Sejarah Dan Perkembangan Lira Sebagai Mata Uang Turki

Jika anda traveling untuk mencicipi makanan khas Turki, maka anda pasti sudah tahu bahwa di sana menggunakan mata uang Turkish Lira yang dikenal dengan TRY atau dilambangkan dengan ₺. Di tahun 2020 lira sempat menjadi mata uang terbaik pasca mencapai level terlemah karena jeblok lebih dari 44%. Di balik kisah lira sebagai mata uang Turki, sebenarnya ada sejarah panjang dan fakta-fakta menarik dari mata uang ini.

Diperkenalkan Oleh Charlemagne

Lira adalah nama dari beberapa unit mata uang. Kini, lira merupakan mata uang Turki yang ternyata dulunya sempat menjadi mata uang Italia, Malta, San Marino, dan Kota Vatikan sebelum diganti pada tahun 2002 dengan Euro.

Rahasia masakan lebanon autentik

Jika kilas balik lebih jauh, lira diperkenalkan di Eropa oleh Charlemagne tepatnya tahun 742–814. Tidak ada koin lira yang dicetak selama Abad Pertengahan, dan lira tetap menjadi uang yang digunakan secara tidak resmi. Awalnya Libra adalah dasar dari sistem moneter pada kekaisaran romawi. Ketika Eropa melanjutkan sistem moneter, Kekaisaran Carolingian menggunakan sistem romawi yang disebut £sd (dikenal dengan satuan librae, solidi, dan denarii).

Sistem tersebut digunakan selama Abad Pertengahan dan Zaman Modern di Inggris, Perancis, dan Italia. Di masing-masing negara, libra diterjemahkan ke dalam bahasa lokal yakni pound di Inggris, livre di Perancis, dan lira di Italia. Lira Venesia merupakan salah satu mata uang yang digunakan di Italia, dan karena kekuatan ekonomi Republik Venesia, maka mata uang Lira Venesia menjadi populer dalam perdagangan Mediterania Timur.

Kemudian pada abad ke-16 beberapa negara bagian Italia benar-benar mencetak koin lira, tetapi beratnya sangat bervariasi. Salah satu negara bagian yang menggunakan lira adalah kerajaan Sardinia. Kemudian mata uang ini pun diadopsi di seluruh Italia ketika disatukan di bawah kepemimpinan Sardinia.

Pada tahun 1862 lira Italia saat itu telah dibagi menjadi 20 solidi yang didefinisikan ulang, dan kemudian sistem desimal diperkenalkan. Akhirnya satu lira dihargai sama dengan 100 centesimi. Akan tetapi, memasuki tahun 2002 lira tidak lagi menjadi alat pembayaran yang sah di Italia karena euro resmi diadopsi dan menjadi satu-satunya mata uang yang berlaku di Uni Eropa.

Fase Lira Pertama Di Turki

Lira pertama kali diperkenalkan sebagai mata uang pada tahun 1844. Saat itu Kekaisaran Ottoman yang berkuasa menamai mata uang ini sebagai Lira Ottoman. Sebelum menggunakan lira, masyarakat Turki menggunakan Kurush untuk bertransaksi perdagangan. Kurush merupakan sub-unit mata uang Turki atau koin logam yang nilainya lebih kecil dari lira. Saat lira keluar 100 Kurush dihargai setara dengan 1 lira.

Setelah Kekaisaran Ottoman jatuh, tepatnya pada tahun 1923, Lira tetap dipertahankan namun lebih dikenal dengan nama yang baru yaitu lira turki.  Sejak lira resmi dirilis, mata uang ini termasuk mata uang yang stabil hingga tahun 1970-an. Namun, krisis ekonomi melanda dan  inflasi telah menjatuhkan nilai tukar lira tersebut dengan sangat cepat.

Bahkan, nilai lira terhadap USD sendiri terus merosot hingga tahun 2005. Berikut grafik perbandingan lira Turki dan USD dari tahun 1970 hingga 2005.

Tahun Nilai Lira Turki (₺) per 1 USD
1970 11,30₺
1975 14,40₺
1980 80₺
1985 500₺
1990 2,500₺
1995 43,000₺
2000 620,000₺
2005 1,350,000₺

Fase Kedua Lira Di Turki

Era kedua lira Turki dimulai pada tahun 2005 sebagai solusi untuk menjawab penurunan mata uang lira secara tajam. Seperti yang diketahui 1 USD bisa mencapai 1 juta lira di tahun 2005 yang menunjukkan berapa turunnya nilai mata uang ini. Sepanjang sejarahnya, lira Turki dipatok ke pound Inggris, franc Prancis, dan USD Amerika Serikat. Meskipun tidak ada lagi batasan yang jelas, Turki secara aktif melakukan intervensi di pasar mata uang dan berusaha untuk mengatur kembali nilai lira dengan kode TRY.

Apapun Bumbunya Tidak Pakai Pewarna

Majelis Nasional Agung Turki mengesahkan undang-undang pada bulan Desember 2003 yang memungkinkan redenominasi lira Turki dengan menghilangkan enam nol dan memperkenalkan mata uang baru. Lira Turki baru diluncurkan pada 1 Januari 2005 untuk menggantikan lira Turki sebelumnya. Dengan lira yang baru maka 1 lira Turki baru (kode TRY) setara dengan 1.000.000 lira Turki lama (kode TRL).

Perlahan, lira lama pun dihapuskan.  Revaluasi mata uang lira tersebut menyebabkan mata uang leu Rumania, yang juga direvaluasi pada tahun 2005, menjadi mata uang paling tidak berharga di dunia untuk beberapa bulan. Selanjutnya, di tahun 2009, Bank Sentral Turki mencetak uang kertas versi terbaru, namun dengan menghilangkan kata “Baru” yang sebelumnya telah tercetak di cetakan sebelumnya. Pemerintah Turki meluncurkan dua uang kertas pecahan 50 dan 100 sebagai lira baru.

Lira Turki Saat Ini

Seri uang kertas baru dari lira dinamakan E-9 Emission Group yang mulai beredar pada 1 Januari 2009. Seri E-8 tidak lagi tersedia sejak 31 Desember 2009, tetapi tetap dapat ditukarkan di cabang Bank Sentral hingga 31 Desember 2019. Uang kertas E-9 dikenal luas sebagai “lira Turki” dan tidak lagi perlu disebut “lira Turki baru.” Uang kertas lira dicetak dalam berbagai ukuran untuk menghindari pemalsuan.

Perbedaan utama dari kelompok lira terbaru dengan lira lama secara kasat mata yaitu setiap denominasi menggambarkan karakter Turki yang ikonik, dan tidak menonjolkan fitur arsitektur dan lokasi geografis Turki. Warna utama uang kertas 5 TRY diputuskan menjadi “ungu” di set kedua uang kertas lira baru.

Saat ini beredar uang kertas pecahan 5 TRY, 10 TRY, 20 TRY, 50 TRY, 100 TRY, dan 200 TRY. Tak hanya itu, mata uang Turki juga mencakup koin 1, 5, 10, 25, dan 50 kurush.  Kurush digunakan untuk transaksi yang lebih rendah dari nilai 1 lira. Dalam hal ini 100 kurush sama denga 1 koin lira.

Jatuh Bangun Lira Berjuang Melawan Inflasi

Nilai tukar TRY semakin dalam tergerus pada 2018 yaitu mencapai USD 4,50/TRY pada minggu kedua Mei dan USD 4,90 seminggu kemudian. Di antara para ekonom, percepatan hilangnya nilai mata uang ini, seringkali dikaitkan dengan Recep Tayyip Erdoğan, yang melarang Bank Sentral Turki membuat perubahan suku bunga yang diperlukan. Terlepas dari perlawanan yang jelas dari Erdogan, Bank Sentral Turki menaikkan suku bunga secara tajam.

TRY turun lebih dari 20% terhadap dolar AS pada 10 Agustus 2018, karena campuran masalah geopolitik dan ekonomi di sekitar Turki. Selain mengalami inflasi yang parah dan tekanan pemerintah untuk menahan suku bunga, Turki juga menghadapi krisis utang yang mengancam akan membawa lebih banyak tekanan pada ekonomi dan mata uang lira.

Masak Enak Jadi Mudah

Saat ini, TRY terus menurun nilainya, dengan mata uang mengalami fase devaluasi dan secara teratur mencapai posisi terendah sepanjang masa. TRY turun lebih dari 400% sejak 2008 relatif terhadap dolar AS dan pound Inggris. Angka ini sangat besar dan cukup untuk membuat sebuah mata uang tidak bernilai lagi di pasar global.

Bahkan hingga tahun 2020, inflasi masih terus terjadi di Turki. Sejak akhir 2020 lira berhasil mencatat penguatan 6,6% melawan dolar AS. Persentase tersebut menjadikan lira “raja” mata uang dibandingkan mata uang emerging market hingga negara maju lainnya.

Akan tetapi, selang beberapa waktu tepatnya 5 hari setelah lira mengalami perkembangan baik, keputusan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan yang “abnormal” justru membuat lira jatuh kembali hingga setengah dari nilai aslinya. Erdogan mengatasi inflasi dengan memangkas suku bunga acuan hingga 4 bulan berturut-turut. Padahal ketika inflasi terjadi, harusnya Bank Sentral menaikkan suku bunga agar menstabilkan peredaran uang dan ekonomi pun membaik. Intervensi dari presiden Erdogan telah mengantarkan nilai tukar lira terus memburuk hingga tahun 2021.

Saat ini, Erdogan sedang mencoba mendorong perbaikan nilai lira melalui serangkaian langkah moneter yang tak biasa. Erdogan mengklaim akan melindungi simpanan orang Turki dengan memberikan kompensasi atas dampak depresiasi (penurunan) lira pada simpanan masyarakat. Akhirnya, sepanjang 2021, lira Turki kembali anjlok 79,17% di hadapan greenback. Bisa dikataka ini adalah depresiasi tahunan terparah yang pernah terjadi di Turki, setidaknya dalam kurun 20 tahun terakhir. Meski fenomena ini cukup menegangkan, namun belum ada perubahan signifikan terhadap kenaikan lira hingga hari ini dari pihak pemerintah.

Fenomena inflasi dan deflasi mata uang menjadi masalah makro ekonomi yang melibatkan banyak pihak, termasuk situasi politik domestik, minat masyarakat terhadap mata uang, serta masalah sosial ekonomi nasional. Oleh sebabnya, penyelesaian masalah ini harus melibatkan banyak pihak sebelum suatu negara mengalami krisis moneter yang berkelanjutan.

masak 2 kg daging shawarma

Leave a Reply

Your email address will not be published.