10 Fakta Sejarah Serial Payitaht Abdul Hamid Han

Bersama dengan Diriliş Ertuğrul, serial Turki berjudul Payitaht Abdul Hamid II ini turut meraih pencapaian yang fantastis dalam kurun waktu penayangannya di Turki. Serial berjumlah 154 episode ini tidak hanya meraih popularitas nasional yang sensasional, tetapi turut menjadi salah satu serial Turki paling di kancah perfilman international.

Setidaknya hal ini bisa dibuktikan dengan banyaknya website yang menambahkan menambahkan subtitle untuk serial yang terbagi ke dalam lima musim ini. Bahkan stasiun televisi yang menyiarkannya, yaitu TRT yang merupakan stasiun televisi nasional Turki, kini mulai menambahkan subtittle bahasa Inggris untuk episode yang dirilis di salah satu kanal youtube yang berafiliasi dengan mereka.

Tapi di balik segala popularitas yang telah diraih, ada banyak sekali cerita yang tidak tersampaikan di dalam serial karena berbagai alasan. Mulai dari masalah kesesuaian waktu dengan kejadian aslinya, kisah nyatanya yang terlalu menyakitkan, atau karena kendala situasi seperti halnya pandemi Covid-19 yang memunculkan berbagai masalah lain. Dari sekian banyak fakta, setidaknya ada 10 fakta menarik dari serial yang menceritakan 13 tahun terakhir dari pemerintahan Sultan Abdul Hamid II ini.

Tumbuh Bersama Paman

Ada beberapa alasan mengapa Sultan Abdul Hamid II sangat memperhatikan anak yatim. Tapi salah satu alasan utamanya adalah karena beliau telah menjadi yatim piatu sejak kecil, dan lebih banyak menghabiskan waktunya untuk tumbuh bersama pamannya, Sultan Abdülaziz Han. Hal ini juga membuatnya memiliki perangai yang lemah lembut, mudah memaafkan, tetapi juga tegas jika diperlukan.

Sultan Abdul Hamid II diketahui kehilangan ibunya di usia 11 tahun, dan hanya berselang tiga tahun beliau harus kehilangan ayahnya, Sultan Abdülmecid Han yang menderita tuberkolosis.

Setelah itu Abdul Hamid diketahui diadopsi oleh Perestu Kadın, yang seharusnya menyandang gelar Haseki Sultan jika saja gelar itu belum dihancurkan. Abdul Hamid yang berakhir di dalam pengawasan pamannya juga diketahui sebagai kehendak dari Sultan Abdülmecid Han yang menyampaikannya secara empat mata.

Dalam asuhan pamannya, Abdul Hamid tumbuh sebagai remaja yang memiliki rasa penasaran yang besar. Beliau banyak menghabiskan waktunya untuk belajar dan membaca buku. Sultan Abdülaziz yang menyadari potensi keponakannya akhirnya sering membawa Abdul Hamid dalam perjalanan politik ke luar negeri.

Sehingga tidak aneh jika di dalam serial, Sultan Abdul Hamid diperlihatkan sangat mengagumi pamannya. Karena beliau sendiri mempelajari urusan kenegaraan langsung dari Sultan Abdülaziz Han. Di dalam serial juga diperlihatkan amarahnya yang besar saat berhadapan dengan sisa pengkhianat yang mengkudeta pemerintahan yang dipimpin oleh pamannya.

Kisah Traumatik Ulviye Sultan

Di dalam serial ini, Abdul Hamid pernah menceritakan mengenai kisah dari anak perempuan pertamanya yang sudah meninggal di usia 7 tahun karena sebuah kecelakaan karena bermain dengan korek api, Ulviye Sultan. Tercatat jika Ulviye Sultan adalah putri pertama yang didapatkan Abdul Hamid II dan Nazikeda Sultan, yang juga adalah istri pertama Abdul Hamid ketika masih menjadi pangeran atau Şehzade.

Kejadian ini juga membuat luka yang sangat dalam pada diri Abdul Hamid II. Bahkan ada catatan yang mengatakan jika luka yang disebabkan oleh kecelakaan itu adalah salah satu dari tiga kejadian traumatis dalam hidup Sultan Abdul Hamid yang tidak bisa padam hingga akhir hayat.

Tahsin Paşa

Hal yang perlu dicatat jika ingin mencari informasi tentang orang kepercayaan Sultan ini adalah, beliau bukanlah seseorang yang memiliki latar belakang militer. Hal ini sengaja penulis sebutkan karena akan muncul dua Tahsin di laman pencarian jika kita tidak teliti. Selain itu, Tahsin Paşa yang ada di serial dan di dunia nyata juga adalah orang Turki asli yang hanya bisa berbicara dalam bahasa Turki.

Meskipun tidak banyak yang bisa diulik tentang sahabat terbaik Sultan Abdul Hamid II ini, karena namanya juga baru naik ke permukaan setelah serial ini populer, tetapi setidaknya ada beberapa poin yang menarik untuk dibahas tentang kisah hidupnya.

Pertama, Tahsin Paşa di dunia nyata lebih muda dari Sultan Abdul Hamid II. Bahkan jarak usianya terpaut sampai 17 tahun. Rambutnya juga tidak mengalami “pemutihan dini” yang disebabkan oleh stress karena beban kerja.

Bahkan Tahsin Paşa sampai mendapatkan julukan Kara Tahsin karena penampilan dan karakternya yang tidak mengenal rasa takut. Karakter yang tidak mengenal rasa takutnya ini juga turut diperlihatkan dalam beberapa kesempatan di serial.

Fakta kedua, masih berkaitan dengan julukannya sebagai Kara Tahsin, beliau turut mendapat julukan sebagai Serhafiye, atau singkatnya Kepala Informan oleh Turki Muda. Padahal posisi ini telah dipercayakan pada Ahmet Celalettin Paşa yang memang seorang tentara. Alasan paling memungkinkan dari julukan ini adalah karena Tahsin Paşa selalu berada di dekat Sultan dan mengetahui berbagai rahasia yang bersifat vital, juga dirinya yang telah mendapatkan kepercayaan penuh dari Sultan.

Fakta ketiga adalah nasib Tahsin Paşa setelah secara paksa dilengserkan dari posisinya sebagai Mabeyn-i Hümayun Başkatıbı oleh Turki Muda. Beberapa catatan mengatakan beliau kembali ke rumahnya dan bertahan dengan menjual barang-barang antik di rumahnya, sebelum pada suatu hari beliau ditangkap dan diasingkan ke Pulau Chios bersama 4 Paşa lainnya yang merupakan loyalis Sultan Abdul Hamid II.

Pengasingan itu tidaklah bertahan lama, dan beliau diizinkan untuk kembali ke Istanbul meski ada yang mengatakan jika Tahsin Paşa dicabut kewarganegaraannya. Kemudian di era republik, Tahsin Paşa bertahan hidup dengan bekerja sebagai petugas di sebuah gudang tembakau hingga akhir hayatnya pada tahun 1930.

Damat Mahmud Paşa

Di dalam serial, adik ipar Sultan Abdul Hamid II ini menunjukkan peran yang beragam. Namun banyak fans yang lebih memilih karakternya saat berada di tengah-tengah serial karena alasan humor yang menggelitik perut. Namun akhirnya, Mahmud Paşa tetaplah mengisi perannya sebagai orang jahat, baik itu di serial ataupun di dunia nyata.

Di dunia nyata, sebenarnya tidak banyak informasi yang bisa diulik dari Mahmud Paşa. Tetapi perjalanan rumah tangganya bisa dikatakan selaras dengan serial, meski tentu tidak sepenuhnya. Sebelum menikahi Seniha Sultan dan dikaruniai dua putra, Mahmud Paşa memang tercatat pernah menikah satu kali dengan perempuan bernama Iffet Hanım.

Adik ipar Sultan Abdul Hamid II ini diketahui membelot dan melarikan diri ke Eropa bersama kedua putranya. Dari sana, Mahmud Paşa diketahui terus mendukung gerakan Turki Muda. Hal ini sontak membuatnya dipecat dan dijatuhi hukuman mati. Lalu di tahun 1903 Mahmud Paşa meninggal di Belgia dan sempat dikuburkan di sana sebelum dipindahkan ke Istanbul 5 tahun kemudian.

Kisah Nyata Para Şehzade

Jika dihitung sejak awal, ada 6 Şehzade atau pangeran yang muncul sejak awal serial ini dimulai, yaitu Şehzade Abdülkadir, Şehzade Burhanettin, Şehzade Mehmet Selim, Şehzade Nurettin, Şehzade Ahmet Nuri, dan terakhir yang paling muda adalah Şehzade Mehmet Abid.

Patut dicatat jika semuanya memiliki latar belakang militer yang bagus di dunia nyata, meskipun nanti setelah masa pengasingan keluarga kerajaan di tahun 1924, semuanya memiliki kehidupan dan keadaan finansial yang berbeda-beda.

Namun mayoritas dari para Şehzade ini diketahui bermasalah dengan keuangan, dan juga mengandalkan penghasilan dari aset milik Sultan Abdul Hamid II sebagai penopang dasar ekonomi. Untuk mengatur distribusi keuangannya, tercatat para Şehzade harus memberikan surat kuasa pada seorang pengacara Yahudi berkewarganegaraan Turki bernama Sami Günzberg.

Şehzade Ahmet Nuri bahkan diketahui meninggal karena kelaparan dan sakit di sebuah taman di Nice, Prancis. Tetapi hal ini tidak berlaku bagi Şehzade Burhanettin, mengingat dalam petualangannya, beliau pergi ke New York dan turut bekerja pada posisi tinggi di sebuah perusahaan minyak raksaksa dengan gaji $2000.

Sementara itu kakak tertuanya, Şehzade Mehmet Selim, bisa dikatakan sebagai pangeran dengan popularitas terbaik diantara lima saudaranya yang muncul di serial. Karena bahkan di era republik, atas persetujuannya juga, Şehzade Mehmet Selim dipercaya sebagai khalifah masa depan oleh anggota pemberontakan Syekh Sa’ad, meskipun sebenarnya beliau sama sekali tidak ambil bagian dalam pemberontakan ini.

Sementara di sisi lain, Şehzade Mehmet Abid yang masih muda dan bersemangat menghabiskan masa mudanya dengan menuntut ilmu di Universitas Sorbonne hingga meraih gelar master hukum, dan gelar sarjananya sendiri adalah sarjana ilmu politik. Beliau juga diketahui belajar bahasa Persia dan Arab di Ecole Nationale des Langues Oriantales Vivantes. Karena inilah beliau ditunjuk sebagai duta besar Albania untuk Prancis oleh Raja Zog I.

Hobi Sultan Abdul Hamid II

Sempat ada pernyataan yang cukup menggelitik namun nyata tentang hobi dari Sultan Abdul Hamid II ini. Karena kemampuan dan insting seninya dalam membuat furniture yang sangat mumpuni, Sultan Abdul Hamid II bisa saja menjadi miliarder jika tidak memiliki gelar Sultan. Bahkan laci meja kerjanya diketahui memiliki password yang hanya diketahui oleh beliau sendiri. Hasil karyanya yang lain juga masih terpampang dengan jelas di Yıldız Sarayı hingga saat ini.

Sultan Abdul Hamid II juga adalah pribadi yang hobi membaca. Di samping kepribadiannya yang agamis dan atletis karena menggeluti olahraga gulat, Sultan adalah sosok yang artistik karena menggemari novel-novel dengan genre misteri detektif, serta turut menggeluti dunia Opera sebagai penulis skrip. Sultan Abdul Hamid II bisa dikatakan sebagai fans dari Sir Arthur Conan Doyle dan Sarah Bernhardt.

Kisah Cinta Naime Sultan, Hatice Sultan dan Kemalettin Paşa

Sebenarnya banyak fans yang muak dengan kisah ini di musim kedua. Tetapi tim kreatif menayangkan kisah ini, dalam versi yang lebih diperhalus dan lebih masuk akal, yaitu dengan menjadikannya cinta segitiga sejak musim pertama, karena kisah ini adalah kisah nyata yang melibatkan orang-orang dengan status yang luar biasa.

Naime Sultan adalah putri sulung Sultan Abdul Hamid II dengan Bidar Kadın. Sementara Kemalettin Paşa, atau lengkapnya Ahmet Kemalettin Paşa adalah putra sulung dari Gazi Osman Nuri Paşa, yang merupakan seseorang yang dianggap sebagai pahlawan pada Pertempuran di Plevna. Pangkat yang dimiliki Osman Paşa juga diketahui setara dengan jenderal bintang lima di era modern.

Selain untuk membuat kisah ini lebih masuk akal, sebenarnya langkah tim produksi untuk membuatnya menjadi cinta segitiga juga dikarenakan oleh kisah perselingkuhan Hatice Sultan dan Kemalettin Paşa yang masih diperdebatkan.

Ada yang mengatakan jika keduanya berselingkuh dikarenakan Hatice Sultan yang ingin balas dendam pada Sultan Abdul Hamid II. Tetapi ada juga catatan yang menyebutkan jika kisah cinta keduanya hanyalah sebatas bertukar surat cinta. Namun terlepas dari segala perdebatan kisah nyatanya, karena tertangkap basah berselingkuh, Kemalettin Paşa akhirnya dipecat secara tidak hormat, tanda jasanya dihapuskan, dan diasingkan ke Bursa setelah Naime Sultan menceraikannya.

Percakapan yang Menyelamatkan Nyawa

Dalam serial ini, Sultan Abdul Hamid II diperlihatkan telah menghadapi banyak sekali percobaan pembunuhan dengan berbagai metode. Namun dari berbagai kisah percobaan pembunuhan, ada satu kisah percobaan pembunuhan yang direncanakan agar Sultan Abdul Hamid II sama sekali tidak bisa menghindar, dan sayangnya peristiwa bernama Yıldız Suikastı ini juga tidak ditunjukkan secara spesifik mengingat banyaknya orang yang akan terlibat. Setidaknya di kisah nyata, 26 orang meninggal dunia dan 58 orang terluka karena insiden ini.

Kejadian ini berlangsung di hari Jum’at yang cerah di musim panas sebelum waktu shalat Jum’at tiba. Seperti yang biasa dilakukan, Sultan Abdul Hamid II akan melangsungkan shalat Jum’at di Yıldız Camii, yang sebenarnya masih berada di dalam kompleks Yıldız Sarayı.

Tapi khusus di hari Jum’at, biasanya masyarakat akan berkumpul di masjid dan menunaikan shalat Jum’at bersama para penghuni istana. Setelah melaksanakan shalat Jum’at, Sultan Abdul Hamid II juga akan meninggalkan masjid di waktu yang hampir sama setiap minggunya.

Hal inilah yang dimanfaatkan oleh pelaku, karena pergerakan Sultan telah membentuk sebuah pola yang tetap. Namun saat hari percobaan pembunuhan, pola yang telah terbentuk itu seketika rusak karena Sultan yang tengah berbincang dengan Şeyhülislam di tengah perjalanannya menuju kereta kuda yang telah dipasangi bom di bagian bawahnya. Sehingga hanya dengan beberapa menit keterlambatan saja yang dikarenakan oleh sebuah perbincangan, nyawa yang berharga bisa terselamatkan dengan bantuan waktu.

Pengasingan di Selanik

Jika ada hal yang sedikit diperbaiki oleh tim produksi, maka itu adalah kondisi di Villa Allatini, yang menjadi lebih manusiawi. Sultan Abdul Hamid II adalah Sultan pertama yang diasingkan ke luar negeri setelah diturunkan dari takhta. Padahal sebelumnya beliau telah meminta izin untuk dibiarkan tinggal di Istana Çırağan, yang juga sempat menjadi tempat tinggal Sultan Murad V dan keluarganya hingga akhir hayat. Tapi pihak İttihat ve Terakki berkeras dan tidak mengizinkan Sultan tinggal di sana.

Pihak produksi sengaja memperbaiki kondisi Villa Allatini dengan menambahkan sebuah sofa dan kain putih, serta menampilkan kondisi ruangan yang layak, karena ketika ditinggali oleh Sultan dan keluarganya yang turut diasingkan ke Selanik, Villa Allatini berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan dan bisa dikatakan sangat buruk untuk ditinggali bahkan oleh orang biasa sekalipun.

Bahkan ada pernyataan yang menggambarkan jika saat itu Villa Allatini lebih mirip gudang reyot kosong yang dipenuhi tikus dengan sistem pengairan yang buruk. Sebagai tahanan rumah, Sultan dan keluarganya bertahan hidup dengan makanan berkualitas rendah yang diberikan penjaga.

Namun untungnya pada tahun 1912, Sultan Abdul Hamid II dan keluarganya yang ikut diasingkan dipindahkan ke Istana Beylerbeyi yang terletak di garis pandai distrik Üsküdar karena keadaan Selanik yang memanas. Setidaknya dengan kepindahannya ke Istanbul, Sultan Abdul Hamid II bisa merasa lebih nyaman dan tenang meskipun statusnya masihlah tahanan rumah. Diketahui jika kegiatannya selama di Istana Beylerbeyi telah terpola di antara membuat furniture, membaca, dan lain sebagainya.

Kisah Sakratul Maut

Sebenarnya kondisi yang digambarkan oleh tim produksi nyaris mencapai kata sempurna. Tetapi ada sedikit kisah menyedihkan dari keluarga dan kenalannya yang tidak sempat mengucapkan selamat tinggal, mengingat Sultan Abdul Hamid II adalah sosok penting dalam hidup banyak orang.

Tapi ada sebuah catatan yang mengatakan jika tidak ada anak-anaknya yang berkesempatan untuk mendampingi saat-saat terakhir Sultan. Bahkan Şehzade Mehmet Selim dan Şehzade Ahmet Nuri, yang lebih awal diberitahu oleh Sultan Mehmet Reşat tentang kondisi ayanya dan juga memang berada di Istanbul, masuk ke kamar Sultan Abdul Hamid II ketika beliau tengah menghembuskan napas terakhir.

Meskipun serial dengan genre utama sejarah ini memiliki cukup banyak kekurangan, tetapi serial ini menawarkan berbagai sisi positif yang dapat kita ambil dan terapkan dalam kehidupan nyata. Lagipula semua itu dikemas secara apik dan membuat kita tidak bosan menontonnya.

Promo Diskon Cairo Food

Seperti halnya kisah persahabatan antara Sultan Abdul Hamid II dan Tahsin Paşa, ataupun tentang bagaimana Sultan Abdul Hamid II yang selalu berusaha untuk menyelaraskan kehidupannya sebagai pemimpin sebuah negara serta perannya sebagai seorang ayah yang baik, sekalipun tentunya hal itu tidak selalu berjalan dengan lancar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *