Siapa Saja Yang Boleh Tidak Berpuasa?

Puasa Ramadhan wajib hukumnya untuk dilaksanakan bagi umat muslim. Meski hukum puasa tidak pandang bulu, namun Islam tetap memberi perhatian pada golongan orang atau kondisi tertentu yang mungkin tidak mampu menjalankan puasa secara sempurna. Keringanan dan perhatian ini disebut dengan rukhsah, yaitu orang-orang yang tercantum dalam ayat Al-Quran terkait dibolehkan meninggalkan puasa. Ini tercantum dalam firman Allah SWT dalam surah Al-Baqarah ayat 185.

“… Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur,” (Qs.Al-Baqarah: 185)

Anak Kecil

Anak-anak yang belum baligh atau belum dewasa adalah golongan orang yang boleh tidak puasa Ramadhan. Orang yang disebut dewasa dicirikan dengan, sudah mengalami mimpi basah bagi laki-laki dan menstruasi pada perempuan. Secara lebih rinci, mimpi basah atau keluar mani bagi anak laki-laki dewasa harus sudah terjadi pada usia 9 tahun hijriah. Sementara bagi anak perempuan harus sudah mengalami haid pertama pada usia 9 tahun hijriah.

Apabila tidak keluar mani dan tidak haid pada usia tersebut, maka tingkat kedewasaan anak akan ditunggu hingga 15 tahun. Jika sudah genap 15 tahun, maka anak kecil akan disebut telah baligh secara usia dan sudah wajib berpuasa.

Orang Dengan Gangguan Jiwa

Orang yang mengalami kehilangan akal sehat atau orang dengan gangguan jiwa diperbolehkan untuk tidak berpuasa. Sebaliknya jika golongan orang ini tetap berpuasa maka puasanya jelas tidak sah. Dalam hal ini, ulama membagi orang yang kehilangan akal sehat menjadi dua macam.

Pertama, hilang akal sehat dengan sengaja maka hukumnya wajib untuk mengqadha puasanya. Hal ini dikarenakan orang golongan sengaja membuat dirinya gila, maka kesengajaan tersebut mewajibkan ia menggantikan puasanya di lain hari. Sementara orang yang mengalami gangguan jiwa secara tidak sengaja, maka boleh tidak berpuasa. Bahkan ketika ia sudah sembuh, golongan orang ini juga tidak wajib untuk mengqadha puasanya.

Orang Yang Sakit

Orang yang sakit diperbolehkan untuk tidak berpuasa pada bulan Ramadhan. Hal ini dikarenakan puasa mungkin dikhawatirkan dapat memperburuk kesehatan orang yang sedang sakit. Dalam ssurah Al-Baqarah ayat 143, orang yang sakit diperbolehkan untuk tidak berpuasa namun harus menggantikan puasanya ketika ia sembuh di kemudian hari.

 “(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Tetapi barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Qs. Al-Baqarah: 143).

Berdasarkan ayat diatas maka seseorang yang sakitnya sudah sangat parah dan sangat sulit untuk sembuh, maka boleh menggantinya dengan fidyah. Hal ini juga berlaku untuk orang yang sedang berpuasa, namun secara tiba-tiba pada pertengahan hari ia mengalami sakit dan lemah. Sehingga tidak mampu untuk berpuasa, maka ia diperbolehkan membatalkan puasanya. Namun puasa ini perlu diganti di lain hari setelah Ramadhan.

Orang Tua Atau Lansia

Orang tua atau lansia tidak wajib berpuasa, terutama jika sudah sangat lemah dan tidak mampu untuk berpuasa. Orang dengan golongan ini juga tidak mungkin untuk mengqadha puasanya, sehingga wajib mengganti hari puasanya dengan membayar fidyah yaitu memberi makan kepada fakir dan miskin.

Musafir

Musafir sama dengan orang yang sedang melakukan perjalanan jauh atau sedang bepergian. Golongan orang ini diperbolehkan untuk tidak berpuasa, namun harus mengganti puasanya di lain hari. Dalam hal ini musafir harus memahami bahwa jika ia berpuasa maka akan menyulitkan perjalanannya.

Dalil dari hal tersebut dapat kita lihat dalam hadits Jabir bin ‘Abdillah. Jabir yang mengatakan:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersafar melihat orang yang berdesak-desakan. Lalu ada seseorang yang diberi naungan. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Siapa ini?” Orang-orang pun mengatakan, “Ini adalah orang yang sedang berpuasa.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukanlah suatu yang baik, jika seseorang berpuasa ketika dia bersafar”.

Akan tetapi, mengutip dari buku Ramadhan Di Tengah Wabah yang ditulis oleh Ahmad Syaikhu,  menjelaskan bahwa ulama telah sepakat bahwa bagi seseorang yang melakukan perjalanan melalui pesawat atau kendaraan yang sangat nyaman, maka puasa masih harus diutamakan.

Beberapa ketentuan dari orang yang bepergian yang dianggap boleh tidak berpuasa yaitu tempat tinggal menuju tempat tujuan jaraknya harus lebih dari 84 km. Selain itu, saat subuh di hari para musafir tidak ingin berpuasa, maka musafir harus sudah berada di perjalanan dan keluar dari wilayah tempat tinggalnya minimal melewati batas kecamatan. Namun, bagi musafir yang telah menetap di suatu tempat atau wilayah selama lebih dari 4 hari, maka ia wajib berpuasa sesuai zona yang sedang ia tempati.

Wanita Hamil Dan Menyusui

Ibu hamil dan menyusui diperbolehkan untuk tidak berpuasa namun tetap harus mengganti puasanya di lain hari. Keringanan ini disebabkan oleh adanya kekhawatiran bagi bayi maupun janin apabila ibunya berpuasa. Ulama menyepakati bahwa hamil usia berapa bulan pun, maka tetap diizinkan untuk tidak berpuasa.

Namun secara khusus, bagi ibu menyusui ada batasannya yakni anaknya paling lama menyusui hingga usia 2 tahun. Sementara ibu hamil dan menyusui yang memaksa untuk berpuasa di bulan Ramadhan, maka puasanya tetap sah asalkan tidak membahayakan untuk bayi maupun dirinya sendiri.

Haid Dan Nifas

Haid akan terjadi pada wanita setiap siklus 28 hari dan pada saat tersebut wanita dilarang untuk berpuasa. Hal ini juga sama dengan ibu yang baru saja melahirkan dan mengeluarkan darah nifas yang menyerupai menstruasi, namun dengan jumlah yang lebih banyak. Haid dan nifas adalah dua kondisi yang membuat wanita masih tergolong mengalami najis besar sehingga dilarang untuk berpuasa. Oleh sebab itu puasa baru diperbolahkan ketika wanita sudah bersih dari darah haid dan nifas, serta telah melaksanakan mandi wajib.

Orang Yang Memiliki Sebab-Sebab Untuk Tidak Berpuasa

Orang yang termasuk golongan ini adalah orang yang berada pada kondisi tertentu sehingga tidak mampu untuk berpuasa. Sebaliknya, jika ia memaksa untuk berpuasa maka mungkin akan membahayakan dirinya sendiri. Misalnya orang yang sedang berjuang di medan perang boleh meninggalkan puasanya sesuai penyampaian Jabir bin ‘Abdillah, beliau berkata:

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar pada tahun Fathul Makkah (8 H) menuju Makkah di bulan Ramadhan. Beliau ketika itu berpuasa. Kemudian ketika sampai di Kuroo’ Al Ghomim (suatu lembah antara Mekkah dan Madinah), orang-0rang ketika itu masih berpuasa. Kemudian beliau meminta diambilkan segelas air. Lalu beliau mengangkatnya dan orang-orang pun memperhatikan beliau. Lantas beliau pun meminum air tersebut. Setelah beliau melakukan hal tadi, ada yang mengatakan, “Sesungguhnya sebagian orang ada yang tetap berpuasa.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengatakan, “Mereka itu adalah orang yang durhaka. Mereka itu adalah orang yang durhaka”.

Dengan demikian Nabi Muhammad SAW mencela keras jika seseorang berpuasa dalam kondisi sangat-sangat sulit seperti tersebut. Hal ini akan dianggap sebagai sebagai sesuatu yang tidak pantas dilakukan karena ketika berada dalam medan perang, seseorang pasti membutuhkan asupan energi yang cukup.

Jika anda sedang berhalangan atau mengalami kondisi seperti di atas sehingga tidak mampu berpuasa, maka anda tetap bisa mengumpulkan pahala melalui kebaikan dan amalan jariyah yaitu infak, bersedekah, dan wakaf.

Selain itu, saat Ramadhan tepatnya ketika kita tidak berpuasa maka sebaiknya umat muslimin tetap produktif dan melakukan hal-hal yang bermanfaat untuk diri sendiri maupun orang lain. Ingat bahwa puasa Ramadhan tidak hanya wajib secara agama, namun puasa ini nyatanya juga membawa manfaat bagi kesehatan jiwa dan raga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *