Mengenal Roti Buaya Serta 4 Fakta Dan Sejarahnya

mengenal roti buaya serta 4 fakta dan sejarahnya

Hidangan roti buaya sudah banyak diketahui masyarakat luas. Roti ini lahir dari kebudayaan dan tradisi suku Betawi. Suku Betawi menjadi sangat sentral karena suku ini berada di pusat Ibukota Indonesia, yaitu Jakarta. Roti buaya tak akan lepas dari masyarakat Betawi. Bila ada tetangga atau teman kamu yang menyajikan roti buaya, dapat dipastikan dirinya ‘Anak Betawi Asli’ (sebutan bagi orang yang berasan dari suku Betawi). Berbeda dari makanan khas Betawi lainnya, roti buaya lebih masuk ke kuliner khas Betawi karena tidak digolongkan sebagai makanan keseharian.

Terlepas dari itu, suku Betawi merupakan suku yang mendiami wilayah Jakarta, yang pada zaman dahulu dikenal dengan Batavia. Batavia dahulu adalah nama lokasi yang berada di Jakarta dan Sekitarnya. Karena wilayah cakupannya cukup luas, masyarakatnya pun beragam. Telah dianggap Batavia adalah campuran dari masyarakat Jawa (termasuk Sunda), Sulawesi Selatan, Sumba, Bali, Ambon, dan Melayu yang mulai muncul dan masuk ke wilayah Batavia.

mengenal roti buaya serta 4 fakta dan sejarahnya jakarta

Istilah suku Betawi ternyata sudah muncul pada abad ke-17, di mana orang Betawi pernah disebutkan secara tertulis dalam testamen Nyai Inqua pada 1644. Nyai Inqua adalah janda dari Timn Tanah Souw Beng Kong, seorang Kapiten Tionghoa pertama di Batavia. Dirinya dinyatakan telah menyebut seorang pembantu perempuannya yang merupakan suku Betawi, karena disebutkan sebagai orang Batavia. Bukti tertulis inilah yang menjadi sebab musabab masyarakat Betawi.

Teori lainnya muncul bahwa istilah Betawi dianggap berasal dari orang Sunda yang wilayahnya dekat dengan Batavia. Dikarenakan lidah orang Sunda yang kesulitan menyebut Batavia, karena ada huruf ‘v’ nya, sebab orang Sunda tidak memiliki konsonan huruf ‘v’. Akhirnya yang keluar menjadi Batawi, yang lambat laun berubah vokal menjadi Betawi. Dari semua teori, tetap disepakati bahwa suku Betawi lahir dari pencampuran berbagai macam aku bangsa yang berasal dari wilayah dan pengaruh dari berbagai bangsa seperti Portugis, India, Cina, Arab, Belanda, dan sebagainya.

Roti buaya hadir karena adanya fase kehidupan masyarakat Betawi. Dalam kehidupan orang Betawi, ada tiga fase kehidupan yang dianggap penting, yaitu khitanan, pernikahan, dan kematian. Fase pertama yaitu khitanan. Perayaan khitanan dilakukan dengan semarak dan meriah oleh masyarakat Betawi, di mana setelah upacara ini seorang anak wajib melakukan ibadah dan memahami peraturan adat yang ada.

Fase kedua adalah upacara pernikahan, dimana adanya kemeriahan adat dan tradisi Betawi, berupa palang pintu juga roti buaya. Fase ketiga adalah kematian. Berbeda dengan kedua fase lainnya, upacara kematian indentik dengan melaksanakan pembacaan Al-Quran. Hadirnya roti buaya ini merupakan fase kehidupan, yaitu pernikahan. Mengapa Demikian? Berikut penjelasan mengenai 4 fakta dan sejarah menarik dari roti buaya.

Sebagai Penghantar Pernikahan

Fakta satu ini pastinya sudah dikenal oleh banyak orang. Setiap acara pernikahan suku Betawi, akan terpampang nyata terdapat roti buaya. Roti buaya ini biasanya dibawa oleh calon pengantin pria, yang akan meminang calon istri. Roti buaya ini biasanya terpampang di dinding rumah mempelai wanita atau ditempatkan di atas nampan.

mengenal roti buaya serta 4 fakta dan sejarahnya sebagai penghantar pernikahan

Salah satu alasan penggunaan buaya dalam roti buaya yang digunakan dalam seserahan pernikahan adalah agar pasangan tersebut dapat hidup dengan selamat layaknya buaya yang dapat selamat hidup di darat dan di air. Hal ini sesuai dengan karakter buaya yaitu bahwa buaya dapat hidup di air dan darat. Jadi ini mengartikan bahwa kedua pasangan kelak dapat tetap hidup bersama dalam keadaan apapun, baik saat sedang di atas, atau di bawah. Layaknya roda yang berputar.

Karakter lain dari buaya yang terdapat dalam roti buaya adalah bahwa buaya termasuk binatang dengan ciri dismorfisme seksual. Ukuran buaya jantan lebih besar daripada buaya betina. Dalam hal ini roti buaya yang dibawa dalam upacara pernikahan digambarkan dengan sepasang roti buaya, yang berupa roti buaya berukuran besar dan ukuran kecil. Roti buaya berukuran kecil melambangkan perempuan yang diletakkan di atas roti buaya berukuran besar yaitu laki-laki.

Melambangkan Kesetiaan

Fakta satu ini pastinya mengikat dari fakta sebelumnya yang dijadikan sebagai penghantar pernikahan. Roti buaya ini dipercaya oleh masyarakat Betawi sebagi simbol kesetiaan. Kesetiaan ini berawal dari inspirasi perilaku buaya yang hanya kawin sekali sepanjang hidupnya. Dan akhirnya masyarakat betawi meyakini hal itu secara turun temurun. Ini berlaku pada kesetiaan seorang suami kepada istrinya. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa roti buaya sepasang adalah suatu persembahan atau bentuk “seserahan‟ mempelai pria kepada
wanitanya.

Selain terinspirasi perilaku buaya, simbol kesetiaan yang diwujudkan dalam sebuah makanan berbentuk roti itu juga memiliki makna khusus. Menurut keyakinan masyarakat Betawi, roti juga menjadi simbol kemapanan ekonomi. Karena harganya yang dapat dijangkau oleh masyarakat banyak, sehingga dianggap lelaki mampu membeli roti tersebut. Sebab pada zaman kolonial, roti tawar ini banyak ditemukan hidangan khas Belanda. Saat itu setiap ada acara, akan menghadirkan roti tawar pada menu mereka. Masyarakat Betawi kemudian beranggapan bahwa roti tawar ini diharapkan dapat menjadi mapan seperti petinggi-petinggi Belanda. Kemudian masyarakat Betawi memberikan inovasi unik pada bentuknya, yang diawali dari kesetiaan buaya.

mengenal roti buaya serta 4 fakta dan sejarahnya melambangkan kesetiaan

Dengan begitu ini memiliki maksud, selain bisa saling setia, pasangan yang menikah juga memiliki masa depan yang lebih baik dan bisa hidup sukses dan mapan. Karenanya, tidak heran jika setiap kali prosesi pernikahan, mempelai laki-laki selalu membawa sepasang roti buaya berukuran besar, dan satu roti buaya berukuran kecil. Ini mencerminkan kesetiaan mempelai laki-laki kepada mempelai perempuan sampai beranak cucu. Tradisi ini masih berlangsung sampai sekarang oleh orang Betawi yang masih menghargai adat istiadat nene moyang mereka.

Dalam adat istiadat masyarakat Betawi, roti buaya biasanya digunakan oleh masyarakat Betawi sebagai bawaan atau buah tangan dalam prosesi pernikahan. Roti buaya sejak dahulu merupakan roti tawar atau tanpa rasa apapun. Roti tawar ini mutlak harus selalu ada dalam seserahan adat istiadat masyarakat Betawi, karena pada zaman dulunya roti tawar ini termasuk makanan istimewa yang sulit untuk di dapatkan dan hanya di makan oleh orang-orang tertentu.

Selain itu juga dari nilai kelakuan dan karakter yang terkandung didalamnya, yakni diharapkan kedua mempelai dapat berkelakuan seperti pasangan buaya. Buaya biasanya monogami (pernikahan sekali seumur hidup) dan memiliki sarang yang tetap dan tidak berpindah-pindah. Oleh karena filosofis sikap kesetiaan pasangan hidup buaya tersebut juga digunakan oleh masyarakat Betawi sebagai cermin bagaimana seharusnya pasangan mempelai bertindak dan berperilaku antara satu sama lain. Selalu setia, memiliki rumah yang tetap, tidak tinggal di tempat lain atau bersama orang lain, dan mengharamkan perselingkuhan adalah nilai yang terkandung di dalamnya.

Nilai-nilai norma dan etika ini hidup karena masyarakat Betawi pada dasarnya adalah masyarakat muslim yang taat beragama. Dilambangkan pada sinetron ‘Si Doel, Anak Betawi”, pada lagu backsoundya terdapat lirik “kerjaanye sembahyang mengaji”. Ini dianggap menghargai kehidupan bersosial dengan masyarakat Betawi lainnya. Sehingga sangat dilarang dalam pergaulan bebas. Inilah yang sangat agung dan perlu ditumbuh suburkan pada masyarakat Betawi modern saat ini. Karena Indonesia sejatinya menerapkan Budaya Timur, bukan Budaya Barat.

Hal ini untuk mengantisipasi terkondisinya masyarakat Betawi akan segala macam penyakit hati dan penyimpangan pola pergaulan masyarakat urban yang menyerang kehidupannya sebagai masyarakat penduduk asli ibu kota Negara Indonesia, yaitu Jakarta.

Ikon Kuliner Khas Betawi

Roti buaya mungkin tidak terdengar asing di telinga, terutama kalau kamu adalah warga asli Jakarta. Sepertinya tidak akan terheran-heran untuk mendengar kuliner ini. Roti buaya ini bila diperhatikan dari bentuknya, termasuk jenis buaya muara. Hal ini didukung dengan data penyebaran buaya yang tersebar di seluruh perairan Indonesia, termasuk wilayah Batavia.

Dari adat dan tradisi pernikahan ini, yang berkembang setia waktu, roti buaya mulai dikenal banyak orang dan akhirnya menjadi ikon kuliner Betawi. Sebab, hanya pada pernikahan suku Betawi saja yang akan menyajikan roti buaya pernikahan.

mengenal roti buaya serta 4 fakta dan sejarahnya bentuk roti buaya

Dilanjut, sebagai ikon kuliner Betawi, karena Buaya sudah melekat pada kawasan Batavia. Pada zaman dahulu, dipercaya bahwa area Batavia adalah wilayah yang banyak dikelilingi oleh Buaya. Sehingga pemerintah kolonial Belanda membatasi dirinya terutama Jawa dan Madura. Ini menyimpulkan bahwa pada masa itu banyak buaya yang terdapat di wilayah Jawa dan Madura. Nyatanya memang, dahulu wilayah Batavia adalah area yang paling banyak dialiri sungai, dan terkenal banyak dihuni buaya, karena memang habitat asli buaya adalah sungai dan rawa. Seperti halnya wilayah Rawamangun, Jakarta Timur. Rawamangun sendiri terdiri dari dua kata, yaitu “rawa” dan “mangun”. Sehingga dapat disimpulkan bahwa wilayah tersebut merupakan rawa-rawa yang dibangun (pembangunan).

Sayangnya, saat ini roti buaya tidak mudah dijumpai di toko-toko roti umum. Untuk itu, bagi pasangan yang akan menikah harus memesan dahulu ke tukang roti yang bisa membuat roti buaya. Harganya juga bervariasi tergantung ukuran yang dipesan, yakni mulai dari 50 ribuan hingga ratusan ribu rupiah. Itu sudah termasuk rasa roti, keranjang, dan aksesoris pelengkapnya. Roti buaya adalah kue perayaan, jadi tidak akan setiap hari ada. Kalau kamu mau membelinya harus pesan terlebih dahulu.

Sejatinya, bagi warga yang sudah terbiasa membuat roti, tidak terlalu sulit membuat roti buaya ini. Sebab, bahan dasarnya sangat sederhana, yakni terigu, gula pasir, margarin, garam, ragi, susu bubuk, telur dan bahan pewarna agar berwarna kecoklatan. Keseluruhan bahan tersebut dicampur dan diaduk hingga rata dan halus, kemudian dibentuk menyerupai Buaya. Diikuti dengan permukaan kulit tajam buaya juga harus ada. Setelah dibentuk kemudian dioven atau dipanggang hingga matang.

Modifikasi roti ikon Jakarta ini terdapat pada rasanya. Tidak hanya tawar, tetapi juga ada rasa dari selai strawberry, selai nanas, selai coklat dan lainnya. Tentunya, dengan adanya penambahan rasa ini dapat membuat rasa roti buaya menjadi lebih nikmat.

Terkait Mitos Buaya Putih

Penggunaan roti buaya ini tidak akan terlepas dari konsep dunia mitos Betawi yang sangat mengagungkan buaya putih sebagai pertanda baik untuk perkawinan. Buaya putih adalah hewan mistis penunggu sungai yang dianggap keramat bagi mereka. Sepasang roti buaya itu menyimbolkan suatu kekuatan spiritual yang akan melindungi pasangan yang menikah telah menikah. Buaya putih ini dianggap sebagai siluman yang didefinisikan dengan bentuk perubahan wujud manusia menjadi hewan. Dalam istilah bahasa Betawi lama, siluman buaya disebut dengan ‘aji putih nagaraksa’, anak Priyangan dengan hati yang suci, berwujud buaya.

mengenal roti buaya serta 4 fakta dan sejarahnya terkait mitos buaya putih

Bila menurut sejarahnya, simbol Buaya (putih) masuk dalam dunia mitos Betawi, diketahui berasal dari pengaruh kuat dari kebudayaan orang Dayak dan Melayu Kalimantan Barat yang telah hijrah ke Jakarta paling sedikit sejak abad 10 M. Mereka inilah yang kemudian menjadi komponen utama yang menurunkan dan menciptakan komunitas baru yakni orang Betawi, di Jakarta. Cerita mitosnya, Arkian, Mahatara adalah Dewa utama orang Dayak. Mahatara punya 7 puteri yang disebut dewi-dewi Santang (mengingatkan nama Kyan Santang, yaitu putera Prabu Siliwangi dari perkawinannya dengan selir Nhay Subang Larang yang beragama Islam).

Mahatara mempunyai putra yang bernama Jata. Jata ini wajahnya merah dan kepalanya berbentuk kepala Buaya. Karena itu orang Dayak menganggap buaya adalah hewan suci karena dianggap penjelmaan dari Jata tersebut. Orang Dayak tidak membunuh Buaya kecuali warganya ada yang ditelan Buaya. Hal ini karena adanya anggapan bahwa buaya yang memakan manusia sedang kerasukan roh halus jahat, yang akhirnya harus dibunuh agar korban tidak semakin banyak.

Selain daripada cerita tersebut, ada pula cerita pendukung yang akhirnya menghubungkan buaya putih pada suku Betawi. Ini diutarakan oleh Bu Siti, dosen mata kuliah Bahasa dan Budaya Betawi, UNJ, dengan cerita dan prosesnya hampir sama, yaitu dengan adanya pergeseran masyarakat Cirebon yang tinggal di daerah Batavia. Dahulu orang Cirebon menganggap, bahwa buaya putih merupakan jelmaan salah seorang putra dari Sultan Sepuh I Syamsudin Martawijaya yang bernama Elang Angka Wijaya. Dirinya dianggap tidak nurut pada sang Ayahanda, yang kemudian dikutuk lah menjadi Buaya Putih. Masyarakat percaya bahwa buaya putih tidak buas atau galak. Bila buas, menurut mereka telah dirasuki roh jahat.

Akhirnya, dari dua persepsi tersebut lambat laun terjadi pergeseran konsep terhadap simbol Buaya dalam masyarakat Betawi. Dalam dunia mitos Betawi, orang Betawi tidak mensucikan Buaya sebagai hewan ma‟ujud (konkret) tetapi yang dihormati adalah buaya siluman yang warnanya putih. Karena dianggap sebagai pelindung dari rawa-rawa daerah Batavia dari penjajah kolonial. Anggapan inilah yang kini menjadi perlindungan pada wanita yang sudah menikah dalam wujud roti buaya.

Roti buaya tidak boleh dimakan, para tamu yang hadir pun tidak diperbolehkan mengambil roti tersebut, jika diambil akan mendatangkan bala (bahaya). Roti buaya yang disajikan terdiri dari bentuk yang besar dan kecil. Roti digunakan sebagai simbol harapan bahwa rumah tangga menjadi tangguh dan mampu bertahan hidup di mana saja layaknya buaya. Keberadaan roti buaya dalam upacara pernikahan menjadi sebuah mitos adanya pertanda baik untuk pernikahan. Roti buaya juga merupakan penghormatan dan terima kasih terhadap roh siluman buaya putih yang berwujud dalam roti buaya.

Roti yang dipakai dalam seserahan upacara pernikahan adat Betawi berupa sepasang roti buaya. Bagi orang Betawi, merupakan penghormatan atas kesaktian buaya, yang diartikan bukan dalam wujud fisik tetapi siluman yang dipuja. Dengan persembahan sepasang roti buaya maka dianggap perkawinan itu mendapat perlindungan dari kekuatan-kekuatan gaib. Sepasang roti buaya adalah persembahan mempelai pria kepada mempelai wanita, tidak boleh dimakan dan hanya dipajang saja di atas meja, kadang-kadang ditempelkan di dinding dekat pelaminan. Ini dianggap, bahwa adanya simbol berterima kasih pada roh siluman buaya putih.

Sesudah anak perawan (wanita) mendapat lamaran dari calon pria dan sudah ada ijab kabul, maka roti ini haruslah dipajang sebagai tanda. Entah ditempelkan di garda depan rumah atau disimpan di lemari pajangan. Roti itu tidak dimakan sampai dia habis busuk. Tanda ini melambangkan bahwa mempelai wanita sudah ada yang punya, dan dianggap sebagai perlindungan bagi wanita dari godaan-godaan pria lain yang berkunjung ke rumah.

Roti buaya ini kemudian sekitar abad ke-20 mulai bisa dan boleh dimakan setelah menuai protes dari masyarakat yang menganggap hal tersebut mubazir. Ini dianggap membuang-buang makanan yang tidak seharusnya dibuang. Sejak saat itulah para pembuat roti mengakalinya dengan membuat roti buaya manis yang bisa dimakan. Namun, ini bukan berarti semua masyarakat Betawi menggunakan roti buaya yang bisa dimakan. Beberapa daerah suku Betawi yang kental, masih ada yang tidak memperbolehkan roti buaya dimakan dengan rasanya yang tawar. Semua bergantung kepercayaan dan preferensi individu

Mitos buaya putih ini tercipta karena dahulu buaya putih sering ditemukan pada setu Babakan, Jakarta Selatan. Dahulu banyak orang yang melihat, bahwa di sana terdapat buaya putih. Kini lokasi Setu Babakan telah menjadi tempat Cagar Budaya Suku Betawi. Berbagai kuliner, rumah adat, alat musik tari-tarian, dan lenong Betawi dilestarikan di sana.

mengenal roti buaya serta 4 fakta dan sejarahnya

Semua fakta ini tentunya menjadi kesatuan makna pada roti buaya khas Betawi. Tak dapat dipungkiri bahwa setiap fakta memiliki sejarahnya tersendiri. Demikian informasi mengenai 4 fakta dan sejarah yang menarik dari roti buaya. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *