Syarat Wajib Puasa Ramadhan Dan Rukunnya

Berpuasa hukumnya wajib bagi siapapun yang telah memenuhi syarat sesuai dengan yang ditentukan dalam agama Islam. Segala jenis ibadah termasuk puasa di bulan Ramadhan memiliki syarat dan rukun yang wajib dipenuhi agar ibadah disebut sah.

Melalui Nabi Muhammad SAW, Al-Quran disampaikan kepada seluruh makhluk hidup untuk dijadikan petunjuk menuju jalan yang benar, termasuk perihal berpuasa. Kewajiban menjalankan Ibadah puasa Ramadhan termuat dalam firman Allah SWT dalam surah Al-Baqarah ayat 183.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Selain itu, terdapat pula hadist yang berasal dari sabda Nabi Muhammad.

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu., Nabi SAW bersabda: “Barang siapa yang melaksanakan puasa Ramadhan dengan keimanan dan keikhlasan, maka diampuni dosanya yang telah berlalu”. (Hadis Shahih, riwayat al-Bukhari: 37 dan Muslim: 1266).

Nah, setelah mengetahui dalil berpuasa, maka berikut adalah syarat wajib puasa yang harus dipenuhi seorang muslim dan muslimah sebelum melaksanakan ibadah puasa.

Beragama Islam

Syarat wajib puasa Ramadhan yang pertama adalah seseorang harus beragama Islam atau berstatus muslim. Beragama Islam artinya ia telah mengakui sepenuh hati bahwa Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Esa, dan Muhammad SAW adalah nabi yang diutus oleh Allah.

Dengan adanya syarat ini, maka seseorang yang keluar dari Islam atau yang disebut murtad (baik yang disengaja maupun tidak disengaja), maka tidak memiliki kewajiban untuk menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Jika seseorang yang sudah murtad, namun menjalankan puasa maka puasanya menjadi tidak sah.

Baligh

Baligh adalah istilah dalam hukum Islam yang menunjukkan bahwa seseorang telah mencapai kedewasaan. Secara hukum Islam, seseorang dapat dikatakan balig apabila sudah mengetahui, memahami, dan mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

Secara usia, seseorang yang disebut adalah bagi laki-laki sudah mencapai usia 15 tahun ke atas atau sudah mengalami mimpi basah. Sementara bagi perempuan yang dianggap balig telah mencapai usia 9 tahun ke atas atau sudah mengalami menstruasi pertama. Setelah seseorang balig, maka ia sudah wajib menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Jika tidak melaksanakan puasa maka ia akan berdosa.

Terkait seseorang yang sudah balig wajib berpuasa tercantum dalam hadist berikut ini.

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثٍ عَنْ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنْ الصَّغِيرِ حَتَّى يَكْبُرَ وَعَنْ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ أَوْ يُفِيقَ

“Ada tiga kelompok yang dibebaskan dari hukum, yaitu: (1) Orang yang tidur sehingga ia bangun. (2) Anak-anak sampai ia baligh. (3) Orang gila sampai ia sembuh”. (Hadis Shahih, riwayat Abu Dawud: 3822, al-Tirmidzi: 1343, al-Nasa’i: 3378, Ibn Majah: 2031, dan Ahmad: 910. teks hadis riwayat al-Nasa’i).

Berakal Sehat

Berakal sehat artinya seseorang mampu membedakan mana hal baik dan buruk menggunakan akalnya. Selain itu, dengan akal sehat maka seseorang mampu beraktivitas, berpikir, menyuarakan pendapat, dan mengerti apa yang dilakukannya. Seseorang yang berakal sehat maka wajib baginya utnuk menjalankan puasa.

Sebaliknya, orang yang akal sehatnya hilang atau gila maka ia tidak diwajibkan untuk berpuasa. Dalam hal ini orang yang sedang mabuk, pingsan, atau orang yang kehilangan kesadaran karena alasan tertentu maka tidak memenuhi syarat wajib puasa.

Mampu Berpuasa

Syarat wajib berpuasa selanjutnya adalah seorang muslim harus mampu menjalankan ibadah puasa itu sendiri. Dalam hal ini seseorang sedang tidak mengalami sakit, berada dalam perjalanan jauh, berusia lanjut dan renta, atau tergolong orang-orang yang diperbolehkan untuk tidak berpuasa.

Bila seseorang yang masuk dalam kategori ini masih mampu melaksanakan puasanya di hari lain, maka ia wajib mengganti puasa tersebut. Sementara bila seseorang tidak sanggup lagi mengerjakan puasa, maka diwajibkan untuk membayar fidyah. Ini termasuk orang yang sakit keras dan orang lanjut usia yang sudah lemah.

Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 184.

“Barang siapa yang sakit, atau sedang dalam perjalan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari-hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.  Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan”. (QS. al-Baqarah, 2:185).

Pada ayat yang lain dijelaskan yakni,

“Dan wajib bagi mereka yang berat menjalankannya, (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin”. (QS. al-Baqarah, 2:184).

Mengetahui Awal Ramadhan

Syarat wajib berpuasa yang terakhir adalah seseorang mengetahui waktu awal berpuasa hingga akhir puasa. Mengetahui awal dan akhir puasa Ramadhan dibutuhkan untuk memastikan puasa yang akan dilakukan telah memenuhi sebulan penuh.

Informasi terkait awal bulan Ramadhan dapat diketahui dari lembaga resmi yang biasanya memaparkan awal Ramadhan, melalui perhitungan (hisab) atau teropong (rukyah). Selain itu, syarat wajib berpuasa juga mengetahui bahwa ibadah puasa Ramadhan dilakukan dari terbitnya fajar ke dua sampai tenggelamnya matahari.

Suci Dari Haid Dan Nifas

Syarat wajib berpuasa juga mengharuskan wanita untuk suci dari haid dan nifas. Nifas adalah kondisi keluarnya darah dari rahim setelah melahirkan. Jika wanita pasca mengalami nifas di bulan Ramadhan, maka diperbolehkan untuk tidak berpuasa, sama halnya perempuan haid atau menstruasi. Sementara jika nifasnya telah bersih dan berhenti di bulan Ramadhan, maka dia dapat kembali berpuasa.

Hal tersebut seperti yang tertuang dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim berikut ini:

عَنْ مُعَاذَةَ قَالَتْ سَأَلْتُ عَائِشَةَ فَقُلْتُ مَا بَالُ الْحَائِضِ تَقْضِى الصَّوْمَ وَلاَ تَقْضِى الصَّلاَةَ فَقَالَتْ أَحَرُورِيَّةٌ أَنْتِ قُلْتُ لَسْتُ بِحَرُورِيَّةٍ وَلَكِنِّى أَسْأَلُ. قَالَتْ كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ.

Dari Mu’adzah dia berkata, “Saya bertanya kepada Aisyah seraya berkata, ‘Kenapa gerangan wanita yang haid mengqadha’ puasa dan tidak mengqadha’ shalat?’ Maka Aisyah menjawab, ‘Apakah kamu dari golongan Haruriyah? ‘ Aku menjawab, ‘Aku bukan Haruriyah, akan tetapi aku hanya bertanya.’ Dia menjawab, ‘Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha’ shalat’ (HR. Muslim no. 335.)

Sementara jika kita menyesuaikan dengan kondisi medis atau dari segi kesehatan, maka diketahui bahwa seseorang yang tengah haid atau nifas memang sangat sering mengalami kelelahan, kram, sakit dan tidak sanggup untuk berpuasa. Oleh sebabnya memang wanita yang tengah nifas atau haid perlu memulihkan tenaga terlebih dahulu (sampai darahnya bersih), hingga boleh berpuasa.

Rukun Puasa Ramadhan

Tidak hanya memahami dan memenuhi syarat wajib berpuasa, seorang muslim akan dianggap sah berpuasa jika ia telah menjalankan rukun puasa Ramadhan.

Niat

Niat dan doa puasa di bulan Ramadhan adalah tahapan penting sebelum menjalankan ibadah puasa. Niat doa puasa Ramadhan harus diucapkan sebelum fajar tiba. Namun, beberapa hadist juga menjelaskan bahwa niat bisa diucapkan malam hari sebelum sahur atau setelah sholat tarawih. Niat puasa akan membuat seseorang berkomitmen untuk melaksanakan puasa keesokan hari dengan sepenuh hati.

Adapun bacaan niat sebagai berikut,

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانِ هذِهِ السَّنَةِ لِلهِ تَعَالَى

Artinya: “Saya niat berpuasa esok hari untuk menunaikan fardhu di bulan Ramadhan tahun ini, karena Allah Ta’ala.

Menahan Diri

Wajib hukumnya untuk menahan diri dari hal untuk membatalkan puasa di mulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Ini artinya harus menahan diri dari makan, minum, berhubungan intim, mendengar dan berbicara tentang hal buruk, dan perbuatan-perbuatan yang menimbulkan dosa lainnya. Tentu saja hal ini akan membatalkan puasa seorang muslim.

اُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ اِلٰى نِسَاۤىِٕكُمْ ۗ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَاَنْتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ ۗ عَلِمَ اللّٰهُ اَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُوْنَ اَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۚ فَالْـٰٔنَ بَاشِرُوْهُنَّ وَابْتَغُوْا مَا كَتَبَ اللّٰهُ لَكُمْ ۗ وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْاَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْاَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِۖ ثُمَّ اَتِمُّوا الصِّيَامَ اِلَى الَّيْلِۚ وَلَا تُبَاشِرُوْهُنَّ وَاَنْتُمْ عٰكِفُوْنَۙ فِى الْمَسٰجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ فَلَا تَقْرَبُوْهَاۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ

 

“Dihalalkan bagimu pada malam hari puasa bercampur dengan istrimu. Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu sendiri, tetapi Dia menerima tobatmu dan memaafkan kamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam. Tetapi jangan kamu campuri mereka, ketika kamu beriktikaf dalam masjid. Itulah ketentuan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, agar mereka bertakwa.” (Al-Baqarah: 187).

Promo Diskon Cairo Food

Memenuhi persyaratan wajib puasa akan membuat pahala puasa seseorang insyaallah diterima oleh Sang Pencipta, Allah SWT. Dengan demikian penting bagi seluruh umat-Nya untuk mematuhi dan menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *