Ini Dia Aturan Dan Cara Bayar Fidyah Puasa

Puasa adalah salah satu rukun Islam yang artinya wajib dilakukan bagi setiap umat muslim. Berpuasa dalam bulan Ramadhan tercantum dengan jelas dalam Al-Quran surah Al-Baqarah. Akan tetapi pada surah yang sama menjelaskan bahwa Allah memberikan keringanan dan membolehkan golongan tertentu untuk tidak berpuasa dikarenakann alasan-alasan tertentu.

Bagi orang yang boleh tidak berpuasa dapat menggantinya di hari lain atau mengqadha sesuai syariat Islam. Sementara bagi orang yang tidak bisa mengganti puasanya di lain waktu, maka wajib hukumnya untuk membayar fidyah. Fidyah dikeluarkan sesuai dengan jumlah puasa yang ditinggalkan.

Ketentuan mengenai fidyah juga tercantum dalam firman Allah SWT melalui Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 184.

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

Artinya:

“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidiah, (yaitu) memberi makan seorang miskin.”

Apa Itu Fidyah?

Fidyah secara harfiah diartikan sebagai tebusan. Ini didapat dari kata “fada”. Sementara menurut syariat Islam, fidyah adalah denda yang wajib dibayarkan karena meninggalkan kewajiban atau melakukan larangan dalam ajaran Islam.

Fidyah terbagi menjadi tiga jenis sesuai dengan pemaparan Syekh Ahmad Bin Muhammad Abu Al-Hasan Al-Mahamili. Fidyah pertama harus dibayarkan senilai 1 mud. Kedua, fidyah senilai 2 mud, dan ketiga fidyah dengan menyembelih dam atau hewan.

Menurut Imam Malik, Imam Syafii, fidyah 1 mud setara dengan 6 ons (675 gram) atau seukuran telapak tangan biji gandum. Sementara 2 mud setara dengan ½ sha’ gandum. Jika 1 sha’ setara 4 mud (3 kg) maka ½ sha’ artinya 1,5 kg. Baik itu gandum maupun makanan pokok lain.

Dalam hal ini masing-masing fidyah ditebus sesuai dengan jenis amalan yang tidak dikerjakan. Fidyah yang berkaitan dengan ibadah puasa Ramadhan, maka merujuk pada keterangan Al-Mahamili yakni masuk kategori pertama atau fidyah 1 mud.

Orang Yang Wajib Membayar Fidyah

Terdapat beberapa golongan orang yang sifatnya wajib untuk membayar fidyah sebagai berikut.

Orang Tua Renta

Orang tua renta yakni kakek atau nenek yang sudah tua dan lemah sehingga tidak mampu lagi untuk menjalankan ibadah puasa. Maka mereka tidak terkena tuntutan atau kewajiban untuk berpuasa Ramadhan.

“Imam al-Ramli ditanya, apakah orang tua renta yang lemah berpuasa dan mengeluarkan fidyah wajib niat atau tidak?”

  (فأجاب) بأنه تلزمه النية لأن الفدية عبادة مالية كالزكاة والكفارة فينوي بها الفدية لفطره

“Imam al-Ramli menjawab bahwa ia wajib niat fidyah, sebab fidyah adalah ibadah harta seperti zakat dan kafarat, maka niatkanlah mengeluarkan fidyah karena tidak berpuasa Ramadhan” (Syekh Muhammad al-Ramli, Fatawa al-Ramli, juz 2, hal. 74).

Kewajiban ini digantikan dengan membayar fidyah 1 mud makanan untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan. Orang tua renta yang tidak mampu berpuasa apabila dipaksakan untuk menjalankan ibadah puasa pasti akan menimbulkan kesulitan, sehingga tidak terkena tuntutan untuk mengqada puasa yang ditinggalkan.

Orang Sakit Parah

Orang yang sakit parah atau tidak memiliki harapan untuk sembuh, maka tidak sanggup untuk menjalankan ibadah puasa. Golongan orang ini tidak terkena tuntutan untuk menjalankan kewajiban puasa maupun mengqada puasanya.

Sebagai gantinya, ia diwajibkan membayar fidyah. Akan tetapi, orang yang sakit namun masih mungkin untuk disembuhkan, maka ia tidak terkena kewajiban membayar fidyah. Sebaliknya, ia diperbolehkan tidak berpuasa, namun wajib hukumnya untuk mengganti puasanya di kemudian hari.

Wanita Hamil Atau Menyusui

Ibu hamil atau yang tengah menyusui memang diperbolehkan untuk meninggalkan puasa. Hal ini dikarenakan mungkin berpuasa dapat mengganggu kesehatan dan keselamatan anak dan janin. Apabila ia khawatir akan keselamatan dirinya atau beserta anak atau janinnya, maka tidak ada kewajban untuk membayar fidyah. Akan tetapi apabila ibu mengkhawatirkan keselamatan anak atau janinnya saja, maka ia wajib membayar fidyah.

Orang Mati

Dalam Fiqih Syafi’i, orang mati meninggalkan utang puasa yang dikelompokkan menjadi dua jenis. Pertama, orang yang tidak wajib difidyahi yaitu orang yang meninggalkan puasa karena uzur dan ia tidak memiliki kesempatan untuk mengqada puasanya. Misalnya seseorang memiliki sakit parah hingga meninggal dunia. Maka tidak ada kewajiban apapun bagi para ahli waris untuk menggantikan puasa atau membayar fidyah dari puasa yang ditinggalkan mayit tersebut.

Kedua, orang yang wajib difidyahi yaitu orang yang meninggalkan puasa tanpa uzur atau karena uzur, namun sebenarnya masih memiliki waktu untuk mengqada puasanya. Menurut Qaul Jadid (pendapat Imam Syafii), wajib bagi para ahli waris atau wali untuk mengeluarkan fidyah bagi mayit tersebut yakni sebesar 1 mud makanan pokok untuk setiap hari dari puasa yang ditinggalkan. Biaya pembayaran fidyah diambil dari harta peninggalan mayit.

Menurut pandangan ini, puasa tidak boleh dilakukan untuk menggantikan tanggungan mayit. Sementara menurut Qaul Qadim (pendapat lama Imam Syafii), ahli waris atau wali boleh memilih untuk memenuhi tanggungan mayit dengan membayar fidyah atau berpuasa untuk mayit.

Dalam hal ini, Qaul Qadim lebih unggul dibandingkan Qaul Jadid dan sering difatwakan oleh para ulama. Ketentuan di atas hanya berlaku apabila harta peningalan mayit mencukupi untuk membayar fidyah puasa mayit.

Akan tetapi, apabila mayit tidak meninggalkan harta sama sekali atau hartanya tidak cukup, maka tidak ada kewajiban apapun bagi ahli waris atau wali untuk berpuasa maupun membayar fidyah. Namun, apabila ahli waris tetap ingin membayar tanggungan mayit menggunakan dana pribadi, maka hukumnya sunnah.

Orang Yang Menunda Qadha Ramadhan

Orang yang menunda-nunda qadha puasa Ramadhan, sementara di saat bersamaan ia memiliki kesempatan untuk mengqada, maka ketika Ramadhan berikutnya tiba, ia berdosa dan wajib membayar fidyah. Fidyah harus dibayarkan 1 mud makanan pokok untuk setiap 1 hari puasa yang ditinggalkan.

Fidyah hukumnya wajib karena sebagai ganjaran atau keterlambatan mengqada puasa Ramadhan. Sementara bila orang yang tidak mungkin mengqada puasanya karena sakit atau sedang melakukan perjalanan panjang hingga memasuki Ramadhan berikutnya, maka ia cukup mengqada puasa dan tidak wajib membayar fidyah.

Syekh Jalaluddin al-Mahalli menjelaskan:

(ومن أخر قضاء رمضان مع إمكانه) بأن كان مقيما صحيحا. (حتى دخل رمضان آخر لزمه مع القضاء لكل يوم مد) وأثم كما ذكره في شرح المهذب وذكر فيه أنه يلزم المد بمجرد دخول رمضان، أما من لم يمكنه القضاء، بأن استمر مسافرا أو مريضا حتى دخل رمضان فلا شيء عليه بالتأخير، لأن تأخير الأداء بهذا العذر جائز فتأخير القضاء أولى بالجواز.

“Orang yang mengakhirkan qadha Ramadhan padahal imkan (ada kesempatan), sekira ia mukim dan sehat, hingga masuk Ramadhan yang lain, maka selain qadha ia wajib membayar satu mud makanan setiap hari puasa yang ditinggalkan, dan orang tersebut berdosa seperti yang disebutkan al-Imam al-Nawawi dalam Syarh al-Muhadzab. Di dalam kitab tersebut, beliau juga menyebut bahwa satu mud makanan diwajibkan dengan masuknya bulan Ramadhan. Adapun orang yang tidak imkan mengqadha, semisal ia senantiasa bepergian atau sakit hingga masuk Ramadhan berikutnya, maka tidak ada kewajiban fidyah baginya dengan keterlambatan mengqadha. Sebab mengakhirkan puasa ada’ disebabkan uzur baginya adalah boleh, maka mengakhirkan qadha tentu lebih boleh”.

Menurut pendapat Al-Ashah, fidyah bagi orang yang menunda untuk mengqada puasanya jika tidak dilakukan segera maka akan berlipat ganda. Kewajiban untuk membayar fidyah akan mneingkat setiap tahun. Misalnya orang yang tidak mengqada puasanya sehari di tahun 2018 hingga memasuki Ramadhan tahun 2020, maka ia wajib membayar fidyah menjadi 2 mud untuk sehari puasa.

Alokasi Fidyah

Fidyah harus diberikan kepada fakir atau miskin. Fidyah tidak boleh diberikan kepada golongan mustahiq zakat yang lain, apalagi kepada orang kaya. Alokasi fidyah berbeda dengan zakat. Dalam nas Al-Quran perihal fidyah hanya menyebutkan miskin dalam kalimat fa fidyatun tha’amu miskin, tepatnya pada surah Al-Baqarah ayat 184. Sementara fakir dianalogikan sebagai golongan yeng lebih utama atau qiyas yang lebih utama karena kondisi fakir lebih parah dibandingkan miskin.

Pada dasarnya 1 mud untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan merupakan ibadah yang independen. Oleh sebab itu, seseorang diperbolehkan untuk memberikan beberapa mud sesuai dengan puasa yang ditinggalkan kepada 1 orang fakir atau miskin. Misalnya fidyah puasa seseorang 10 hari, maka ia bisa memberikan 10 mud seluruhnya kepada 1 orang miskin.

Akan tetapi, 1 mud untuk mengganti puasa sehari tidak diperbolehkan untuk diberikan kepada lebih dari 1 orang. Artinya jika fidyah puasa wanita menyusui adalah 1 hari maka ia tidak boleh memberikan 1 mud fidyah kepada dua orang fakir. Hal ini dikarenakan masing-masing fakir artinya hanya mendapatkan ½ mud dari ketentuan.

Syekh Khathib al-Syarbini menjelaskan:

(وله صرف أمداد) من الفدية (إلى شخص واحد) لأن كل يوم عبادة مستقلة، فالأمداد بمنزلة الكفارات، بخلاف المد الواحد فإنه لا يجوز صرفه إلى شخصين؛ لأن كل مد فدية تامة، وقد أوجب الله تعالى صرف الفدية إلى الواحد فلا ينقص عنها

“Boleh mengalokasikan beberapa mud dari fidyah kepada satu orang, sebab masing-masing hari adalah ibadah yang menyendiri, maka beberapa mud diposisikan seperti beberapa kafarat, berbeda dengan satu mud (untuk sehari), maka tidak boleh diberikan kepada dua orang, sebab setiap mud adalah fidyah yang sempurna. Allah telah mewajibkan alokasi fidyah kepada satu orang, sehingga tidak boleh kurang dari jumlah tersebut”. (Syekh Khothib al-Syarbini, Mughni al-Muhtaj, juz 2, hal. 176).

Cara Membayar Fidyah

Niat

Fidyah adalah ibadah yang berhubungan erat dengan harta, maka untuk membayar fidyah harus diniatkan seperti zakat dan kafarat. Masing-masing penyebab seseorang membayar fidyah memiliki niat yang berbeda.

Berikut contoh tata cara niat dalam penunaian fidyah:

  • Contoh niat fidyah puasa bagi orang sakit keras dan orang tua renta:

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ هَذِهِ الْفِدْيَةَ لإِفْطَارِ صَوْمِ رَمَضَانَ فَرْضًا لِلهِ تَعَالَى

“Aku niat mengeluarkan fidyah ini karena berbuka puasa di bulan Ramadhan, fardlu karena Allah.”

  • Contoh niat fidyah bagi wanita hamil atau menyusui:

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ هَذِهِ الْفِدْيَةَ عَنْ إِفْطَارِ صَوْمِ رَمَضَانَ لِلْخَوْفِ عَلَى وَلَدِيْ على فَرْضًا لِلهِ تَعَالَى

  “Aku niat mengeluarkan fidyah ini dari tanggungan berbuka puasa Ramadhan karena khawatir keselamatan anaku, fardlu karena Allah.”

  • Contoh niat fidyah puasa orang mati (dilakukan oleh wali/ahli waris):

  نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ هَذِهِ الْفِدْيَةَ عَنْ صَوْمِ رَمَضَانِ فُلَانِ بْنِ فُلَانٍ فَرْضًا لِلهِ تَعَالَى

“Aku niat mengeluarkan fidyah ini dari tanggungan puasa Ramadhan untuk Fulan bin Fulan (disebutkan nama mayitnya), fardlu karena Allah”.

  • Contoh niat fidyah karena terlambat mengqadha puasa Ramadhan

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ هَذِهِ الْفِدْيَةَ عَنْ تَأْخِيْرِ قَضَاءِ صَوْمِ رَمَضَانَ فَرْضًا لِلهِ تَعَالَى

“Aku niat mengeluarkan fidyah ini dari tanggungan keterlambatan mengqadha puasa Ramadhan, fardlu karena Allah”.   Niat fidyah boleh dilakukan saat menyerahkan kepada fakir/miskin, saat memberikan kepada wakil atau setelah memisahkan beras yang hendak ditunaikan sebagai fidyah. Hal ini sebagaimana ketentuan dalam bab zakat.

Pembayaran Fidyah

Fidyah bisa dibayarkan berupa makanan pokok yang disesuaikan dengan jumlah hari puasa yang ditinggalkan. Makanan pokok disesuaikan dengan masing-masing wilayah misalnya di Indonesia adalah beras.

Menurut kalangan Hanafiyah, fidyah boleh dibayarkan berupa uang tunai sesuai dengan konversi makanan pokok dengan harga yang berlaku. Akan tetapi, menurut mayoritas ulama Mazhab, Malikia, Syafi’iyah, dan Hanabilah harta yang dikeluarkan untuk fidyah harus berupa makanan pokok bukan memberikan jenis lain seperti uang, daging, dan sejenisnya.

Ulama Hanafiyah cenderung lebih terbuka memahami konsep fidyah karena hal yang paling penting adalah memenuhi kebutuhan fakir dan miskin, artinya dengan membayar qimah berupa uang maka dapat sebanding dengan makanan.

Sementara konsep jenis makanan pokok yang dapat dinominalkan sesuai mazhab Hanafiyah, hanya terbatas pada makanan yang tercantum dalam hadist secara eksplisit yaitu kurma, al-burr (gandum) atau tepung, anggur, dan al-sya’ir (jerawut). Dengan demikian, Hanafiyah tidak menggunakan standar makanan pokok dari masing-masing wilayah.

Sementara untuk takarannya, Hanafiyah menjelaskan bahwa 1 sha’ untuk jenis kurma, jerawut, dan anggur. Sementara ½ sha’ untuk gandum untuk gandum atau tepung gandum untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan.

Dengan demikian, cara menunaikan fidyah dengan nominal uang menggunakan mazhab ini adalah nominal uang harus sebanding dengan harga kurma, anggur, atau jerawut seberat 1 sha’ untuk 1 hari puasa yang ditinggalkan. Ini sekitar 3,25 kg sampai 3,8 kg. Sementara untuk nominal gandum maka per hari puasa dibayarkan seharga 1,625 kg hingga 1,9 kg untuk gandum atau tepung ½ sha’.

Waktu Mengeluarkan Fidyah

Fidyah puasa untuk orang mati diperbolehkan dilakukan kapan saja, tidak ada ketentuan waktu khusus dalam ajaran Islam Sedangkan untuk fidyah puasa yang disebabkan orang sakit keras, tua renta dan ibu hamil/menyusui diperbolehkan dibayarkan setelah subuh untuk setiap hari puasa. Tak hanya itu, fidyah juga boleh dibayar setelah terbenamnya matahari di malam harinya, bahkan lebih utama di permulaan malam. Lebih sederhana lagi, fidyah bahkan boleh diakhirkan di hari berikutnya atau bahkan di luar bulan Ramadhan.

Akan tetapi pendapat lain menyebutkan bahwa fidyah tidak boleh dikeluarkan sebelum Ramadhan, juga tidak sah sebelum memasuki waktu maghrib untuk setiap hari puasa. Sementara waktu pelaksanaan fidyah minimal sudah memasuki malam hari yang ditandai dengan terbenamnya matahari untuk setiap hari puasa.

Promo Diskon Cairo Food

Dengan demikian, cara membayar fidyah puasa cenderung mudah dilakukan bagi siapapun yang tidak mampu mengqadha puasa atau termasuk golongan yang diwajibkan. Sejauh ini, cara membayar fidyah yang paling dianjurkan adalah menggunakan makanan pokok. Meskipun seseorang diperbolehkan untuk membayar fidyah dan boleh tidak berpuasa, namun bukan berarti semua orang boleh berbondong-bondong untuk tidak berpuasa, dengan alasan karena merasa lebih mampu untuk membayar fidyah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *