Apa Itu Pani Puri? Serta Beragam Variasinya

Pani puri atau panipuri merupakan jajanan kaki lima yang sudah dikenal luas oleh masyarakat India. Cemilan ini merupakan salah satu jenis makanan ringan yang paling favorit di negara tersebut dengan rasa yang ditawarkan sangat beragam, mulai dari asam, manis, pedas, dan asin. Pani Puri juga memiliki tekstur lembut, cair, sekaligus krispi.

Mengenal Pani Puri

Pani puri sebagai jajanan jalanan sangat populer di India, Bangladesh, Pakistan, dan Nepal. Di India Utara, pani puri juga dikenal sebagai golgappa. Kata “gol” mengacu pada kulitnya yang renyah, dan “gappa” merujuk pada proses makan yakni dimakan satu per satu secara utuh. Pani puri juga disebut dengan nama Phuchka, Gup Chup, dan Pani ke Patake. Pani puri diyakini berasal dari Uttar Pradesh yang secara bertahap popularitasnya tersebar di seluruh kota di India hingga ke luar negeri.

Saat ini pani puri sudah menjadi makanan pokok di sebagian besar pameran, festival, hingga acara pernikahan India. Bagi sebagian besar masyarakat India meyakini bahwa memakan pani puri adalah sebuah seni. Setelah bola-bola renyah dicelupkan ke dalam saus pedas asam, orang harus memakannya dengan cepat dan langsung, sehingga tidak sempat hancur atau meleleh dari rongga yang terdapat pada cemilan ini. Jika tidak memakan pani puri secara cepat maka kuah pedasnya akan mengenai tangan dan pastinya akan mengotori pakaian anda.

Rasa segar dari satu buah pani puri merupakan hasil pencampuran dari berbagai bahan makanan. Secara tradisional pani puri berukuran kecil yang terdiri atas puri berongga yang digoreng hingga garing. Cemilan berbentuk bola berongga krispi ini kemudian dipecah di tengahnya, lalu diisi dengan kentang rebus cincang, gandum, lalu dicelupkan ke dalam kuah cair pedas yang biasanya berwarna hijau. Kuah ini terbuat dari daun ketumbar, daun mint, cabai hijau, garam, jahe, asam, dan kurma. Pani puri dianggap sebagai makanan yang menyegarkan sehingga cocok dikonsumsi di musim panas. Akan tetapi sebenarnya pani pura bisa disantap sepanjang musim setiap harinya, karena rasanya yang tidak membuat bosan.

Bagi sebagian masyarakat dunia, pani puri sering dianggap sebagai jajanan yang tidak sehat karena higienitasnya yang masih diragukan. Kuah pani puri atau chutney yang digunakan untuk mengisi pani puri bisa mengandung kontaminasi bakteri jika menggunakan air yang tidak bersih, peralatan yang tidak higienis atau disajikan dengan tangan secara langsung. Apabila anda hendak berwisata ke India dan ingin menikmati pani puri, sebaiknya memilih rumah makan atau restoran yang bersih ketika membeli pani puri dibandingkan harus membeli di pinggir jalan.

Kisah Dibalik Pani Puri

Kisah pani puri bisa ditelusuri asal-muasalnya dengan dua versi cerita. Yang pertama bersifat mitologis dan yang kedua bersifat historis. Cerita mitologis dimulai dari kisah Mahabharata. Ketika Drupadi, istri pertama pandawa datang ke rumah suaminya, ia diberi tugas oleh ibu mertuanya Kunti. Saat itu, Pandawa Lima yaitu Yudisthira, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa berada di pengasingan sehingga harus mengelola makanan dari sumber daya seadanya.

Kunti ingin menguji apakah menantu perempuannya yang baru, mampu membuat makanan dari bahan sisa untuk kelimanya. Saat itu Kunti memberi Drupadi beberapa sayuran sisa dan adonan gandum secukupnya dengan instruksi harus membuat makanan yang akan memuaskan rasa lapar semua putranya. Bermodalkan kentang hancur dan adonan tepung serta kuah pedas, akhirnya Drupadi menemukan variasi awal dari pani puri.

Di sisi lain, secara historis pani puri diawali dengan jenis makanan lain. Chaat dianggap sebagai makanan yang menjadi awal kemunculan pani puri. Chaat berasal dari India Utara atau sekarang dikenal dengan Uttar Pradesh. Sejarawan terkemuka bernama Pushpesh Pant berpandangan bahwa pani puri ditemukan sekitar 125 tahun yang lalu, yang mungkin dibuat dari Raj-kachori.

Raj-kachori adalah makanan khas India yang memiliki bentuk dasar dan konsep yang sama dengan pani puri, namun dengan isian yang berbeda. Setelah masyarakat banyak mengenal rasa raj-khacori kemudian dibuat versi yang lebih kecil hingga menciptakan pani puri. Pani puri kemudian menyebar ke seluruh India, terutama karena adanya migrasi dari banyak negara bagian di abad ke-20.

Variasi Pani Puri

Seiring dengan perkembangan zaman, pani puri juga mengalami berbagai perkembangan dan variasi. Beragam resep pani puri mulai dimodifikasi untuk membuat makanan yang satu ini menjadi lebih lezat. Di wiliayah India Tengah maupun India Selatan, pani puri memiliki variasi resep yang banyak digunakan. Artinya kawasan ini membuat pani puri dari jenis yang paling umum yakni menggunakan isian kentang, bawang bombay cincang dengan kuah asam pedas.

Sementara di daerah lainnya, juga mengembangkan aneka variasi lain dari pani puri yang menjadi ciri khas cemilan di wilayah tersebut. Oleh sebab itu, tak heran jika pani puri memiliki hampir selusin nama lain atau penyebutan yang berbeda-beda. Terlepas dari hal tersebut, dapat dikatakan bahwa ciri khas pokok yang harus ada dari sebuah pani puri yaitu isian pedasnya terbuat dari kentang, buncis, saus asam, saus manis, saus asin, dan menggunakan aroma daun mint.

Di sebagian besar wilayah Maharashtra bahan kari kacang putih atau ragda juga ditambahkan ke dalam isian pani puri setelah sebelumnya ditumbuk dengan kentang. Sementara itu di Gujarat pani puri diisi dengan rebusan kacang atau moong. Selanjutnya di Karnataka pani puri biasa ditambahkan bawang bombay cincang untuk menambah aroma makanan ini.

Pani puri mungkin dikenal sebagai makanan bagi penggemar cemilan jalanan, namun sebenarnya disukai oleh semua kalangan. Beberapa orang mungkin lebih suka pani puri tanpa saus atau sebagian juga mungkin memilih untuk tidak mencelupkan dalam saus asam pedas. Karena popularitasnya ini, hampir setiap pasar utama di India dan negara tetangganya pasti memiliki penjual pani puri di setiap sudut pasar. Masyarakat di sana bisa memakan pani puri selusin sekaligus dan bahkan masih bisa memakan lebih banyak lagi.

Bataasha

Bataasha adalah salah satu jenis pani puri yang terkenal di Uttar Pradesh dan beberapa bagian di wilayah Madhaya Pradesh. Bataasha juga disebut Pani ke Bataashe yakni pani puri dengan sedikit kacang polong rebus di dalamnya. Bataasha dicelupkan ke dalam kuah pedas yang dihasilkan dari campuran daun mint, perasan asam, asafoetida, lada hitam, bubuk cabai merah, dan garam. Di Hazratganj, Lucknow, bataasha biasa disajikan dengan lima jenis pani atau kuah pedas yang berbeda rasa satu sama lain.

Phuchka

Phuchka adalah jenis pani puri yang terkenal di Benggala Barat dan Assam. Di Benggala khususnya di Kolkata, cemilan phuchka dianggap sebagai raja dari berbagai jajanan favorit di sana. Isinya dibuat dengan menumbuk sedikit kentang rebus dan garam hitam, lalu ditambahkan lagi rasa asin dengan garam biasa. Selanjutnya isian ini juga meliputi rempah-rempah, cabai serta daging asam yang dibuat dengan menumbuk asam matang di dalam air asam.

Air asam dinamakan Tetul Jol, yang dibuat dengan mencampur asam jawa dengan rempah-rempah untuk menghasilkan cairan cair dan asam. Di beberapa outlet penjualan phuchka, beberapa pedagang juga biasa menggunakan dadih asam yang disebut Dahi Phuchka. Untuk memakannya cukup pecahkan phuchka dengan ibu jari dan segera melahapnya.

Gup Chup

Gup chup adalah salah satu jenis pani puri yang terkenal di Odisha. Pani puri ini diisi dengan kentang tumbuk, kacang polong kuning rebus, dan bawang bombay cincang. Semua bahan dimasukkan ke dalam gup chup yang menjadi jajanan lezat dari Odisha. Untuk kuah celupnya Odisha menggunakan cabai hijau cincang, air asam, dan air rasa jal jeera, serta bumbu rempah-rempah yang kuat. Ketika memakan gup chup masyarakat di sana meyakini cemilan ini akan memuaskan lidah dengan sensasi terbaik dibandingkan jenis pani puri lain.

Pani Puri

Sebutan pani puri sebenarnya lebih terkenal di wilayah Maharashtra dan Andhra Pradesh. Pani puri di Maharashtra memiliki karakteristik yang lebih pedas dan mengandung boondi atau kecambah yang disertai dengan bahan-bahan lainnya. Pani puri juga dimakan dengan dadih dan berbagai masala seperti bawang, sev, dan campuran cemilan goreng (bhujia). Ini bisa dipadukan bersama dengan kacang musiman yang tersedia.

Sementara di Andhra Pradesh, pani puri juga dijajakan oleh penjual di kaki lima dengan isian buncis rebus yang didampingi dengan kuah pani pedas. Terkadang buncis rebus juga dihangatkan lagi dengan tambahan sedikit bumbu yang diisi ke dalam puri atau bola-bola renyah. Isian yang berbeda ini membuat pani puri ala Andhra Pradesh lebih ringan jika dibandingkan dengan pani puri yang berisikan kentang.

Pakodi

Pakodi adalah jenis pani puri yang menyebar di daerah Gujarat. Variasi ini juga menggunakan cabai hijau dan pasta cabai, namun uniknya cemilan ini lebih manis dibandingkan pani puri dari kota lain. Sementara untuk isiannya, sebenarnya masih sama dengan pani puri Andhra Pradesh yaitu buncis, bawang, dan sev.

Pani Puri Modern

Di beberapa kota besar di India seperti Mumbai ternyata memiliki variasi dari pani puri yang unik-unik. Misanya ada yang disebut Fire Pani Puri ini adalah jenis pani puri yang lebih besar dengan isian bahan yang lebih beragam. Pertama pani puri diisi dengan aloo yang dibumbui dengan puris lalu ditambahkan dahi (curd), chutney pedas dan chutney asam manis.

Sebagai topping dari Fire Pani Puri ditambahkan juga sev renyah, kelapa kering, bumbu warna warni, bahkan api kecil yang menyala untuk membuat Fire Pani Puri lebih menarik. Tak hanya itu, ada juga pani puri yang berada di Hoppipola, dengan menggunakan isian keju serta keripik khas daerah yang biasa disajikan di outlet khusus. Yang lebih unik, pani puri juga kini dipadukan dengan es krim, udang, dan makanan laut lain yang memberikan rasa baru terhadap jajanan tradisional ini.

Nah sudah tahu kan, apa itu pani puri? Saat ini memang pani puri memiliki beragam variasi yang tidak terbatas mulai dari cara penyajiannya, bahan yang digunakan, serta variasi tempat penjualnya yang tidak hanya dijajakan oleh penjual kaki lima saja. Dengan demikian, pani puri dapat lebih disukai dan menjangkau masyarakat yang lebih luas, termasuk para wisatawan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *