6 Fakta Menarik Tentang Sejarah Jalur Sutra

6 fakta menarik sejarah jalur sutra

Jalur Sutra adalah jalur perdagangan yang membentang dari wilayah sekitar China hingga Eropa Timur. Jalur ini tercatat telah eksis sejak tahun 130 Sebelum Masehi, yaitu pada masa kekuasaan Dinasti Han.

Diketahui jika jalur ini juga sangat berpengaruh pada kehidupan orang-orang Korea dan Jepang tempo hari. Jalur ini sendiri mendapatkan namanya dari seorang ahli geografi berkebangsaan Jerman, yaitu Ferdinand Von Richthofen pada abad ke-19.

Tercatat jika Jalur Sutra tetap eksis hingga penaklukan Konstantinopel oleh Dinasti Ottoman pada tahun 1453, karena Dinasti Ottoman sendiri memblokir perdagangan dengan China untuk mengoptimalkan perekonomian lokal dan ekspansi wilayah yang semakin intens setelah itu.

Jalur Sutra sendiri dihubungkan oleh para pedagang, prajurit, pengelana, biarawan, pengelana sufi, dan suku-suku nomaden yang berpergian memakai karavan dan kapal laut. Sepanjang Jalur Sutra bagian darat, terdapat beberapa penginapan, yang jika dalam bahasa Turki disebut sebagai kervansaray.

Tidak hanya menjadi tempat peristirahatan, namun penginapan-penginapan ini juga menyediakan hewan-hewan baru yang segar dan siap untuk berjalan jauh, agar para pedagang dan pengelana bisa berpergian dengan leluasa.

Rute darat dari Jalur Sutra sendiri dimulai dari Chang’a, yang kini menjadi Xi’an di China, hingga menuju wilayah Antioch yang kini lebih dikenal sebagai salah satu kota di Turki yang berbatasan langsung dengan Suriah, yaitu Hatay atau Antakya.

6 fakta menarik tentang sejarah jalur sutra

Meskipun dinamai sebagai jalur, namun nyatanya para pedagang sangat sering mengambil jalur alternatif untuk beberapa alasan. Jalur Sutra sendiri sebenarnya hanyalah rute untuk menuju ke kota lain, sehingga tantangan dalam perjalanan juga sangat tinggi dan beragam.

Untuk menghemat biaya, para pedagang dan pengelana juga hanya akan menelusuri jalur ini hingga tujuan mereka tercapai, entah itu barang dagangan yang telah habis, atau karena para pengelana telah sampai di sebuah tempat. Dengan rentetan sejarah yang panjang, berikut ini adalah 6 fakta menarik dari Jalur Sutra, yang merupakan jalur perdagangan yang paling terkenal di masa lalu.

Memiliki Banyak Rute

Selain jalur utama yang mulai dari Chang’a, Jalur Sutra kuno juga memiliki dua jalur alternatif lainnya. Seperti halnya rute laut dan rute utara. Rute laut sendiri berawal dari kota-kota pelabuhan di China seperti Guangzhou, yang kebanyakan akan mengarah ke selatan dan seluruh dunia, serta Shanghai yang menjadi salah satu kota pelabuhan yang dekat dengan Jepang dan wilayah selatan Semenanjung Korea.

Diketahui jika rute laut ini lebih sering dipakai untuk mengangkut rempah-rempah dan komoditas lainnya yang berasal dari bumi bagian selatan, termasuk dari wilayah timur Afrika, Persia, dan Semenanjung Arabia.

Rute laut sering dipakai untuk mempersingkat perjalanan menuju Konstantinopel. Dari sana, barang-barang akan kembali berlayar ke wilayah Eropa dari Athena, Venesia dan Roma.

Sementara itu, rute utara lebih sering dipakai oleh orang-orang Romawi. Dari Xi’an, orang yang mengambil lajur utara akan mengarah ke Provinsi Gansu, dan menuju Gurun Taklamakan di Uighur, lalu berlanjut ke Kota Kashgar.

Dari sana, orang-orang akan melintasi kota Turpan, Talgar, dan Almaty yang merupakan sebuah kota di tenggara Kazakhstan. Perjalanan berlanjut melalui Kokand di sekitar Lembah Fergana, lalu melaju lagi ke barat hingga melintasi Gurun Karakum di Turkmenistan.

Dari sana, orang-orang akan berlayar dari Laut Aral ke Laut Kaspia, kemudian melalui Semenanjung Krimea, lalu berlayar lagi ke Laut Hitam untuk mencapai Konstantinopel atau Istanbul. Selepas itu, orang-orang bisa kembali berlayar ke wilayah Eropa melalui Athena atau Venesia.

Sementara itu, jalur selatan terkenal sebagai jalur tunggal menuju Pegunungan Karakoram yang menguras tenaga. Pegunungan ini sendiri menghubungkan China, India, dan Pakistan sekaligus.

Dari Pakistan, untuk mereka yang akan melanjutkan perjalanan, akan melaju ke wilayah Pegunungan Hindukush dan Afghanistan. Rute lanjutannya adalah melalui Merv, sebuah kota kuno di Turkmenistan.

Rute ini lalu berlanjut ke wilayah utara Iran, Mesopotamia, hingga menuju kawasan Levant, yaitu kawasan Suriah, Yordania, dan Palestina. Selain memakai jalur laut yang biasanya dipakai oleh para pedagang dari Venesia, perjalanan bisa berlanjut ke wilayah Anatolia atau Benua Afrika.

Bukan Jalur Perdagangan Semata

Jalur Sutra bukanlah jalur eksklusif yang hanya dipakai untuk berdagang dan barter atau saling bertukar barang. Jalur ini juga tidak hanya dikembangkan oleh para pedagang. Para biarawan, pengelana, serta prajurit turut mengembangkan rute yang menghubungkan Asia dan Eropa ini.

Walhasil, tidak hanya barang dagangan yang terus bergerak selama ratusan tahun. Namun kebudayaan, teknologi, ilmu pengetahuan, agama, serta adat istiadat terus bergerak seiring berjalannya waktu.

Seperti halnya Paham Konfusius yang merebak dan menjadi paham di Semenanjung Korea selama berabad-abad lamanya. Ataupun ekspedisi Dinasti Ottoman ke Aceh pada masa Sultan Suleyman Al-Qanuni. Meski saat itu Jalur Sutra telah ditutup, namun para pelaut di masa Ottoman tentu paham tentang kondisi lautan di timur. Sendi-sendi kehidupan dan budaya terus bergerak dengan kehadiran Jalur Sutra, bahkan hingga saat ini dengan proyek OBOR, atau kepanjangannya One Belt One Ring.

Rute Perdagangan dan Barter

6 fakta menarik tentang sejarah jalur sutra rute perdagangan dan barter

Jalur Sutra banyak digunakan oleh para pedagang untuk memasarkan barangnya ke negeri-negeri asing. Rata-rata dari mereka hanya akan menyusuri Jalur Sutra hingga barang dagangannya habis, ataupun barang dagangannya telah sampai di tangan pedagang lain yang membelinya.

Kebanyakan pedagang China akan menjual porselen dan kain sutra. Sementara para pedagang yang baru saja menepi di wilayah Nusantara dan India akan membawa rempah-rempah, kayu gaharu, serta berbagai barang berharga lainnya. Setiap wilayah dipastikan memiliki komoditas khusus yang layak untuk diperjual belikan secara internasional.

Selain berdagang, para pedagang juga akan melakukan praktik barter atau menukar barang yang dimilikinya dengan barang lain yang tengah dicari. Jika semua tujuan mereka telah tercapai, para pedagang cenderung akan kembali ke negerinya masing-masing guna mempersiapkan diri untuk perjalanan panjang berikutnya.

Samarkand, Pusat dari Jalur Sutra

Kota ini merupakan salah satu kota terbesar dan tertua di Uzbekistan. Hingga detik ini, Samarkand terkenal dengan bangunan-bangunan kuno yang memiliki arsitektur fantastis dan rumit. Tercatat jika kota ini adalah salah satu kota tertua di Asia Tengah yang memiliki sejarah panjang.

6 fakta menarik tentang sejarah jalur sutra samarkand pusat dari jalur sutra

Pada masa lalu, Samarkand menjadi tempat berkumpulnya para pedagang China. Kota ini juga menjadi persinggahan sebelum para pedagang China melanjutkan perjalanannya ke Eropa, Afrika, atau hanya sekedar sampai ke sekitar wilayah Anatolia dan Levant. Kota ini juga terkenal karena menjadi tempat tinggal para ahli astronomi, tukang kayu, serta ahli-ahli lain yang bisa menghasilkan komoditas yang khas dan memiliki nilai jual yang layak.

Jalur Sutra yang Berbahaya

Sebagai rute perjalanan yang paling termasyhur di masanya, tentu Jalur Sutra sangat rawan dengan berbagai macam gangguan. Entah itu gangguan yang berasal dari manusia atau alam, semuanya bisa mengganggu perjalanan bagi para pelancong.

Jalur dengan panjang sekitar 6500 kilometer ini memiliki berbagai kondisi alam yang menantang dan menguras energi bagi mereka yang berpergian jauh. Belum lagi para pelancong harus bersiap dengan bandit-bandit yang mengintai.

Keberadaan mereka sendiri membuat para pedagang lebih banyak bergerak sebagai kafilah. Atau untuk para pedagang kaya, mereka akan menyewa beberapa pengawal untuk mengawal barang dagangan dan diri mereka sendiri dari ancaman bandit.

Di rute selatan dari Jalur Sutra, para pelancong harus bersiap dengan hawa pegunungan yang dingin. Semakin tinggi posisi dari permukaan laut, maka oksigen juga akan semakin menipis.

Sementara di rute utara, mereka harus bersiap dengan udara kering dari gurun pasir yang sudah terasa sejak kota-kota yang berdekatan dengan gurun. Ketika musim panas tiba, suhu di kota-kota tersebut bisa sangat kering dan panas.

Secara keseluruhan, para pelancong haruslah tetap waspada dengan kemungkinan bencana alam seperti banjir, tanah longsor, badai, ataupun badai pasir. Untuk mereka yang berani berpergian ketika musim dingin, maka mereka juga harus bersiap dengan udara dingin yang menusuk tulang dan kemungkinan terjebak badai salju yang merepotkan.

Disebut sebagai Awal dari Black Death

Black Death sendiri merupakan wabah yang telah beberapa kali melanda dunia, khususnya Benua Eropa. Namun kejadian terbesar dari wabah penyakit pes ini adalah pada tahun 1346 hingga tahun 1351. Dalam waktu lima tahun itu, estimasi korban jiwa tembus pada angka 200 juta jiwa. Angka ini merupakan angka yang sangat besar pada saat itu.

Banyak sejarawan yang mengatakan jika pes menyebar ke seluruh Eropa melalui kapal-kapal dagang orang Genoa, yang secara tidak sengaja turut mengangkut pinjal(sejenis serangga) dan beberapa hewan pengerat, yang kebanyakannya adalah tikus. Meskipun secara historis hewan pengerat adalah sebab bencana besar itu, tapi kini, hewan seperti kucing dan anjing juga memiliki kemungkinan untuk menularkan Pneumonic Plague ke manusia.

Pasien pertama dari wabah ini sendiri berada di Semenanjung Krimea, yang merupakan bagian dari rute utara Jalur Sutra. Wabah ini telah membunuh sekitar 60% populasi di Eropa, dan butuh waktu sekitar 200 tahun agar populasi Eropa kembali seperti sebelum terdampak oleh pes.

Karena secara teoritis, pes disebabkan oleh pinjal, yaitu semacam kutu hewan. Sebelum menginfeksi manusia melalui gigitannya, kutu ini telah menggigit hewan yang telah terinfeksi bakteri Yersina pestis. Penyakit ini sendiri memiliki tiga jenis, yaitu Bubonic Plague (pes kelenjar getah bening), Pneumonic Plague (pes paru-paru), dan Septicemic Plague (pes sel darah).

Selain melalui kutu hewan, penyebaran juga meluas melalui kutu manusia, atau kutu rambut, kontak dengan mayat hewan, lalu melalui kontak udara, khususnya dengan pengidap Pneumonic Plague.

Kebanyakan hewan yang terinfeksi bakteri itu sendiri adalah hewan pengerat yang bisa bertahan di lingkungan yang kotor, seperti halnya tikus. Dengan pengobatan zaman dulu, sangat jarang dokter yang bisa mengobati pes.

Mayoritas dokter yang menangani wabah ini di Eropa akan memakai topeng burung berwarna hitam, yang pada bagian paruhnya terdapat berbagai herbal untuk menyaring udara agar bebas dari bakteri dan virus.

Namun kini, penyakit pes bisa ditangani selama penanganan yang diterima pasien tepat sasaran dan cepat. Karena masa inkubasi dari penyakit ini sendiri sangat cepat, yaitu sekitar 2 hari atau 7 hari sebelum menunjukkan beberapa gejala yang biasanya akan datang secara sekaligus, dan menimbulkan rasa yang sangat tidak nyaman seperti halnya batuk darah, sesak napas, demam, pembengkakan kelenjar getah bening, dan lain sebagainya.

6 fakta menarik tentang sejarah jalur sutra

Terlepas dari berbagai sejarah dan faktanya yang variatif, tidak bisa dipungkiri jika Jalur Sutra telah menghubungkan nyaris seluruh dunia dengan proses perdagangan dan pertukaran barang atau barter. Selain itu, Jalur Sutra juga telah dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan lainnya, baik itu untuk eksplorasi wilayah, atau persebaran ilmu pengetahuan yang sangat luas dan banyak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *