Semua Hal Tentang Acara Kompetisi Masak The Final Table

Sebenarnya, tak hanya kompetisi memasak The Hell’s Kitchen yang disukai kalangan internasional. Terdapat acara kompetisi memasak yang wajib anda tonton juga jika anda menyukai program TV sejenis ini. Netflix tampaknya tidak lagi sebagai platform penyedia tayangan hiburan, namun saluran digital ini juga mulai memproduksi reality show komersial mereknya sendiri yang berkutat seputar kompetisi memasak.

Pada November 2018, Netflix memproduksi kompetisi memasak skala internasional yang berjudul The Final Table. Acaranya diklaim tidak seperti acara memasak lainnya, karena keunikan dari segi kontestan dan konsep acaranya. Berikut semua hal yang perlu anda ketahui tentang The Final Table.

Apa Itu The Final Table?

Dalam acara realitas The Final Table yang menjadi program eksklusif Netflix ini, para koki dari seluruh dunia menyiapkan masakan dari berbagai negara dan bersaing untuk mencapai babak final. Acara ini diselenggarakan oleh penulis dan kritikus makanan, Andrew Knowlton dan proses syuting dilakukan di Los Angeles, California.

Setiap episode didedikasikan untuk menyiapkan makanan dari negara tertentu sebagai bagian dari kompetisi secara keseluruhan. Negara-negara yang masakan khasnya ditampilkan di acara itu termasuk Meksiko, Spanyol, Inggris, Brasil, India, AS, Italia, Jepang, dan Prancis.

Ada 10 episode total di Netflix yang merupakan musim pertama acara tersebut. Episode pertama kali dirilis di platform streaming sejak 20 November 2018. Sembilan masakan negara berbeda ditampilkan dalam setiap episode. Sementara episode terakhir (episode ke-10) berfungsi sebagai penutup season 1.

Koki yang bersaing memiliki satu tujuan yakni untuk mencapai The Final Table, yang artinya calon pemenang tidak hanya harus mencapai babak final, tetapi juga harus membuat juri menyatakan bahwa hidangan mereka adalah yang paling terbaik diantara yang lainnya.

Susunan Acara

The Final Table menampilkan dua belas tim internasional yang terdiri dari dua koki profesional. Masing-masing koki bersaing untuk membuat hidangan tertentu berdasarkan negara yang dipilih dalam setiap episode. Dalam kontes memasak ini, chef yang menjadi kontestan adalah seorang profesional, sehingga mencapai kemenangan memberikan kesan luar biasa diantara para chef.

Terdapat tiga babak yang harus dilalui peserta dalam setiap episode. Pada babak pertama, makanan yang dimasak akan dinilai oleh dewan panel yang terdiri dari tiga orang yakni seorang kritikus makanan, serta dua warga negara yang mengenali asal usul makanan dan kebudayaan di negara tersebut atau seorang selebritas.

Dengan demikian semuanya mewakili negara dalam setiap episode. Para bintang tamu yang diundang ini bertugas untuk menilai interpretasi mereka atas hidangan penting yang mereka pilih sebagai hidangan nasional. Disela-sela kegiatan memasak, ada paket video yang menampilkan biografi kuliner para kontestan.

Selanjutnya, pada babak kedua dari setiap episode dikenal dengan istilah The Final Plate Challenge. Pada babak sebelumnya, seorang koki yang berhasil memiliki kursi kehormatan di The Final Table, maka berhak memilih bahan yang mewakili budaya memasak negara yang mereka pilih. Koki ini bahkan diberi wewenang untuk menilai hidangan masing-masing tim dengan menyoroti bahan tersebut, dan mengambil satu atau dua bahan tertentu dari tim yang dikehendaki.

Dalam tujuh episode pertama, tiga tim terbawah akan dieliminasi di babak kedua, sementara pada episode kedelapan dan kesembilan, hanya satu tim yang tidak lolos. Kemudian, pada babak final, sembilan juri koki terkenal dari setiap episode kembali lagi dan ditampilkan di The Final Table bersama dengan hidangan khas yang mereka buat sebelumnya.

Kemudian, pasangan dua tim koki terakhir yang tersisa akhirnya berkompetisi secara individu. Masing-masing dari mereka (menjadi empat kontestan) harus menyiapkan hidangan khas yang mendefinisikan mereka sebagai koki, dan akan menjadi simbol makanan yang akan dinilai oleh para juri. Dari babak inilah pemenang kemudian ditentukan dengan berbagai faktor internal dan eksternal yang hanya dipahami oleh tim program TV atau para juri.

Daftar Juri Yang Terlibat

Selain mengundang dua hingga tiga orang warga asing sesuai dengan negara yang menjadi tema pada setiap episode, acara ini pun memiliki juri andalan yang luar biasa. Kesembilan juri di The Final Table dianggap sebagai koki terbaik di dunia. Kontestan menyiapkan makanan dari negara asal masing-masing juri dan diberi umpan balik berdasarkan beberapa faktor, termasuk tingkat keaslian setiap hidangan.

Secara berurutan juri dalam setiap episode, terdapat juri dengan spesialisnya masing-masing dan kemampuan memasaknya yang luar biasa. Mereka adalah juri yang terkenal di masing-masing negara. Termasuk diantaranya Enrique Olvera (Meksiko), Andoni Aduriz (Spanyol), Clare Smyth (Inggris), Helena Rizzo (Brasil), Vineet Bhatia (India), Grant Achatz (AS), Carlo Cracco (Italia), Yoshihiro Narisawa (Jepang), dan Anne-Sophie Pic (Prancis).

Food Critics

Setiap tantangan bertema negara akan menampilkan duo duta selebritas, serta kritikus makanan, untuk membantu menilai kompetisi memasak. Misalnya, untuk episode bertema Amerika Serikat, selebritas Fargo Colin Hanks dan komedian Dax Shepard akan menjadi duta selebriti, dan editor Times/mantan pengulas restoran Sam Sifton akan menjadi kritikus. Produser acara juga telah mengundang kritikus terhormat Jay Rayner untuk episode Inggris dan Francois-Regis Gaudry untuk kompetisi bertema Prancis.

Food critics atau kritikus makanan, juga sering disebut penulis makanan atau kritikus restoran. Mereka ialah para penulis profesional yang telah mencicipi ribuan jenis makanan sekaligus memberikan penilaian seobjektif mungkin. Kritikus makanan biasanya melakukan perjalanan ke restoran yang berbeda dengan spesialisasi hidangan masing-masing. Salah satu komentator yang terlibat dalam The Final Table adalah kritikus makanan. Berikut para kritikus makanan yang pernah terlibat dalam setiap episode The Final Table.

  • Sam Sifton (United States)
  • Mariana Camacho (Mexico)
  • Borja Beneyto (Spain)
  • Jay Rayner (United Kingdom)
  • Josimar Melo (Brazil)
  • Rashmi Uday Singh (India)
  • Andrea Petrini (Italy)
  • Francois-Regis Gaudry (France)
  • Akiko Katayama (Japan)

Profil Kontestan Dari Berbagai Negara

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa para kontestan yang hadir bukanlah juru masak amatir, namun mereka adalah para chef yang sudah memiliki beragam pengalaman kerja terkait dunia kuliner. Anda pasti takjub jika mengetahui profil dari masing-masing kontestan pada The Final Table.

Monique Fiso & Amninder Sandhu

Monique Fiso menghabiskan bertahun-tahun memasak di New York City, termasuk bekerja di restoran Italia terkenal di Manhattan yakni A Voce, sebelum akhirnya ia pulang ke Selandia Baru. Di sana ia mengelola usaha sendiri yakni restoran tenda pop-up yang menyajikan masakan Māori.

Sementara itu, Amninder Sandhu adalah pemilik restoran unik di India. Ia menyiapkan makanan khas dari seluruh India yang seluruhnya dibuat menggunakan lubang pasir atau oven berbahan bakar batu bara dan kayu, tanpa menggunakan gas sama sekali. Menu ini terinspirasi oleh resep yang dikumpulkan Sandhu selama 15 tahun mengelilingi India.

Shane Osborn & Mark Best

Shane Osborn memiliki banyak pengalaman bekerja di dapur terkenal, pernah menjadi bagian dari staf di L’oranger di London dan mengumpulkan bintang Michelin pada tahun 1996. Sejak 2014, Osborn telah menjalankan restorannya sendiri, Arcane, di Hong Kong.

Pada pertengahan abad ke 20-an, Mark Best memulai karir kuliner yang membuatnya memenangkan Josephine Pignolet Award sebagai koki muda terbaik Sydney pada tahun 1995. Kemudian di tahun yang sama ia membuka restoran pertamanya, Peninsula Bistro dan kini memiliki restoran di sebuah kapal pesiar.

Timothy Hollingsworth & Darren MacLean

Timothy Hollingsworth tahun 2012, ia memulai usahanya sendiri di Los Angeles di mana ia sekarang adalah pemilik koki Otium, yang menyajikan hidangan steak, makanan laut, dan sayuran yang menyajikan kreasi makanan Amerika.

Sementara, Darren MacLean adalah pemilik restoran Calgary Darren MacLean, Shokunin, saat ini terdaftar sebagai restoran terbaik ke-35 di Kanada dengan menyajikan sushi, yakitori, dan hidangan piring kecil lainnya yang dilengkapi dengan pilihan wiski Jepang, koktail, dan sake.

Johnny Spero & Jessica Lorigo

Johnny Spero adalah koki internasional yang menjangkau seluruh dunia mulai dari benua Eropa maupun Amerika. Spero menjalankan restoran di Reverie yang baru dibuka dengan mengkhususkan diri dalam masakan Amerika modern.

Sedangkan, Jessica Lorigo mendapatkan terobosan besar di industri restoran setelah ia lulus dari sekolah kuliner. Ia langsung diterima sebagai pemagang di restoran Basque Country, Mugaritz, pada tahun 2013. Saat ini ia adalah koki eksekutif di Topa Sukalderia, yang memadukan masakan Basque dengan hidangan Amerika Latin.

Rafael Gil & Esdras Ochoa

Chef kelahiran Brasil Rafael Gil adalah direktur kuliner Keraton at the Plaza di Jakarta. Sebelum pindah ke Indonesia, chef ini bekerja di dapur berbintang Michelin milik Martin Berasategui di Lasarte-Oria, Spanyol, dan EVO di Barcelona.

Sedangkan, partnernya Esdras Ochoa terkenal sebagai chef/mitra restoran Meksiko populer Los Angeles Mexicali Taco dan Salazar. Ia sempat tinggal di Hong Kong dengan menjalankan taqueria lain bernama 11 Westside dan pernah menjadi subjek profil LA Times 2016.

Charles Michel & Rodrigo Pacheco

Charles Michel adalah lulusan sekolah memasak Institut Paul Bocuse di Lyon. Ia seorang koki Prancis-Kolombia yang saat ini aktif sebagai koki residensi di Laboratorium Penelitian Universitas Oxford.  Sementara, Rodrigo Pacheco juga lulus dari Institut Paul Bocuse yang kini bekerja di restoran mewah bernama Bocavaldivia.

Benjamin Bensoussan & Manuel Berganza

Benjamin Bensoussan adalah warna negara Prancis yang pernah bekerja di Michelin El Celler de Can Roca dan Mugaritz, kemudian ia membuka restoran cepat sajinya di Madrid bernama Honest Greens. Sedangkan, Manuel Berganza adalah chef sekaligus pemilik resoran Spanyol Andanada 141 di Upper West Side Manhattan yang mendapat bintang Michelin setelah dua tahun sejak didirikannya.

Ash Heeger & Alex Haupt

Ash Heeger adalah seorang chef yang menghabiskan waktu di London untuk bekerja di The Ledbury and Dinner bersama Heston Blumenthal. Sedangkan Alex Haupt adalah warga negara Australia yang kini menjadi chef sekaligus pemilik 101 Gowrie, sebuah restoran di Amsterdam.

Colibrí Jiménez & Collin Brown

Berasal dari Morelos, Meksiko, Colibrí Jiménez bekerja di restoran Casa Morales/My Bowls di Oaxaca. Dia adalah penulis buku masak, Una Aventura Gastonomica, yang mencatat spesialisasi di seluruh negara bagian Meksiko. Sedangkan Collin Brown adalah koki kelahiran Jamaika yang berfokus pada masakan Karibia. Ia telah bekerja di banyak restoran mewah di London, Inggris.

Ronald Hsu & Shin Takagi

Ronald Hsu adalah koki dan salah satu pemilik restoran di Atlanta, bernama Lazy Betty. Sebagai koki muda, Hsu menghabiskan waktu bekerja dengan mitranya di The Final Table yakni Shin Takagi dari Jepang.

Kemudian dalam karirnya, Ronald juga bekerja dengan beberapa chef populer di dunia, misalnya koki Prancis terkenal Eric Ripert. Sementara, partnernya Shin Takagi adalah koki dan pemilik Zeniya, sebuah restoran kaiseki di Kanasawa, Jepang yang memiliki dua bintang Michelin.

Graham Campbell & Aaron Bludorn

Sebagai seorang koki muda, Graham Campbell bekerja di Ballachulish House yang kala itu telah menerima bintang Michelin pada tahun 2009. Sedangkan mitranya, bernama Aaron Bludorn adalah koki eksekutif di Cafe Boulud di New York City.

James Knappett & Angel Vazquez

James Knappet adalah chef dan pemilik restoran Kitchen Table dan hot dog parlor/bar Champagne Bubbledogs, yang keduanya berada di London.

Sedangkan Angel Vasquez adalah pria asal Meksiko yang saat ini bekerja sebagai chef muda di restoran di New York City, Paris, Thailand, dan Barcelona. Ia juga mengoperasikan bar makanan laut kasual Salomé, restoran Meksiko kontemporer bernama Augiro.

Makanan Yang Dimasak

Setiap hidangan yang dibuat didasarkan pada makanan yang dianggap sebagai hidangan nasional dari masing-masing tema negara. Selain hidangan yang khas, setiap episode juga menyajikan bahan yang wajib ada dalam masakan tersebut.

  • Episode Mexico – Taco, menggunakan Prickly Pear
  • Episode Spanyol – Paella, menggunakan gurita
  • Episode UK – English Breakfast, menggunakan English pea
  • Episode Brazil – Feijoada, menggunakan cassava
  • Episode Indian – Butter Kitchen, menggunakan kelapa
  • Episode USA – Thankgiving Dinner, menggunakan labu
  • Episode Italia – Pasta, menggunakan arthicoke
  • Episode Jepang – Kaiseki, menggunakan bulu babi (sea urchins)
  • Episode Prancis – Hare a la Royale, menggunakan telur

Hadiah Yang Dimenangkan

Siapa yang jadi pemenang artinya mendapatkan dukungan juri dan berhak menduduki kursi terbaik di The Final Table. Ini hanyalah kursi dan meja biasa, namun berfungsi sebagai simbol tematik kemenangan. Jika anda pemenang, maka hanya anda yang bisa duduk di kursi tersebut.

Tidak ada hadiah uang tunai, penawaran buku, atau kontrak yang menjanjikan untuk para pemenang. Lantas mengapa para kontestan begitu bersemangat bersaing? Hal ini dikarenakan para chef yang bersaing secara teknis sudah mapan di negara mereka. Alhasil mereka sangat wajar membutuhkan tambahan jam tayang maksimal, untuk semakin meningkatkan popularitas mereka.

Karena kepribadian koki dalam acara memasak sama pentingnya dengan keterampilan memasak mereka, kemungkinan besar pesaing dan pemenang dapat terus memproduksi buku masak, mengoperasikan restoran yang sukses, dan menyelenggarakan acara mereka sendiri seperti yang dilakukan oleh banyak acara memasak kompetisi sebelumnya.

Eksposur chef dalam dunia kuliner adalah sebuah kebutuhan. Bahkan tanpa kompensasi, setidaknya satu dari sembilan pesaing kemungkinan akan mendapat manfaat dari waktu mereka di acara The Final Table. Misalnya semakin banyak orang yang akan berkunjung ke restoran mereka atau bahkan kelak akan ada produser yang membuatkan pemenang program tersendiri.

Dalam kompetisi The Final Table, meskipun setiap kontestan terdiri dari dua orang atau tim, namun pemenang adalah satu orang dari tim terbaik. Pada episode terakhir diumumkan bahwa pemenang adalah Timothy Hollingsworth yang mewakili AS. Sementara rekannya Darren MacLean menjadi runner-up.

Promo Diskon Cairo Food

Nah, itu dia semua hal tentang acara memasak The Final Table khususnya season pertama. Rumornya acara ini akan melangsungkan season kedua pada tahun 2021. Para penggemar acara The Final Table pasti penasaran nih bagaimana keseruan yang akan datang di season kedua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *