Mentega vs Margarin, Apa Bedanya?

Mentega dan margarin adalah bahan makanan yang banyak digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Kedua bahan ini sering digunakan untuk membuat kue, roti, olesan roti maupun dijadikan pengganti minyak untuk menggoreng. Akan tetapi banyak orang yang menyangka bahwa mentega dan margarin adalah bahan yang sama. Padahal kedua bahan ini memiliki beragam perbedaan mulai dari warna, tekstur, material dan kandungan zat di dalamnya.

Berikut penjelasan detail mengenai mentega dan margarin serta variasinya yang akan membuat anda paham perbedaan kedua bahan ini.

Mengenal Mentega

Mentega atau butter adalah bahan makanan dari olahan susu hewani, seperti susu sapi, susu domba dan susu kambing. Negara yang menjadi produsen terbesar mentega diantaranya India, Uni Eropa, Amerika Serikat, dan Selandia Baru. Biasanya mentega dari negara ini didominasi dari susu sapi dan susu domba. Dikarenakan mentega yang kaya rasa, khas, dan lembut di mulut membuat mentega menjadi lemak yang selalu disukai dan banyak dijadikan bahan utama untuk beragam hidangan. Selain itu mentega juga diaplikasikan sebagai campuran untuk membuat saus atau olesan roti yang dipanggang.

Mentega sudah diproduksi sejak ribuan lalu sebelum Masehi di Mesopotamia atau yang sekarang dikenal dengan Republik Irak. Namun di Republik Irak saat ini mentega tidak terlalu populer, dibuktikan dengan produsen mentega terbesar di dunia justru dipegang oleh India. India setiap tahunnya memproduksi minimal 1,4 juta ton mentega atau hampir seluruh produksi mentega di India ditujukan untuk kebutuhan domestik. Dengan kata lain India juga merupakan konsumen mentega terbesar di dunia. Sementara itu di Indonesia kebutuhan akan mentega sangat banyak. Namun permintaan atas bahan makanan ini tidak sebanding dengan produksi yang ada. Oleh sebab itu Indonesia lebih banyak mengimpor mentega dibandingkan memproduksi sendiri.

Mentega yang baik dianggap sebagai mentega dengan kandungan lemak sebanyak 81 persen, kadar air 18 persen, dan kadar protein 1 persen. Mentega merupakan sumber vitamin yang larut di dalam lemak yaitu vitamin A, vitamin D, vitamin E, dan vitamin K. Kandungan ini membantu mencegah peradangan, membantu merawat sistem kesehatan saraf, menjaga fungsi otak dan mata, serta baik untuk pertumbuhan tulang. Namun tetap saja mentega tidak boleh dikonsumsi terlalu banyak. Dikarenakan mentega mengandung lemak dan kalori yang tinggi sehingga mungkin akan menumpuk lemak di tubuh.

Jenis-jenis Mentega

Terdapat beragam jenis mentega mulai dari rasanya yang tawar hingga rasa yang lebih gurih. Perbedaan dari jenis mentega ini didasarkan pada jumlah air yang dihilangkan, pemberian garam, maupun suhu panas yang digunakan. Berikut jenis-jenis mentega yang dikenal di seluruh dunia.

Unsalted Butter

Unsalted butter adalah mentega yang dibuat tanpa kandungan garam di dalamnya. Ini adalah jenis mentega tawar yang digunakan untuk memanggang dan menggoreng yang memerlukan kontrol terhadap jumlah garam yang tepat. Beberapa orang berpendapat mentega ini memiliki cita rasa yang lebih segar sehingga akan meningkatkan rasa lezat pada masakan.

Sayangnya unsalted butter cenderung lebih cepat basi dibandingkan jenis mentega yang menggunakan garam. Karakteristik dari mentega ini juga memiliki warna yang kuning pucat dengan rasa krim yang agak manis dan lembut. Ini cocok digunakan membuat cookies, kue, dan puding roti.

Salted Butter

Salted butter atau mentega asin merupakan jenis mentega yang menggunakan tambahan garam dalam proses produksinya. Garam digunakan untuk memperpanjang umur simpan serta meningkatkan rasa dari mentega. Warnanya juga pucat dan rasanya cenderung agak asin. Biasanya mentega ini digunakan untuk menumis sayuran, membuat saus pasta atau saus karamel, minyak goreng telur orak-arik, dan olesan roti bakar.

Sweet Cream Butter

Sweet cream butter merupakan mentega yang dibuat dari susu pasteurisasi. Krim dari susu pasteurisasi memiliki rasa yang manis namun mentega ini tersedia dalam dua variasi yaitu menggunakan garam dan tidak menggunakan garam. Warna mentega ini putih kekuningan seperti warna gading gajah. Jika tanpa garam maka mentega ini biasanya digunakan untuk membuat muffin, crepes, brownies, dan roti jagung. Sementara apabila menggunakan garam maka mentega ini biasa dijadikan olesan biskuit atau saus cocol untuk jagung rebus.

Raw Cream Butter

Raw cream butter biasanya disebut mentega krim segar. Sesuai namanya mentega ini terbuat dari krim susu yang tidak melalui proses pasteurisasi. Oleh sebabnya mentega jenis ini hanya mampu bertahan beberapa hari. Tentu saja ini berbeda dengan sweet cream butter yang dapat bertahan hingga berbulan-bulan.

Biasanya mentega ini hanya dapat ditemukan di daerah sekitar pemerahan sapi dan jarang sekali diperjualbelikan. Hal ini dikarenakan mentega ini tidak dikemas seperti produk pabrikan dan digunakan secara terbatas oleh para produsennya. Rasa mentega ini mirip dengan sweet cream butter namun dengan rasa yang lebih kuat.

European Style Butter

Mentega ini berkembang di masyarakat Uni Eropa yang memiliki kandungan lemak yang lebih tinggi dibandingkan mentega dari benua lain. Mentega dari Eropa ini mengandung hampir 86 persen lemak serta memiliki tingkat kelembapan yang lebih rendah. Oleh sebabnya mentega ini cocok digunakan untuk membuat roti croissant, pastry, biskuit, pie, dan kue sus. Warna mentega ini kuning keemasan dengan rasa yang kuat, asam, dan terasa seperti krim secara keseluruhan.

Cultured Butter

Secara tradisional cultured butter berasal dari krim yang sudah difermentasi. Cara membuatnya dengan memasukkan kultur bakteri yang hidup dan asam laktat untuk mempercepat terbentuknya krim di atas susu. Mentega ini juga memiliki popularitas yang cukup baik di Eropa. Warnanya krem dengan rasa asam laktat yang menonjol. Jenis mentega ini cocok digunakan untuk membuat galette, risotto, sup, dan coffeecake.

Ghee

Ghee adalah jenis mentega yang berasal dari India. Ghee juga dikenal sebagai mentega murni karena dibuat dengan cara memanaskan mentega hingga semua air menguap. Mentega ini juga dikenal sebagai clarified butter dan minyak samin.

Ghee dalam bahasa India artinya lemak. Ini telah lama digunakan pada masakan India beribu-ribu tahun lalu, dengan karakteristik rasa yang agak pedas, beraroma asap seperti aroma panggang. Selain itu juga digunakan pada masakan Timur Tengah dan Asia Tenggar termasuk di Indonesia. Ghee biasanya digunakan untuk membuat martabak, nasi kebuli, sop kambing, dan soto Betawi.

Whipped Butter

Whipped butter atau mentega lunak adalah mentega biasa yang diaduk bersama gas nitrogen. Proses ini membuat whipped butter memiliki volume yang lebih mengembang dan lebih ringan. Ini kurang cocok digunakan sebagai bahan adonan kue atau untuk bahan masakan karena kepadatannya sangat rendah. Whipped butter biasanya terasa sedikit berminyak sehingga lebih cocok digunakan sebagai bahan dekorasi kue, olesan roti, maupun waffle.

Organic Butter

Organic butter adalah jenis mentega yang terbuat dari krim susu yang khusus berasal dari sapi pemakan rumput alami. Sapi yang dimaksud tidak mengonsumsi rumput atau tumbuhan yang mengandung pestisida atau zat kimia pertanian yang lainnya. Sapi ini juga harus dibesarkan tanpa suntikan hormon pertumbuhan sehingga proses pertumbuhannya alami meskipun cenderung membutuhkan waktu yang lama. Karakteristik dari organic butter adalah warnanya kuning pucat dengan tekstur yang halus dan rasa yang agak manis. Ini biasa disukai oleh individu yang sedang melakukan diet.

Goat Butter

Goat butter adalah mentega yang dibuat dari susu kambing. Mentega ini cocok untuk seseorang yang memiliki intoleransi laktosa. Hal ini dikarenakan susu kambing memiliki kandungan laktosa yang paling rendah dibandingkan jenis susu lainnya. Warna dari mentega susu kambing ini adalah krem dengan rasa yang unik dan segar. Oleh sebabnya memasukkan goat butter pada masakan atau kue akan menciptakan sensasi rasa baru. Sama seperti mentega lainnya, goat butter bisa dijadikan olesan roti, menumis sayuran, membuat saus, maupun digunakan sebagai campuran bahan adonan kue kering.

Mengenal Margarin

Margarin umumnya dikenal sebagai bahan makanan yang berasal dari minyak nabati seperti minyak sayur atau minyak kelapa sawit. Keunggulan dari margarin ini adalah lebih rendah kolesterol dan lemak. Selain itu margarin juga memiliki daya emosi yang membuat tekstur bahan adonan maupun kue jadi tidak mudah hancur. Rasanya yang lebih gurih dan berminyak membuat margarin sering dikonsumsi oleh individu yang ingin mengurangi lemak, namun tetap ingin mencoba cita rasa yang mirip dengan mentega.

Di balik popularitas margarin ternyata proses dan sejarah margarin cukup rumit. Pada tahun 1869 seorang ahli kimia Prancis bernama Hippolyte Mege-Mouries membuat margarin dengan mengkombinasikan lemak daging sapi dan susu skim. Kemudian hasil penemuan ini dipasarkan Mege-Mouries dan pengusaha Belanda bernama Jurgens yang saat ini menjadi bagian dari Unilever.

Margarin ini kemudian mengalami proses perubahan di tahun 1871 yang dibuat dengan menggunakan minyak nabati dan campuran lemak hewani. Penemuan ini dipatenkan pertama kali oleh Henry W. Bradley. Bertahun-tahun kemudian konsepsi asli dari margarin diperbaharui lagi pada abad ke-20 dengan penemuan teknik hidrogenasi. Hidrogenasi adalah proses penggunaan gas hidrogen untuk mengubah minyak nabati cair menjadi zat padat yang disebut margarin.

Sejak saat itu margarin menjadi produk industri yang berkembang pesat dengan bahan dasar lemak nabati yang lebih murah dibandingkan lemak hewani. Selanjutnya di tahun 1980-an produsen margarin merubah citra dari yang awalnya dianggap sebagai produk penambah cita rasa sekaligus alternatif mentega, menjadi sebuah produk makanan kesehatan. Ini membuat produk margarin yang awalnya mengandung lemak jenuh menjadi lemak tak jenuh. Oleh sebab itu margarin tidak lagi diproduksi atau sangat jarang menggunakan teknik hidrogenasi karena dapat menghasilkan lemak trans.

Margarin kini dibuat dengan proses kimiawi yang mengandung vitamin dan kandungan nutrisi di dalamnya meskipun pada dasarnya mengkonsumsi margarin dalam jumlah yang berlebihan juga tidak disarankan. Secara umum margarin mengandung vitamin A, B1, B12, B2, D, E, zat niasin serta asam folat. Ini dapat membangun sel-sel dalam tubuh, menjaga kesehatan mata dan tulang sekaligus menyajikan rasa lezat pada hidangan.

Jenis-jenis Margarin

Margarin sering dikonsumsi sebagai olesan roti tawar, bahan pembuat kue, serta pengganti minyak dengan kegunaan yang spesifik didasarkan pada jenis-jenisnya. Terdapat beragam jenis margarin yang ditentukan berdasarkan kegunaan dan teksturnya.

Margarin Batang Tradisional

Jenis margarin ini merupakan margarin yang paling banyak mengandung lemak trans. Lemak ini didapatkan dari proses hidrogenasi parsial yang masih terus digunakan. Teksturnya padat, yang menandakan kandungan lemak trans yang tinggi. Dalam margarin ini setidaknya mengandung 80 persen lemak trans. Margarin batang biasanya digunakan untuk memanggang dan menumis bahan masakan.

Reguler Margarin

Reguler margarin atau margarin biasa berasal dari 61 persen hingga 79 persen minyak sayur. Oleh sebabnya margarin ini mengandung sangat sedikit lemak meskipun beberapa minyak sayur yang digunakan terhidrogenasi parsial. Biasanya pada kemasan margarin ini diberi label “bebas lemak trans”. Selain itu persentase lain dari bahan ini menggunakan buttermilk krim manis, yogurt, dan minyak zaitun. Bahan-bahan tersebut biasanya digunakan dalam jumlah sedikit, yaitu hanya untuk memberikan rasa yang lebih lezat.

Sementara itu margarin saat ini juga terkadang dipadukan dengan kalsium untuk mendukung promosi margarin sebagai bahan pangan yang sehat. Margarin jenis ini bisa digunakan untuk olesan roti dan menumis makanan. Namun reguler margarin tidak disarankan untuk memanggang atau membuat kue panggang karena akan menyebabkan kue kering, tidak mengembang dan tekturnya lebih keras.

Margarin Ringan

Margarin ringan kadang disebut juga sebagai light margarine. Margarin ringan mengandung persentase air yang tinggi daripada margarin reguler. Hal ini membuat margarin ringan lebih rendah kalori dan lemak. Kandungan minyak sayur hingga 40 persen dalam margarin ringan ini dianggap sebagai pilihan margarin yang paling sehat.

Biasanya minyak yang digunakan dalam proses pembuatan margarin adalah minyak zaitun dan minyak kanola. Margarin ini lebih cocok digunakan sebagai olesan pada roti. Sementara apabila digunakan untuk adonan kue atau panggangan akan menjadikan kue kering keras dan sangat padat sehingga kurang disarankan.

Margarin Sterol dan Stanol

Margarin sterol dan stanol merupakan margarin yang terbuat dari tanaman yang mengandung senyawa kimia sterol dan stanol yang dapat ditemukan dalam berbagai jenis tumbuhan. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa kandungan sterol dan stanol dapat ditambahkan dalam margarin untuk memberikan manfaat yang lebih baik bagi tubuh. Senyawa ini paling banyak ditemukan pada buah, sayuran, minyak sayur, kacang-kacangan, biji-bijian, dan serealia. Tanaman yang mengandung stanol dan sterol terbukti dapat menurunkan kolesterol darah.

Margarin dengan kandungan sterol dan stanol akan menurunkan resiko penyakit jantung sekitar 25 persen sekaligus menghambat penyerapan kolesterol dari usus. Namun tetap saja mengonsumsi margarin stanol dan sterol sebaiknya maksimal 2-3 sendok makan per hari. Cukup oleskan margarin ini pada makanan, untuk menikmati manfaat dan rasa margarin yang enak. Salah satu brand dari margarin ini yaitu Benecol yang terkenal sebagai produk margarin yang cocok untuk penderita kolesterol.

Spray Margarin

Spray margarin merupakan jenis margarin yang memiliki kandungan air yang paling tinggi dengan lemak yang sangat sedikit dalam setiap takaran saji. Menurut pandangan American Heart Association merekomendasikan untuk menggunakan margarin yang tidak mengandung lemak trans dan tidak memiliki lebih dari 2 gram jenuh dalam setiap 1 sendok makan. Ini sesuai dengan kualifikasi dari spray margarin yang memiliki lemak trans dan minyak yang terhidrogenasi. Sifatnya yang cair, membuat spray margarin cocok digunakan sebagai topping atau menjadi minyak pengganti untuk tumisan yang dapat memotong kalori.

Mentega vs Margarin: Apa Bedanya?

Mentega dan margarin memiliki berbagai persamaan mulai dari kegunaaan dan tekstur maupun warna jika dilihat secara sekilas. Namun apabila diperhatikan lebih lanjut sebenarnya terdapat beberapa hal mendasar yang menjadi pembeda kedua bahan.

Proses dan Bahan Dasar Pembuatan

Mentega merupakan bahan makanan dan termasuk produk susu yang dibuat dengan mengaduk krim yang didapat dari susu hewani. Krim susu adalah lapisan paling atas dari susu yang telah didiamkan beberapa hari. Ini kemudian menjadi bahan dasar mentega yang diaduk sampai berbentuk padat. Mentega biasanya digunakan sebagai olesan roti tawar, dan terkadang dijadikan bahan untuk menggoreng. Hal ini dikarenakan mentega memadat saat didinginkan, namun akan meleleh secara konsisten pada suhu ruangan atau suhu panas.

Sedangkan margarin merupakan mentega buatan dari minyak nabati. margarin terkadang juga dicampurkan dengan susu saringan, garam, dan pengemulsi minyak. Berbeda dengan mentega yang termasuk ke dalam produk susu, margarin merupakan produk turunan dari minyak kelapa sawit. Minyak kelapa sawit pertama-tama dibuat menjadi cairan terlebih dahulu melalui proses penyuntikan hidrogen. Pemecahaan struktur dengan menggunakan zat hidrogen pada minyak kelapa sawit membuat margarin dapat membuang banyak kandungan lemak trans.

Kandungan Zat

Mentega mengandung kalori dan lemak yang tinggi. Dalam satu sendok makan mentega mengandung 100 kalori, 12 gram lemak, 7 gram lemak jenuh, 0,5 lemak trans, dan 31 mg kolesterol. Dikarenakan mentega terbuat dari susu sapi maka kandungan lemak yang dihasilkan memang cukup tinggi. Ini adalah jenis lemak hewani yang terkadang dilabeli sebagai bahan makanan yang kurang sehat terutama apabila dikonsumsi terlalu banyak.

Sementara margarin mengandung lebih sedikit lemak sekaligus rendah kalori dibandingkan dengan mentega. Oleh sebabnya banyak orang yang memilih margarin sebagai pengganti mentega yang lebih sehat. Selain itu margarin juga mengandung lemak nabati sehingga dinilai lebih cocok sebagai pengemulsi terhadap bahan-bahan lain.

Meskipun lemak nabati yang cukup baik untuk kesehatan namun mengonsumsi produk margarin perlu dibatasi, karena terkadang produsen mencampurkan margarin dengan susu sehingga dapat mengandung lemak trans juga. Meski demikian orang vegetarian mungkin akan tetap menghindari mentega dan memilih margarin yang berasal dari lemak nabati.

Selanjutnya, kandungan lain dari mentega juga mengandung air yang lebih banyak namun tetap lebih padat dibandingkan margarin. Hal ini menjadi penyebab utama mentega dapat meleleh dengan mudah. Kandungan air di dalam mentega mencapai 20 persen. Sementara disisi lain margarin mengandung lebih sedikit air dan tidak mudah meleleh. Kandungan air di dalam margarin berkisar 16 persen. Biasanya mentega akan mencair jika diletakkan pada suhu di bawah 35 derajat celcius. Sedangkan margarin memiliki titik leleh mencapai 42 derajat celcius sehingga tidak mencair dengan cepat.

Tekstur dan Warna

Dikarenakan mentega terbuat dari susu maka cenderung lebih creamy dan mudah mencair. Selain itu susu juga membuat tekstur mentega menjadi lebih berlemak. Sebaliknya margarin memiliki tekstur yang lebih lunak dengan permukaan yang lebih halus. Namun margarin dianggap lebih multifungsi dibandingkan dengan mentega. Cara yang paling mudah untuk membedakan fisik antara kedua bahan ini dapat diamati dari warnanya. Mentega memiliki warna yang lebih pucat atau kuning muda, sedangkan margarin berwarna kuning terang, dikarenakan margarin mengandung minyak kelapa sawit.

Aroma

Bahan dasar dan cara pembuatan mentega dan margarin yang berbeda, membuat kedua bahan ini pun mengeluarkan aroma yang berbeda. Mentega akan mengeluarkan aroma susu yang dipanggang dan mirip dengan aroma kue. Sementara margarin memang menimbulkan aroma mirip susu juga namun tidak terlalu kuat. Oleh sebabnya dapat dikatakan aroma khas mentega lebih banyak disukai dan lebih pas jika digunakan untuk membuat kue.

Penggunaan

Tekstur mentega yang lebih padat menjadikan bahan ini cocok sebagai adonan pembuatan kue. Dalam hal aroma dan cita rasa mentega memang lebih unggul dikarenakan wanginya yang lebih kuat dan rasanya yang lebih gurih dibandingkan margarin. Hal tersebut membuat kue-kue yang dihasilkan dari campuran mentega terasa lebih premium dan empuk. Akan tetapi sebagian orang juga merasa kue yang terbuat dari campuran mentega akan terasa terlalu berlemak dan membuat “eneg”.

Sementara itu margarin mungkin bisa digunakan untuk membuat kue namun dengan aroma yang tidak terlalu kuat, rasa yang lebih ringan, serta lebih lembut bahkan saat kue sudah dingin. Akan tetapi untuk jenis cookies atau kue kering mentega menjadi pilihan terbaik karena lebih mampu menyajikan kue yang renyah dan gurih. Rasa ini berasal dari susu yang lebih gurih dibandingkan minyak kelapa sawit pada margarin. Namun terkadang mencampurkan kedua bahan ini adalah pilihan terbaik, karena akan menghasilkan kue yang lebih kokoh dengan sedikit remahan serta rasa yang lebih enak.

Untuk perbandingan penggunaan mentega dan margarin dalam satu adonan, ditentukan dengan memperhitungkan jenis kue apa yang akan dibuat dan tekstur seperti apa yang diharapkan. Lebih lanjut, margarin juga lebih banyak digunakan sebagai bahan untuk menggoreng karena memiliki fungsi yang sama dengan minyak nabati atau minyak sayur, sekaligus juga dapat menjadi olesan roti yang lebih sehat.

Tempat Produksi

Seperti yang diketahui mentega diolah melalui proses pasteurisasi susu yang sederhana. Membuat mentega hanya memerlukan bahan utama yaitu krim susu yang telah dipisah dari susu utamanya. Oleh sebabnya mentega bisa dibuat di rumah sendiri atau menjadi produk industri rumahan. Sementara itu margarin memiliki proses yang sangat panjang. Mulai dari pemisahan asam lemak, proses pemurnian, menghilangkan zat-zat warna, tahap hidrogenasi hingga tahap emulsifikasi. Dengan demikian margarin harus dibuat di pabrik dan sulit dilakukan tanpa menggunakan alat dan teknologi tertentu.

Mana yang Lebih Baik: Mentega atau Margarin?

Setelah mengetahui penjelasan lengkap mengenai mentega dan margarin sekaligus perbedaannya, maka mungkin saja anda perlu mempertimbangkan mana yang lebih baik. Namun faktanya memilih antara produk mentega atau margarin sebenarnya bukan perkara yang mudah. Hal ini dikarenakan setiap merek memiliki kandungan serta tambahan bahan yang berbeda-beda. Selain itu proses pengolahan atau produksi yang dilakukan juga akan mempengaruhi kandungan zat di dalam mentega dan margarin.

Dikarenakan mentega berasal dari susu, maka cenderung mengandung kolesterol dan lemak hewani yang tinggi. 80 persen lemak hewani dari mentega berupa lemak jenuh dan lemak trans yang akan meningkatkan kadar kolesterol dan memperbesar peluang terkena penyakit jantung. Sementara margarin terbuat dari minyak nabati sehingga mengandung lemak tak jenuh yang baik untuk menurunkan kolesterol jahat, mengurangi resiko terkena penyakit jantung, diabetes, asma maupun sakit ginjal. Akan tetapi hal ini tidak berarti bahwa margarin pasti lebih sehat dibandingkan mentega.

Beberapa produk margarin juga mengandung lemak trans yang didapat dari proses hidrogenasi yang berdampak buruk pada kesehatan. Oleh sebab itu untuk menentukan mentega atau margarin, maka harus disesuaikan dengan kandungan gizi atau bahan utama yang tertera pada label kemasan. Selain itu khusus untuk mentega sebaiknya memilih mentega yang bertuliskan “whipped” karena menunjukkan bahwa mentega tersebut memiliki tekstur yang lebih ringan dan lemak yang lebih sedikit. Akan tetapi mentega jenis “whipped” kurang cocok digunakan untuk membuat kue. Disisi lain jika membeli margarin maka sebaiknya memilih produk yang bertuliskan “bebas lemak trans” yang menunjukkan kadar lemaknya yang sangat sedikit.

Pada akhirnya menentukan mana yang lebih baik antara mentega atau margarin harus disesuaikan dengan kebutuhan. Beberapa orang mungkin membutuhkan mentega untuk membuat adonan kue karena teksturnya lebih cocok dibandingkan margarin, namun sebagian orang juga mengonsumsi margarin untuk olesan roti atau pengganti minyak. Tak hanya itu penyesuaian untuk memilih antara mentega dan margarin harus memperhatikan riwayat penyakit jantung, kolesterol, maupun orang yang sensitif terhadap kandungan lemak. Dengan demikian baik mentega maupun margarin dapat menjadi bahan pangan untuk hidangan tertentu, namun jarang direkomendasikan sebagai bahan pangan harian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *