Ini Dia 6 Fungsi Plasenta Pada Ibu Hamil

6 Fungsi Plasenta Pada Ibu Hamil
6 Fungsi Plasenta Pada Ibu Hamil

Plasenta sangat penting untuk menjaga janin agar tetap berkembang dan sehat selama kehamilan. Organ ini melekat pada lapisan rahim yang memberikan oksigen dan nutrisi ke bayi yang sedang dalam kandungan. Tanpa organ ini bayi tidak dapat bertahan hidup. Dengan kata lain gangguan pada plasenta akan menghambat janin untuk bertumbuh kembang sebagaimana mestinya.

Tentang Plasenta

Plasenta adalah organ berukuran besar yang berkembang selama kehamilan. Bentuknya seperti gumpalan hati mentah atau cakram yang saling melekat antara dinding rahim ibu dengan tali pusar bayi. Tali pusar menghubungkan plasenta dengan bayi secara langsung. Oleh karena itu aliran darah dari ibu melewati plasenta, menyaring oksigen, glukosa, dan nutrisi lain ke bayi melalui tali pusar. Plasenta juga menyaring zat yang bisa berbahaya bagi bayi. Plasenta juga mampu menghilangkan karbon dioksida serta produk limbah dari darah bayi sehingga janin tidak keracunan.

Plasenta terdiri dari sekitar 200 pembuluh darah dan vena halus yang bagian luarnya bertekstur kasar dan berongga. Plasenta berwarna merah tua dengan talir pusar berada tepat di tengahnya. Seiring bertambahnya usia janin, maka plasenta akan berubah bentuk menjadi piringan datar yang lebih lapang. Dengan demikian ukuran plasenta akan menyesuaikan dengan ukuran janin.
Pada masa kehamilan, plasenta menghasilkan sejumlah hormon yang dibutuhkan selama masa kehamilan ibu, seperti laktogen, estrogen, progesteron dan sebagainya. Hormon-hormon tersebut menjadi sistem filter alami yang membuat darah ibu terpisah dari darah bayi untuk melindungi bayi dari infeksi. Menjelang akhir kehamilan, plasenta akan melepaskan antibodi untuk melindungi bayi saat dilahirkan.

Signifikansi plasenta ini mengharuskan seorang ibu untuk tetap menjaga kesehatannya agar tidak terjadi komplikasi pada organ ini. Beberapa masalah pada plasenta yang mungkin terjadi adalah solusio plasenta yaitu sebagian atau seluruh plasenta terlepas dari dinding rahim ibu sehingga mengakibatkan pendarahan hebat dan memperbesar kemungkinan terjadinya keguguran.
Ada pula previa plasenta yang merupakan keadaan plasenta yang menutupi bagian bawah rahim sehingga menutup jalan lahir bayi. Beberapa kondisi yang juga dapat menyebabkan plasenta mengalami pengapuran atau penimbunan kalsium. Hal ini memicu bintik-bintik putih pada plasenta yang mengindikasikan plasenta yang tidak sehat. Alkohol, rokok, nikotin, dan obat-obatan dapat melewati plasenta dan menjadi penyebab dari berbagai gangguan ini.

Memahami cara kerja plasenta juga penting untuk mengantisipasi kemungkinan buruk yang dapat terjadi pada plasenta. Plasenta biasanya terletak di bagian bawah rahim tetapi dapat bergerak ke samping atau ke atas saat rahim membentang sesuai dengan perkembangan ukuran bayi. Posisi plasenta sebaiknya diperiksa melalui layanan kesehatan dengan USG pada usia 18 minggu kehamilan.

Plasenta wajib dikeluarkan dari tubuh setelah kelahiran, biasanya sekitar 5 hingga 30 menit setelah bayi lahir. Ini disebut tahap ketiga persalinan. Hal ini ditandai dengan kontraksi ringan yang terjadi secara terus menerus setelah bayi lahir. Dengan kata lain ibu perlu melakukan satu dorongan lagi untuk “melahirkan” plasenta. Dalam beberapa kasus perut ibu perlu dipijat atau diberi suntikan oksitosin agar meregangkan kontraksi. Pada saat bersamaan tali pusar akan ditarik dengan lembut untuk membantu mengeluarkan plasenta tersebut.

Sementara itu pada wanita yang melahirkan dengan operasi Caesar, dokter mengeluarkan plasenta dan bayi secara bersamaan. Penting diingat bahwa plasenta harus segera dikeluarkan setelah melahirkan. Apabia ada residu dari plasenta yang tertinggal di dalam rahim, maka harus segera melakukan operasi pembedahan. Hal ini dikarenakan keberadaan sisa plasenta pada rahim akan menyebabkan pendarahan dan infeksi pada ibu.

Fungsi Plasenta

Plasenta atau ari-ari adalah organ yang berkembang di area rahim dan berperan penting selama masa kehamilan. Organ inilah yang akan bertanggung jawab untuk pertumbuhan dan perkembangan janin sebagai tempat utama menyalurkan nutrisi dan oksigen antara ibu dan janin.

Menyalurkan Nutrisi

Menyalurkan Nutrisi
Menyalurkan Nutrisi

Plasenta berfungsi untuk menyalurkan nutrisi untuk janin. Cara kerjanya dengan memecah makanan dan protein agar masuk ke aliran darah ketika ibu mengonsumsi makanannya. Selama kehamilan tersebut nutrisi yang berada di dalam darah ibu akan ikut dibawa dan dialirkan ke plasenta. Proses penyaluran makanan ini terjadi melalui tali pusar yang terhubung ke bayi.
Dengan kata lain, asupan nutrisi ini akan dialirkan langsung ke janin. Asupan ini akan menjadi makanan bayi selama berada dalam kandungan. Ini juga yang akan mendukung pertumbungan dan perkembangan janin. Dengan demikian sangat penting untuk ibu hamil memperhatikan dan menjaga asupan nutrisi dan memakan makanan bergizi untuk ibu hamil. Karena apa yang dikonsumsi oleh ibu akan diserap juga oleh janin.

Produksi Hormon

Plasenta bermanfaat untuk menghasilkan atau memproduksi beberapa jenis hormon. Pertama, memproduksi hormon progesteron. Hormon progesteron pada wanita hamil akan membantu ibu untuk tetap rileks dengan menjaga otot rahim lebih sedikit berkontraksi. Selain itu hormon progesteron bersama dengan hormon ekstrogen akan mengubah lendir leher rahim menjadi lebih kental sehingga akan melindungi janin di dalam rahim. Karena fungsinya sebagai pelindung dan penentu ketebalan dinding rahim maka apabila kadar progesteron wanita hamil turun akan memperbesar peluang terjadinya keguguran.

Hormon yang kedua dan juga dihasilkan oleh plasenta adalah hormon ekstrogen. Hormon ekstrogen secara alami akan diproduksi lebih banyak saat wanita mengandung. Peran hormon ini meliputi pembentukan pembuluh darah baru atau melebarkan pembuluh darah yang ada untuk menyaurkan nutrisi ke janin. Hormon ekstrogen juga dapat membantu janin berkembang karena dapat meningkatkan ukuran rahim.

Selanjutnya plasenta juga menghasilkan chorionic gonadotropin hormone (hCG). Hormon ini diproduksi di plasenta yang menjadi acuan dari ada atau tidaknya suatu kehamilan. Artinya hormon ini yang memberikan sinyal bahw wanita sedang hamil melalui hasil pemeriksaan test pack. Hormon ini juga akan menjaga kehamilan dan pertumbuhan janin. Oleh sebab itu apabila produksi hormon hCG rendah maka dapat menyebabkan keguguran atau masalah pada kehamilan. Sebaliknya jika hormon ini sangat tinggi maka dapat menjadi indikasi kehamilan bayi kembar, bayi dengan sidrom Down ataupun hamil anggur yang berbahaya bagi ibu dan bayi.

Hormon terakhir yang juga diproduksi oleh plasenta adalah hormon laktogen. Hormon ini sebenarnya telah ada pada setiap wanita untuk merangsang pertumbuhan. Namun ketika wanita hamil hormon ini meningkat seribu kali dan dianggap sebagai konsentrasi hormon yang normal. Fungsi hormon ini adalah menghambat insulin terhadap ibu hamil. Insulin berkaitan dengan glukosa sehingga tujuannya untuk menghambat persebaran glukosa agar tidak banyak yang masuk ke dalam sel tubuh ibu. Berkurangnya kadar glukosa pada ibu akan meningkatkan asupan glukosa pada bayi yang akan menjadi sumber energi. Dalam tahapan selanjutnya hormon laktogen juga penting untuk merangsang kelenjar susu ibu agar menghasilkan ASI.

Sebagai Organ Pernapasan

Sebagai Organ Pernapasanan
Sebagai Organ Pernapasanan

Plasenta dapat dikatakan pintu satu-satunya yang dapat diakses oleh janin untuk berinteraksi dengan dunia luar. Hal ini termasuk menjadi organ pernapasan, yang bertindak sebagai paru-paru. Plasenta menyediakan 100% oksigen yang dibutuhkan bayi. Oksigen ini akan ditransfer ke seluruh organ dan jaringan dalam tubuh bayi. Tentu saja oksigen berasal dari ibu, sehingga ketika ibu hamil bernapas dan menghirup oksigen maka plasenta juga menyerap oksigen. Oksigen tersebut dialirkan melalui plasenta ke tali pusar yang menjadi sumber kehidupan janin.

Fungsi Metabolik

Plasenta berfungsi juga sebagai alat transfer metabolik. Transfer metabolik merupakan proses metabolisme dimana kandungan protein di dalam makanan diubah menjadi asam amino, glukosa dan zat lainnya, yang akan menjadi sumber energi. Salah satu zat yang terlibat dalam fungsi metabolik plasenta yaitu asam amino.

Asam amino adalah protein buatan dari janin yang ditransfer dari ibu untuk memperbaiki jaringan tubuh bayi dan menyerap makanan. Selain itu ada juga kandungan glukosa pada plasenta yang merupakan material pada proses pembentukan energi pada janin, serta zat lain seperti elektrolit, vitamin dan air yang juga akan diproses pada plasenta. Dengan demikian seluruh kandungan zat tersebut diperlukan untuk untuk transfer metabolik tubuh.

Fungsi Ekskresi

Fungsi Ekskresi
Fungsi Ekskresi

Fungsi ekskresi memberikan plasenta posisi yang sama dengan ginjal orang dewasa. Plasenta bertindak sebagai organ yang menyaring dan menghilangkan zat berbahaya yang tidak diperlukan bayi. Zat ini mungkin dapat mengancam keselamatan janin sehingga fungsi plasenta menjadi sangat krusial. Beberapa zat yang perlu dibuang dari sistem ekskresi plasenta adalah sisa-sisa metabolisme diantaranya limbah nitrogen, urea, serta karbondioksida yang akan membahayakan janin apabila mengendap di rahim. Plasenta akan menyaring dan membuang zat sisa tersebut melalui darah, untuk dialirkan bersama dengan zat sisa yang dikeluarkan dari sistem metabolisme ibu.

Perlindungan Imunologis

Plasenta juga memberikan fungsi sebagai pemacu sistem imun bayi. Fungsi ini melindungi bayi dari infeksi dan zat berbahaya. Antibodi dapat melewati plasenta sehingga akan melindungi janin dalam kandungan, terutama sejak usia kehamilan ke-20 minggu. Antibodi imunitas ini tetap ada dalam tubuh bayi, bahkan beberapa bulan setelah dilahirkan. Oleh sebabnya bayi yang baru lahir biasanya memiliki kekebalan untuk melawan infeksi berbagai penyakit, meskipun tidak seluruhnya.

Antibodi ini juga akan memberikan perlindungan pada bayi apabila ibu hamil terserang infeksi bakteri sederhana. Meskipun ibu dan bayi saling terhubung namun plasenta ternyata mampu memisahkan antara bakteri dan antibodi yang berguna untuk janin. Akan tetapi plasenta kurang maksimal dalam memberikan perlindungan apabila infeksi berkaitan dengan virus akut, sehingga tetap saja membutuhkan tindakan antisipasi dengan menjaga kesehatan ibu.

Menjaga Kesehatan Plasenta

Fungsi organ plasenta yang sangat bermanfaat untuk keberlangsungan hidup janin secara langsung mengharuskan ibu untuk tetap menjaga kesehatan plasenta. Hal pertama yang perlu diingat adalah perlunya mengunjungi penyedia layanan kesehatan secara teratur selama kehamilan untuk memeriksa kemungkinan adanya masalah dengan plasenta. Kemudian menginformasikan pula kepada dokter apabila ibu hamil pernah memiliki masalah dengan plasenta pada kehamilan sebelumnya, atau jika pernah menjalani operasi pada rahim. Informasi dasar seperti ini menjadi langkah preventif yang sangat penting bagi keselamatan bayi.

Ibu hamil juga disarakankan untuk tidak merokok, minum alkohol atau mengonsumsi obat-obatan terlarang karena akan meningkatkan kemungkinan terjadinya masalah pada plasenta. Terkadang dalam kasus yang jarang terjadi, ibu hamil dapat mengidam sesuatu yang aneh, seperti keinginan merokok. Pada kondisi ini, ibu perlu selalu mengkonsultasikan kepada doketer terlebih dahulu. Selain itu perlu juga berhati-hati apabila mengonsumsi obat apapun termasuk obat bebas, terapi alami, suplemen ataupun obat herbal yang mungkin menyebabkan komplikasi pada plasenta.

Menjaga kesehatan plasenta juga dilakukan dengan mengantisipasi masalah yang terjadi. Segera periksa ke dokter apabila ibu hamil mengalami sakit perut atau punggung yang parah, pendarahan, kontraksi otot vagina, serta trauma pada perut misalnya pernah mengalami kecelakaan mobil.

Plasenta memiliki fungsi yang beragam dan signifikan bagi ibu dan janin. Oleh sebabnya menjaga kesehatan plasenta menjadi salah satu cara terbaik untuk meningkatkan peluang kelahiran bayi normal dan sehat.

Infographic 6 Fungsi Plasenta Pada Ibu Hamil
Infographic 6 Fungsi Plasenta Pada Ibu Hamil

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *