Sejarah Rendang dan Kekayaan Rasa Khas Padang

Masakan khas Minangkabau yang masuk dalam daftar World’s 50 Most Delicious Food pada survei yang dilakukan oleh CNN adalah rendang. Ini adalah makanan yang terbuat dari daging (biasanya sapi), yang dimasak dalam kuah santan dengan waktu hingga berjam-jam dengan tujuan agar santan mengering dan bumbu meresap sempurna ke dalam daging.

Memiliki rasa yang kaya akan rempah dan bumbu yang digunakan, menjadikan rendang khas Minangkabau ini begitu populer, bahkan popularitasnya mencapai mancanegara. Ini menjadi bukti bahwa rendang adalah hidangan yang begitu memanjakan lidah. Penasaran dengan sejarah rendang khas Minangkabau ini? Ikuti artikel ini sampai selesai.

Mengenal Rendang

Rendang atau Randang/Rondang berasal dari bahasa Minangkabau (Jawi: رندڠ) yang berarti “pelan-pelan” karena butuh waktu lama untuk menyelesaikan proses memasaknya. Rendang didefinisikan sebagai masakan khas tradisional Sumatera Barat, tepatnya di Minangkabau. Hidangan ini berbahan dasar daging sapi atau kerbau, bisa juga telur, yang kemudian dimasak dengan api kecil dan memakan waktu yang lama, dan menggunakan rempah khusus serta santan sebagai kuahnya.

Apapun Bumbunya Tidak Pakai Pewarna

Proses memasak rendang memakan waktu yang cukup lama, yaitu sekitar empat jam atau bahkan lebih, karena pada saat memasak rendang, santan yang digunakan haruslah meresap hingga ke dalam daging, yang kemudian hasil akhirnya hanya menyisakan daging yang berwarna gelap dan dedak.

Selain santan, rempah dan bumbu yang digunakan untuk membuat rendang Minangkabau adalah bawang putih, bawang merah, cabai merah, jahe, merica, serai, lengkuas, adas manis, daun jeruk purut, daun salam, daun kunyit, dan asam kandis (Garcinia xanthochymus).

Dahulu, rendang dimasak sedemikian rupa oleh orang Minangkabau agar menghasilkan daya tahan yang lama, dan dapat disimpan dalam perjalanan jauh. Daya simpan rendang diyakini dapat bertahan hingga berminggu-minggu dalam suhu ruangan. Umur simpan rendang yang lama diduga dipengaruhi oleh bumbu yang digunakan selama proses memasak.

Di daerah Minangkabau, Sumatera Barat, yang menjadi daerah asal rendang, masakan khas ini menjadi menu yang disajikan pada saat acara tertentu, seperti upacara adat dan juga pesta perkawinan. Rendang juga sangat mudah dijumpai terutama pada Rumah Makan Padang yang telah tersebar luas di seluruh Indonesia. Selain populer di Indonesia, rendang juga dapat ditemukan di berbagai negara Asia Tenggara, seperti Singapura, Thailand, Malaysia Finlandia, dan Brunei.

Popularitas rendang tak berhenti sampai di situ saja. Faktanya, pada sebuah survei yang dilakukan oleh Cable News Network (CNN) pada tahun 2011, rendang dinobatkan menjadi hidangan yang menduduki peringkat pertama sebagai makanan yang paling lezat di dunia dalam daftar World’s 50 Most Delicious Food. Kemudian pada tahun 2018, rendang secara resmi ditetapkan oleh Kementerian Pariwisata Indonesia sebagai salah satu dari lima hidangan tradisional Indonesia, yang kemudian diikuti oleh soto, nasi goreng, sate, dan gado-gado.

Sejarah Rendang

Menurut catatan sejarah, asal-usul rendang sebagai makanan khas Minangkabau, dapat ditelusuri kembali yang diperkirakan ditemukan pada abad ke-16. Pada masa itu, orang Minang seringkali bepergian ke Selat Malaka dan juga Singapura. Pelayaran yang dilakukan memakan waktu hingga sebulan, atau lebih. Karena tidak ada tempat bagi kapal untuk singgah, pada akhirnya orang Minang membuat makanan yaitu rendang karena daya simpannya yang lama, sebagai konsumsi mereka selama perjalanan di laut.

Catatan sejarah yang ditemukan lainnya juga menyebutkan bahwa rendang telah ada sejak tahun 1347 hingga 1375 Masehi pada zaman Pagayurung, tepatnya pada masa yang dipimpin oleh Raja Adityawarman. Akan tetapi, kala itu rendang dibuat menggunakan daging kerbau. Dalam kesusastraan Melayu klasik, seperti Hikayat Amir Hamzah, rendang juga disebutkan telah ada dan dikenal sebagai seni masakan Melayu pada abad pertengahan ke-16 atau tahun 1550an.

Berdasarkan bentuknya, rendang juga diyakini sebagai bentuk transformasi dari masakan khas India, yaitu kari. Kemudian, hal tersebut dikaitkan dengan kehadiran pedagang dari Gujarat, India, pada abad ke-14, yang membawa rempah-rempah khas India. Maka dari itu, beberapa orang meyakini rendang merupakan bagian dari kari namun dalam versi yang lebih kering.

Meski tak ada bukti yang jelas mengenai masakan khas Minangkabau ini, namun rendang telah menjadi makanan yang wajib tersedia pada setiap upacara adat di Minangkabau sejak bertahun-tahun lamanya. Selain menjadi menu wajib yang tersedia pada setiap acara adat di Minangkabau, rendang juga menjadi pilihan dalam mengolah daging kurban yang didapat pada saat Idul Adha. Bahkan rendang juga dijadikan makanan wajib pada hari raya Idul Fitri di Indonesia.

Rendang menjadi hidangan yang semakin populer sejak perantau dari Minangkabau memperkenalkan rendang melalui Rumah Makan Padang yang didirikan di seluruh Nusantara. Popularitas rendang juga diketahui melampaui wilayah aslinya, yakni mencapai negara-negara tetangga seperti Eropa dan Amerika.

Filosofi Rendang

Orang Minang percaya bahwa rendang memiliki tiga makna filosofis: kesabaran, kebijaksanaan, dan ketekunan. Memasak rendang membutuhkan kesabaran, kegigihan dalam mengaduk, dan kearifan dalam menyalakan api. Kebijaksanaan diperlukan dalam memilih bahan seperti daging, cabai, dan bumbu lainnya yang dibutuhkan untuk mencapai cita rasa yang diinginkan.

Banyak aspek seperti kesabaran dan pengalaman yang dibutuhkan untuk mencapai kesempurnaan pada hidangan khas Padang ini. Bahan untuk membuat rendang biasanya tergantung ketersediaan. Awalnya menggunakan daging sapi dan kerbau, namun kini bahan utama rendang lebih bervariasi.

Acara yang menyajikan rendang daging sapi seberat 1 kg yang ditaruh di piring khusus di ujung barisan di antara hidangan lainnya, yaitu kepalo samba memiliki beberapa makna. Salah satu tujuannya adalah untuk menunjukkan atau mencerminkan bahwa tuan rumah atau pemangku kepentingan dapat menyajikan hidangan istimewa ini.

Usai acara digelar, rendang dikonsumsi oleh tuan rumah. Potongan-potongan kecil rendang yang ditaruh bersama lauk lainnya dikonsumsi oleh para tamu. Dalam beberapa acara, model kayu digunakan sebagai simbol daging. Itu ditutupi oleh rempah-rempah dan minyak. Hal ini dilakukan karena para tamu tidak memakan rendang spesial tersebut.

Gaya Tradisional Konsumsi Rendang

Tidak ada cara khusus untuk memakan rendang dalam budaya Minangkabau. Pada zaman dahulu, rendang merupakan makanan yang diawetkan secara tradisional, digunakan sebagai bekal atau bekal bagi para musafir dalam perjalanan jauhnya dan hanya dibungkus dengan selembar kertas dan dimakan dengan menggunakan tangan. Namun pada saat acara-acara penting, rendang disajikan dengan hidangan lain seperti gulai, sayur rebung, ikan goreng, sayur nangka, dan lainnya.

Jenis Rendang

Daging berbumbu yang dimasak dengan kuah santan, kita dapat menilik kandungan santan di dalamnya. Terdapat tiga tingkat tahapan dalam memasak daging berbumbu dengan kuah santan, yaitu daging dengan kuah paling basah, sedikit berkuah, hingga yang paling kering: gulai-kalio-rendang.

Bahan gulai, kalio, dan rendang hampir sama, dengan pengecualian bahwa gulai biasanya menggunakan lebih sedikit cabai merah dan lebih banyak kunyit, sedangkan rendang menggunakan bumbu yang lebih kaya. Berdasarkan penjelasan sebelumnya, rendang yang autentik adalah rendang yang paling sedikit mengandung kuah santan. Namun, masyarakat luas mengenal dua jenis rendang, yaitu rendang basah dan rendang kering.

Rendang Basah

Rendang basah atau lebih tepatnya disebut kalio adalah jenis rendang yang dimasak dalam waktu singkat, di mana santannya belum menguap sempurna. Jika disimpan dalam suhu ruangan, kalio akan bertahan kurang dari seminggu. Kalio biasanya berwarna cokelat muda keemasan, dan lebih pucat dari rendang kering yang berwarna gelap.

Suku bangsa lain di Indonesia juga telah mengadopsi rendang ke dalam makanan sehari-hari mereka, yang sangat berbeda dengan rendang asli Minang. Seperti misalnya di Jawa, selain rendang Padang yang dijual di Rumah Makan Padang, rendang basah dimasak oleh orang Jawa dengan rasa yang sedikit lebih manis dan tidak terlalu pedas guna menyesuaikan selera orang Jawa.

Selain di Indonesia, popularitas rendang telah mencapai di berbagai negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Di Malaysia, rendang dibuat dengan lebih mirip kalio, dengan warna lebih terang dan rasa yang tidak terlalu kuat jika dibandingkan dengan rendang asli Minang.

Rendang Kering

Sehat Dimulai Dari Dapur Anda

Rendang kering adalah jenis rendang yang proses memasaknya memakan waktu hingga berjam-jam sampai santan menguap dan daging menyerap bumbu dengan sempurna. Rendang kering disajikan secara khusus untuk acara-acara seremonial tertentu atau untuk menghormati tamu.

Rendang kering berwarna coklat tua dan hampir hitam. Jika dimasak dengan benar, rendang kering dapat bertahan selama tiga sampai empat minggu disimpan dalam suhu ruangan dan tetap baik untuk dikonsumsi. Bahkan bisa bertahan berbulan-bulan jika disimpan di lemari es, atau hingga enam bulan jika dibekukan.

Rendang adalah bagian dari hidangan khas Indonesia yang terbuat dari daging, yang berasal dari masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat. Hidangan ini terkenal dengan kepedasan dan prosedur memasaknya yang lama. Ini sering dibandingkan dengan kari India karena konsistensi dan rasanya yang unik. Itulah sejarah dan kekayaan rendang sebagai hidangan khas Padang. Apakah hidangan ini menjadi favoritmu?

Ingin membuat rendang khas Minangkabau sendiri di rumah? Ikuti langkah-langkah resep membuat rendang dan gunakan bumbu rendang dari Cairo Food agar rasa yang dihasilkan sangat khas layaknya rendang asli Minangkabau.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *