah penghasil cengkeh terbesar terutama Maluku Utara, khususnya Ternate dan Tidore, daerah Jawa Timur, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Timur, dan Pulau Sulawesi. Dalam hal ekspor, data dari Food Agriculturan Organization (FAO) pada tahun 2020, produksi cengkeh Indonesia mencapai 133.604 ton. Produksi cengkeh tak hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga diekspor untuk memenuhi pasar dunia. Pada Januari hingga April 2020, Indonesia berhasil menjadi eksportir cengkeh hingga senilai US$37,26 juta. Hal tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara penghasil cengkeh terbesar di dunia.

Namun, sayangnya nilai ekspor cengkeh semakin menurun. Badan Pusat Statistik (BPS) pada periode Januari hingga Oktober 2022 menunjukkan bahwa nilai ekspor cengkeh menurun dari 53,71% menjadi 8,2 juta kg jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2021. Dengan demikian, nilai ekspornya pun turut menurun menjadi US$48,15 juta atau setara dengan Rp 752 miliar (asumsi kurs Rp 15.620/US$), anjlok 42,05% dari US$83 juta pada waktu yang sama tahun lalu.

Lada

Lada menjadi rempah yang hampir selalu tersedia di setiap rumah tangga. Lada merupakan rempah dengan segudang kegunaan, mulai dari memperkuat rasa masakan, menjadi bahan marinasi, hingga menyamarkan bau amis pada daging. Dalam hal kesehatan, lada merupakan rempah yang mngandung vitamin antioksidan seperti vitamin C, dan vitamin A. lada juga merupakan sumber kelompok-B kompleks penting vitamin seperti riboflavin, niacin, pyridoxine, dan thiamin.

Lada telah lama menjadi incaran banyak orang di seluruh dunia. Selain itu, rempah ini merupakan komoditas penting dalam jalur perdagangan rempah dunia. Di Indonesia, komoditas penting ini banyak tersebar di beberapa wilayah, termasuk Bangka Belitung, Bengkulu, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Lampung, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tengah.

Komoditas rempah utama ini tak hanya berupa lada hitam, namun juga termasuk lada putih. Indonesia, khususnya daerah Kepulauan Bangka Belitung, merupakan daerah yang menghasilkan varietas Lada Putih Muntok terbaik. Ini merupakan varietas lada putih yang dibudidayakan di kota Muntok, yaitu kota yang terletak di sebelah barat Pulau Bangka.

Di antara banyaknya daerah yang menghasilkan lada, Bangka Belitung, dan Lampung merupakan daerah penghasil utama lada. Menurut data dari Kementerian Perdagangan, lada menguasai total 18,7% dari keseluruhan total ekspor rempah Indonesia pada kuartal pertama di tahun 2020 dengan nilai mencapai US$40,88 juta.

Pala

Pada era kolonialisme, pala merupakan komoditas yang paling berharga dan menjadi incaran bagi bangsa Eropa. Dengan nama latin Myristica fragrans, pala adalah pohon cemara asli Kepulauan Maluku, tepatnya di Banda Neira. Di antara daerah tropis lainnya seperti Guangdong dan Yunnan di Cina, Malaysia, Taiwan, Grenada di Karibia, Kerala di India, Sri Lanka dan Amerika Selatan, Indonesia merupakan negara dengan penghasil pala terbanyak.

Komoditas ini dulunya adalah rempah yang paling berharga, dan tercatat bahwa masa kolonialisme, harga pala setara dengan logam mulia. Secara umum, bunga pala berguna untuk manisan, sementara bijinya dapat digunakan sebagai penyedap rasa masakan. Karena rasanya yang cenderung pedas dan hangat, pala juga berkhasiat dalam menghangatkan tubuh serta menjaga metabolisme tubuh.

Pala yang diproduksi di Indonesia mengandung minyak atsiri dengan kualitas terbaik di dunia, ini juga termasuk minyak atsiri pada cengkeh. Indonesia juga menjadi pemasok kebutuhan minyak pala dunia hingga lebih dari 90%. Maluku adalah daerah yang memproduksi minyak pala sebanyak 50% dari total keseluruhan minyak pala yang diproduksi di Indonesia.

Selama periode caturwulan pertama di tahun 2020, Indonesia berhasil melakukan ekspor pala utuh senilai 26,47 juta dollar AS, dan bubuk pala senilai 7,04 juta dollar AS. Pala merupakan bahan baku penghasil minyak atsiri yang termasuk ke dalam komoditas ekspor Indonesia. Ini memberikan bukti bahwa Indonesia adalah negara dengan komoditas yang bernilai tinggi di pasar dunia.

Kayu Manis

Kayu manis yang juga dikenal sebagai Cinnamon ini merupakan salah satu rempah yang banyak diekspor. Rempah ini diambil dari kulit bagian dalam yang kering. Ciri khas kayu manis terletak pada aromanya yang kuat dan manis, serta memiliki rasa yang manis dan pedas. Dengan ini, kayu manis kerap kali menjadi bahan dalam banyak hidangan manis, seperti roti, atau kue kering.

Ini juga bisa menjadi obat alami mulai dari mengatasi gejala masuk angin, mencegah kanker, mengobati luka kronis, dan masih banyak lagi. Bahkan, kombinasi kayu manis dan teh dapat mengatasi gejala kecemasan. Kayu manis mengandung senyawa utama yaitu cinnamaldehyde, yang berperan seebagai penurun gula darah.

Kayu manis termasuk dalam komoditas yang banyak diperdagangkan. Di Indonesia sendiri, daerah pengahsil kayu manis terletak di Jambi, yaitu di Kabupaten Kerinci dan Kabupaten Merangin. Daerah tersebut memproduksi kayu manis dalam jumlah besar, dan bahkan Jambi memenuhi sebanyak 45 persen permintaan kayu manis dunia. Negara dengan permintaan kayu manis tertinggi adalah Amerika Serikat, Belanda, Jerman, dan Singapura.

Andaliman

Andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC) merupakan khas Batak yang berasal dari kulit luar buah dari tumbuhan yang termasuk dalam suku jeruk-jerukan. Ini termasuk rempah dengan bentuk butiran kecil yang sekilas tampak seperti lada atau merica, serta memiliki rasa yang juga cukup pedas. Karena berasal dari suku jeruk-jerukan, andaliman memiliki aroma jeruk yang khas.

Dalam masakan khas Batak, andaliman menjadi bumbu yang sangat penting, yang biasanya digunakan sebagai pengawet alami untuk daging dan ikan. Pada masakan khas Batak Toba, andaliman sangat penting dalam masakan ikan mas arsik, natinombur, dan sangsang. Rempah yang diambil dari kulit buah ini berasal dari daerah Kabupaten Toba Samusir dan Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Andaliman banyak tumbuh pada ketinggian 1.100 hingga 1.500 meter di atas permukaan laut.

Andaliman tumbuh liar di daerah Kabupaten Toba Samusir dan Tapanuli Utara, sehingga andaliman juga digunakan dalam kuliner khas Batak. Dengan demikian, andaliman lebih banyak dikenal sebagai “Merica Batak”. Sayangnya, biji dari “merica Batak” ini sulit berkecambah, sehingga andaliman menjadi rempah yang sulit dibudidayakan.

Rempah khas Batak ini mungkin cukup asing bagi sebagian orang, karena andaliman tak banyak digunakan di daerah lainnya. Meski demikian, andaliman termasuk komoditas rempah khas Sumatera Utara yang banyak diekspor ke Jerman. Data dari Kementrian Pertanian menyebutkan bahwa andaliman diekspor sebanyak 274 kilogram, dengan nilai Rp 431 juta.

Vanili

Vanili (Vanilla planifolia) merupakan tanaman yang biasanya berguna sebagai pengharum makanan. Tanaman ini juga termasuk komoditas yang banyak diekspor. Sebagai salah satu pengharum baik itu dalam makanan atau minuman, vanili bisa ditemukan dalam bentuk ekstrak yang diolah secara sintetis, dan juga dalam bentuk alami.

Vanili memiliki aroma manis, sehingga banyak digunakan sebagai bahan baku pembuatan kue. Ini merupakan komoditas penting dengan harga yang tergolong mahal, bahkan harga 1kg vanili kering mencapai 2 juta hingga 9 juta rupiah. Karena harganya yang mahal, vanili disebut sebagai harta karun hijau Indonesia.

Indonesia merupakan negara ketiga penghasil vanili terbanyak dan terbaik di dunia setelah Madagaskar dan Perancis di tahun 2019 lalu. Kementrian Perdagangan juga mencatat bahwa selama periode 2015 sampai 2019, vanili diproduksi besar-besaran hingga sebesar 32,55 persen. Di tahun 2020, harga vanili per kilogramnya mencapai Rp. 2,8 juta. Negara global yang menjadi tujuan utama pasar ekspor Indonesia di komoditas vanili termasuk Amerika Serikat, Belgia, Filipina, Jerman, Kanada, Mauritius, dan Perancis.

Kapulaga

Kapulaga termasuk dalam rempah yang diminati pasar ekspor di seluruh dunia, terutama di negara-negara Timur Tengah, India, dan Mesir. Kapulaga sendiri banyak digunakan sebagai bumbu masakan termasuk bahan penyedap kue, sebagai salah satu bahan dalam pembuatan sabun atau krim kecantikan, dan bahkan parfum. Biji, minyak, dan ekstrak kapulaga diyakini berkhasiat dalam pengobatan tradisional, misalnya untuk mengobati batuk dan pilek.

Kapulaga paling banyak diproduksi di daaerah Jawa Tengah, tepatnya di wilayah Purbalingga yang digadang-gadang sebagai sentra kapulaga, Jawa Barat pun juga dikenal sebagai daerah penghasil kapulaga. Meskipun daerah tersebut bukan penghasil kapulaga terbesar dunia, budidaya kapulaga di Jawa Tengah dan Jawa Barat cukup potensial.

Kapulaga diberi julukan “Queen of Spices”, karena ini merupakan komoditas dengan kegunaan yang beragam, serta rempah dengan harga termahal di dunia setelah saffron dan vanilla. Badan Karantina Pertanian menyatakan bahwa “Queen of Spices” ini menarik minat pasar global yang permintaannya meningkat hingga 54,2% pada kuartal pertama tahun 2020, jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Negara dengan tujuan utama dalam pasar ekspor Indonesia yaitu Thailand, Tiongkok dan Vietnam.

Jahe

Dari indonesia untuk dunia

Rempah lainnya yang banyak diekspor adalah jahe. Rempah yang termasuk dalam famili Zingiberaceae ini merupakan bahan baku dari banyak produk obat dan berguna dalam pengobatan tradisional. Jahe memiliki banyak manfaat dalam dunia pengobatan, misalnya sebagai pereda mual, penangkal virus dan bakteri, pereda nyeri, penguat imunitas tubuh, dan lain sebagainya.

Jahe juga berguna dalam dunia kuliner, misalnya negara Eropa banyak memanfaatkan jahe sebagai bahan baku pembuatan kue atau bumbu masakan. Rempah ini paling banyak diproduksi di wilayah Jawa Timur. Bahkan Badan Pusat Statistik mencatat produksi jahe di Jawa Timur pada tahun 2020 mencapai 45,09 ribu ton.

Kemudian disusul dengan Jawa Barat yang memproduksi jahe sebanyak 34,9 ribu ton. Selanjutnya, Jawa Tengah juga menjadi pemasok jahe terbanyak ketiga yang memproduksi jahe sebanyak 31,6 ribu ton. Jahe paling banyak diekspor ke negara seperti Bangladesh, Amerika Serikat, Belanda, Jepang, Jerman, Hongkong, India, Malaysia, Singapura, dan Prancis.

Rempah-rempah di atas memiliki kegunaan yang luas dan juga memiliki nilai jual yang tinggi, maka tak heran jika rempah tersebut banyak diekspor ke beberapa negara. Banyaknya rempah yang dibudidayakan di Indonesia membuat masakan khas Indonesia pun kaya akan rempah. Maka dari itu, selalu sediakan rempah di rumah Anda untuk membuat hidangan yang lezat. Anda dapat membelinya di Cairo Food, yang menyediakan banyak rempah dan bumbu. Mulai dari cengkeh, kayu manis, pala, dan masih banyak lagi. Kunjungi website official Cairo Food untuk melihat rempah dan bumbu lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *