Kenapa Buah Apel Tidak Bisa Ditanam Dari Biji?

Apel merupakan salah satu buah yang tinggi serat sekaligus bagus untuk diet sehat. Namun siapa sangka dibalik rasanya yang renyah dan segar ini terdapat fakta menarik tentangnya. Siapapun yang pernah mencoba menanam apel menggunakan biji apel maka pasti akan kecewa dengan hasilnya. Bisa saja apel yang ditanam tumbuh tidak maksimal, buahnya terasa tidak segar atau secara garis besar tidak seperti pohon apel yang diharapkan. Tentu saja menanam pohon apel tidak sesederhana menanam dengan biji secara langsung, karena apel memiliki keunikan tersendiri dalam proses tanamnya.

Biji Apel Bukan Termasuk Benih

Alasan utama bahwa pohon apel tidak dapat tumbuh dengan menggunakan biji dikarenakan biji apel tidak difungsikan sebagai benih. Artinya biji apel tidak bisa digunakan langsung untuk menumbuhkan pohon apel melainkan harus diolah terlebih dahulu dengan cara khusus tergantung dengan jenis buah. Namun apabila tetap ingin mencoba menanam biji apel maka dipastikan tidak menghasilkan buah apel yang subur dan segar. Secara umum biji-bijian pohon dikelompokkan menjadi dua jenis, antara lain biji buah tipe ortodoks dan biji buah tipe recalcitrant.

Biji tipe ortodoks biasanya memiliki kulit yang tebal dan keras serta kandungan air yang sedikit sehingga dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama. Sementara biji tipe recalcitrant umumnya memiliki kulit yang lunak dengan kandungan air yang banyak sehingga tidak tahan lama apabila bijinya disimpan. Biji recalcitrant biasanya perlu teknik khusus untuk dapat ditanam dan menghasikan pohon buah yang subur. Ini termasuk biji apel, namun jarang sekali penyimpanan yang baik bisa membuat biji apel menghasilkan pohon buah yang subur. Oleh sebabnya alih-alih menggunakan bijinya sebagian petani apel lebih suka membudidayakan pohon apel dengan cara vegetatif khususnya menggunakan stek dan cangkok pada batang bawah pohon karena biji apel sulit dikecambahkan.

Tidak Bisa Menghasilkan Buah Yang Sama

Biji apel yang pada dasarnya tidak dapat menjadi benih maka tidak mampu menghasilkan buah yang sama apabila ditanam dengan biji. Sama halnya seperti manusia yang memiliki beberapa kemiripan dengan orang tua, namun tidak bisa membentuk kemiripan fisik maupun psikis yang 100 persen sama. Buah apel juga demikian.

Apabila ditanam dengan menggunakan biji maka mungkin menghasilkan pohon yang lebih kecil, buah yang lebih asam, tekstur buah yang sangat keras dan kering, warna dan ukuran buah yang tidak sesuai seperti yang diharapkan maupun pertumbuhan buah yang sangat lama. Meskipun pada akhirnya biji buah apel akan menghasilkan pohon apel, namun tentu saja cara ini tidak bisa diandalkan untuk para petani yang mengharapkan kuantitas dan kualitas buah apel yang sama-sama bermutu tinggi. Beberapa orang juga menyebutkan menanam apel dengan biji mirip seperti undian yang probabilitasnya sangat kecil untuk mendapatkan hasil yang diharapkan.

Sebagai contoh apabila anda mencoba menanam apel merah atau Red Delicious maka belum tentu hasil yang diharapkan akan menghasilkan buah yang sama. Sementara jika ingin membudidayakan jenis apel yang sama atau jenis yang lebih baik maka perlu mencocokkan batang atas dengan batang bawah. Batang atas merujuk pada bagian pohon yang sedang berbuah, sementara batang bawah merupakan bagian pohon yang berada di tanah serta beberapa inci pertama dari permukaan tanah.

Menggabungkan sekaligus membandingkan tunas dari beberapa jenis pohon apel dapat menjadi benih yang akan menghasilkan apel dengan kualitas yang diharapkan. Oleh sebabnya para petani jarang menyimpan biji apel, namun justru mengoleksi lusinan batang apel untuk dikombinasikan dan menghasilkan buah apel yang bernilai jual tinggi.

Memiliki Variasi Genetik Yang Besar

Pada dasarnya apel memiliki variasi genetik yang sangat luas dan besar sehingga memberikan peluang lebih banyak untuk menghasilkan anakan pohon yang berbeda-beda. Singkatnya satu pohon apel akan menghasilkan berton-ton buah apel, sementara dalam setiap ton apel tersebut menghasilkan biji apel yang tak terhingga. Oleh sebabnya tak heran jika setiap pohon apel akan menghasilkan varietas yang berbeda apabila ditanam dengan biji. Mungkin saja satu varietas pohon apel akan menghasilkan batang pohon yang besar, buah yang lebih kecil, rasa buah yang agak pahit, maupun daya tahan pohon yang mampu tetap hidup dalam cuaca yang ekstrim, dan lain sebagainya.

Lebih lanjut, seorang penulis buku Apple: A Global History bernama Erika Janik mengatakan bahwa salah satu dari jutaan benih biji apel mungkin dapat tumbuh dengan baik, serta bertahan hidup dalam berbagai cuaca. Ini adalah tahap awal untuk menciptakan varietas apel dengan kualitas buah yang tinggi maupun pohon yang mudah beradaptasi. Benih ini menjadi cikal bakal penyebaran pohon apel dengan kualitas yang sama, namun tentu saja tidak dibudidayakan menggunakan biji apel.

Variasi genetik yang sangat besar atau disebut heterozigot telah menyebabkan biji apel dikesampingkan untuk menjadi benih dalam pembudidayaan buah apel. Saat ini mungkin anda dapat menemukan deretan pohon apel dalam sebuah lahan pertanian yang memiliki varietas yang sama dan kualitas buah yang sama pula. Hal tersebut dapat terjadi setelah melalui seleksi secara tidak langsung, yakni telah diujikan lebih dari 3000 tahun untuk menciptakan varietas buah favorit. Teknik yang digunakan untuk mencapai titik ini adalah okulasi yaitu proses pembudidayaan dengan memotong cabang tipis atau batang atas dari suatu pohon apel. Kemudian memasukkannya ke dalam potongan di batang bawah pohon lain. Dengan kata lain, buah apel perlu dikloning satu sama lain untuk menghasilkan keseragaman rasa dan kualitas buah.

Cara Alternatif Untuk Menanam Apel

Dikarenakan biji apel kurang baik untuk menghasilkan tanaman apel terutama untuk tujuan komersil, membuat penerapan cara alternatif untuk menanam pohon apel sangat populer. Beberapa teknik yang paling sering digunakan untuk memperbanyak pohon apel, diantaranya teknik okulasi, metode stek, dan metode cangkok.

Teknik Okulasi

Teknik okulasi merupakan suatu cara untuk memperbanyak tumbuhan dengan menempelkan sepotong kulit pohon apel yang bermata tunas dan berasal dari batang atas, terhadap suatu celah atau irisan dari kulit pohon apel lain. Irisan ini biasa diambil dari batang bawah, yang apabila disatukan akan membentuk tanaman yang baru. Selain digunakan untuk memperbanyak, teknik okulasi juga dapat meningkatkan mutu suatu tumbuhan. Ini merupakan teknik pengembangbiakkan secara vegetatif.

Okulasi akan menggabungkan sifat yang baik dari masing-masing tanaman sehingga hasilnya akan jauh lebih baik dibandingkan varietas sebelumnya. Pada bagian bawah pohon apel, diharapkan dapat menghasilkan sistem perakaran yang baik. Sementara pada bagian atas pohon apel diharapkan dapat memberikan hasil buah yang bermutu. Oleh sebabnya perlu menemukan bibit pohon yang bagus. Biasanya hasil budidaya menggunakan teknik okulasi akan menghasilkan buah setelah 2 tahun masa tanaman. Namun perlu setidaknya memberi pupuk 2 kali dalam setahun, serta penyiraman yang rutin pada musim kemarau.

Metode Stek

Stek merupakan suatu metode bubidaya tanaman yang juga dapat diterapkan pada pohon apel dengan menggunakan bagian tubuh tanaman baik itu akar, batang, maupun daun. Stek pada apel dapat diakukan dengan menanam potongan cabang atau batang pohon apel sepanjang 15-20 cm pada media tanam. Setelah hasil stek mencapai usia 5 bulan maka anakan yang tumbuh siap untuk diokulasi atau disambung untung menghasilkan pohon baru.

Teknik Cangkok

Pencangkokkan buah apel akan menghasilkan buah yang sama dengan asalnya. Pertama-tama pilihlah tanaman pohon apel yang sudah dikenal baik di area tempat tinggal anda karena tidak semua jenis apel dapat beradaptasi pada lingkungan yang baru. Selanjutnya perlu memperhatikan waktu yang tepat untuk melakukan proses pencangkokkan, karena mencangkok pada musim hujan akan membuat media mengalami kebusukan. Sebaliknya jika dilakukan pada musim kemarau akan menyebabkan media cangkok kekeringan dan gagal.

Sebagai panduan pilihlah warna cabang yang masih hijau segar bukan hijau muda atau hijau pekat. Lalu potong batang batang yang telah dipilih, kemudian kerat hingga kulit luarnya terkelupas dan menyisakan bagian dalam kayu. Bagian yang terbuka ini kemudian dibungkus dengan bahan yang dapat menyimpan air, lalu diikat agar kedap air, misalnya menggunakan plastik. Terkadang ditambahkan juga hormon tumbuhan perangsang perakaran untuk mempercepat proses pertumbuhan hasil cangkokkan.

Penanaman pohon apel menggunakan biji tidak direkomendasikan untuk tujuan apel komersial, namun apabila ditujukan untuk penelitian ataupun memperbanyak varietas apel maka biji apel masih bisa digunakan. Hal ini dikarenakan biji apel yang ditanam akan menghasilkan jenis apel yang berbeda-beda sehingga sulit menebak bagaimana hasilnya kecuali menunggu hingga buah apel muncul, yang mungkin akan terjadi setelah 4 tahun masa tanam. Oleh sebabnya banyak petani apel yang lebih memilih untuk melakukan pembudidayaan vegetatif terhadap apel khususnya okulasi, stek, dan cangkok.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *